Oleh: Jonathan Parapak
Raja dan ratu sehari adalah julukan yang sering kita pakai untuk pengantin di Indonesia. Mereka dirias begitu hebat, sehingga sering sekali kita tidak lagi mengenali orangnya. Sungguh suatu sandiwara kemegahan atau kecantikan untuk dipamer bagi kehadiran tamu yang kadang-kadang jumlahnya sampai beberapa ribu orang. Lebih parah lagi, kadang kita dengar mereka dinikahkan karena "kecelakaan".
Suasana yang demikian, sungguh menyedihkan, kalau kita simak bagaimana Allah merancang pernikahan. Bagaimana Adam begitu bahagia menyambut Hawa. "Ini dia, tulang dari tulangku, daging dari dagingku". Dan bagaimana Tuhan mengamanatkan, ".dan mereka menjadi satu daging" dan "Apa yang dipersatukan oleh Tuhan jangan sampai diceraikan manusia".
Pernikahan dirancang Tuhan untuk kebahagiaan manusia dan kemuliaan Tuhan. Dapatkah kita bayangkan bagaimana sedihnya Tuhan, melihat pasangan yang terpaksa dinikahkan; melihat pasangan yang menikah dengan motif uang, jabatan, atