Oleh: Jonathan L Parapak
Sandiwara spiritualitas rupanya sudah marak dari zaman dulu. Lihat saja Raja Herodes yang katanya ingin menyembah "Bayi yang lahir itu"--padahal, ia ingin membunuh-Nya. Atau pemuka agama yang kalau berdoa mengambil tempat di rumah ibadat dan tikungan jalan, supaya mereka dilihat orang (Matius 6:5-15). Mereka berpuasa dengan pameran "muka muram" agar kelihatan berpuasa!
Kalau kini kita menyaksikan doa politik, doa bersama berbagai umat, apakah juga bagian dari pamer kesalehan kita? Memang soal sandiwara spiritualitas ini banyak bentuknya sekarang ini. Di daerah yang aman, kita lihat para umat dengan pakaian khas pergi gereja, menjinjing Alkitab, kadang dengan mudah terbaca sepertinya ada pengumuman: "Lihat aku saleh, aku rajin ke gereja." Sementara itu, di daerah yang tidak aman, di KTP tetulis "agamanya lain" pun tak dipersoalkan!
Begitu banyaknya simbol-simbol keberagaman yang sudah cenderung menjadi "sandiwara keagamaan". Jumlah gereja di suatu tempat, telah menjadi ukuran utama kehidupan beragama di tempat itu. Jumlah pengunjung ritual dan perayaan keagamaan, merupakan ukuran kesalehan masyarakatnya, tidak peduli banyaknya penjudi, pemakai narkoba dan pelacuran dalam masyarakat, dan pola hidup kesombongan dan gengsi-gengsian.
Apakah ini berarti kita semakin sukses bersandiwara? Kalau kita amati penampilan ritual kehidupan beragama para pejabat atau pengusaha, kita bangga dipimpin oleh orang-orang saleh. Namun pada saat kita membaca penilaian lembaga-lembaga asing, tentang peradilan kita, kita heran mengapa negeri tercinta termasuk yang terkorup dan sistem peradilan kita termasuk yang paling jelek di dunia (Kompas, 15 Juli 2002).
Kita bangga dengan kehidupan kerukunan beragama, kesantunan masyarakat kita, kesalehan umat beragama kita. Namun dengan peristiwa yang relatif kecil cepat membesar menjadi bentrokan, kerusuhan bahkan sepertinya perang antar agama, apakah ini berarti kerukunan kita, kesalehan kita hanyalah sebatas sandiwara belaka?
Kita dapat terus membuat daftar panjang yang mendorong kita bertanya mengapa begitu marak sandiwara spiritualitas di tengah kita? Pasti banyak jawaban yang dapat dikemukakan, yang mendorong kita bertanya terus:
* Apakah ritual dan simbol-simbol agamawi sudah kita pakai sebagai kendaraan gengsi sosial dan pengaruh politik?
* Apakah penghayatan spiritualitas kita sudah melumpuhkan karakter kemanusiaan kita sehingga kita tidak lagi mampu bertanya secara kritis, hanya bisa ikut arus dan mudah tenggelam dalam gerakan massa?
* Apakah spiritualitas kita hanya terbatas pada pengetahuan tentang agama kita, ritualitas, dan aturannya, sehingga substansi keimanan dan hubungan dengan Sang Pencipta, sesungguhnya hampa dan keropos?
Banyak pertanyaan yang harus kita jawab. Beberapa yang dikemukakan di sini adalah contoh rangsangan untuk kita renungkan dan dan cermati. Penulis ingin mengangkat beberapa contoh yang disoroti oleh Tuhan Yesus sendiri. Cara berdoa misalnya (Matius 6:5-15). Doa adalah komunikasi antara kita yang berdoa dengan Allah yang Mahatahu, Makakasih, dan Mahakuasa. Tidak mungkin kita bersandiwara di hadapan-Nya. Dia Mahatahu, termasuk mengetahui sikap kita, motivasi kita, kebutuhan kita. Oleh karena itu, bersandiwara dengan doa, atau pamer doa, adalah suatu kebodohan kita. Mari kita ikuti saja saran Tuhan Yesus, yang menekankan ketulusan, kejujuran, kemurnian motivasi. Tak perlu pamer, masuk kamar, kunci pintu, dan berkomunikasi (berdoa) apa adanya dengan Sang Bapa, Allah yang Mahatahu, Mahakuasa, dan Mahakasih.
Mari kita mawas diri dan uji motivasi kita dalam keterlibatan kita di gereja, persekutuan, atau pelayanan tertentu. Jangan sampai kesalehan kita adalah perpanjangan ego dan gengsi kita--sepertinya Tuhan tidak bisa berbuat tanpa kita.
Spiritualitas yang holistik yang dituntut Tuhan dari kita adalah dalam ketulusan, kejujuran, dan kemurnian kita membuka diri bagi Tuhan. Dialah yang menuntut kita dalam komunikasi kita dengan Dia; dalam kita diperkenan menjadi alat bagi-Nya; dalam kita berupaya hidup dalam satunya kata dan perbuatan, sehingga tak ada ruangan sandiwara dalam hidup kita, dan yang nyata bagi mereka di sekeliling kita adalah spiritualitas yang holistik, kehidupan yang memancarkan kebenaran, ketulusan, keadilan, kepedulian, cinta kasih yang tak bersyarat.
Kalau kita mampu mewujud-nyatakannya secara konsisten, kita doakan kiranya Tuhan semakin dimuliakan dalam hidup kita, dan sandiwara kita diubah menjadi pikiran, perkataan, dan perbuatan yang semuanya merupakan persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Tuhan (Roma 12:1).
Kalau kini kita menyaksikan doa politik, doa bersama berbagai umat, apakah juga bagian dari pamer kesalehan kita? Memang soal sandiwara spiritualitas ini banyak bentuknya sekarang ini. Di daerah yang aman, kita lihat para umat dengan pakaian khas pergi gereja, menjinjing Alkitab, kadang dengan mudah terbaca sepertinya ada pengumuman: "Lihat aku saleh, aku rajin ke gereja." Sementara itu, di daerah yang tidak aman, di KTP tetulis "agamanya lain" pun tak dipersoalkan!
Begitu banyaknya simbol-simbol keberagaman yang sudah cenderung menjadi "sandiwara keagamaan". Jumlah gereja di suatu tempat, telah menjadi ukuran utama kehidupan beragama di tempat itu. Jumlah pengunjung ritual dan perayaan keagamaan, merupakan ukuran kesalehan masyarakatnya, tidak peduli banyaknya penjudi, pemakai narkoba dan pelacuran dalam masyarakat, dan pola hidup kesombongan dan gengsi-gengsian.
Apakah ini berarti kita semakin sukses bersandiwara? Kalau kita amati penampilan ritual kehidupan beragama para pejabat atau pengusaha, kita bangga dipimpin oleh orang-orang saleh. Namun pada saat kita membaca penilaian lembaga-lembaga asing, tentang peradilan kita, kita heran mengapa negeri tercinta termasuk yang terkorup dan sistem peradilan kita termasuk yang paling jelek di dunia (Kompas, 15 Juli 2002).
Kita bangga dengan kehidupan kerukunan beragama, kesantunan masyarakat kita, kesalehan umat beragama kita. Namun dengan peristiwa yang relatif kecil cepat membesar menjadi bentrokan, kerusuhan bahkan sepertinya perang antar agama, apakah ini berarti kerukunan kita, kesalehan kita hanyalah sebatas sandiwara belaka?
Kita dapat terus membuat daftar panjang yang mendorong kita bertanya mengapa begitu marak sandiwara spiritualitas di tengah kita? Pasti banyak jawaban yang dapat dikemukakan, yang mendorong kita bertanya terus:
* Apakah ritual dan simbol-simbol agamawi sudah kita pakai sebagai kendaraan gengsi sosial dan pengaruh politik?
* Apakah penghayatan spiritualitas kita sudah melumpuhkan karakter kemanusiaan kita sehingga kita tidak lagi mampu bertanya secara kritis, hanya bisa ikut arus dan mudah tenggelam dalam gerakan massa?
* Apakah spiritualitas kita hanya terbatas pada pengetahuan tentang agama kita, ritualitas, dan aturannya, sehingga substansi keimanan dan hubungan dengan Sang Pencipta, sesungguhnya hampa dan keropos?
Banyak pertanyaan yang harus kita jawab. Beberapa yang dikemukakan di sini adalah contoh rangsangan untuk kita renungkan dan dan cermati. Penulis ingin mengangkat beberapa contoh yang disoroti oleh Tuhan Yesus sendiri. Cara berdoa misalnya (Matius 6:5-15). Doa adalah komunikasi antara kita yang berdoa dengan Allah yang Mahatahu, Makakasih, dan Mahakuasa. Tidak mungkin kita bersandiwara di hadapan-Nya. Dia Mahatahu, termasuk mengetahui sikap kita, motivasi kita, kebutuhan kita. Oleh karena itu, bersandiwara dengan doa, atau pamer doa, adalah suatu kebodohan kita. Mari kita ikuti saja saran Tuhan Yesus, yang menekankan ketulusan, kejujuran, kemurnian motivasi. Tak perlu pamer, masuk kamar, kunci pintu, dan berkomunikasi (berdoa) apa adanya dengan Sang Bapa, Allah yang Mahatahu, Mahakuasa, dan Mahakasih.
Mari kita mawas diri dan uji motivasi kita dalam keterlibatan kita di gereja, persekutuan, atau pelayanan tertentu. Jangan sampai kesalehan kita adalah perpanjangan ego dan gengsi kita--sepertinya Tuhan tidak bisa berbuat tanpa kita.
Spiritualitas yang holistik yang dituntut Tuhan dari kita adalah dalam ketulusan, kejujuran, dan kemurnian kita membuka diri bagi Tuhan. Dialah yang menuntut kita dalam komunikasi kita dengan Dia; dalam kita diperkenan menjadi alat bagi-Nya; dalam kita berupaya hidup dalam satunya kata dan perbuatan, sehingga tak ada ruangan sandiwara dalam hidup kita, dan yang nyata bagi mereka di sekeliling kita adalah spiritualitas yang holistik, kehidupan yang memancarkan kebenaran, ketulusan, keadilan, kepedulian, cinta kasih yang tak bersyarat.
Kalau kita mampu mewujud-nyatakannya secara konsisten, kita doakan kiranya Tuhan semakin dimuliakan dalam hidup kita, dan sandiwara kita diubah menjadi pikiran, perkataan, dan perbuatan yang semuanya merupakan persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Tuhan (Roma 12:1).
No comments:
Post a Comment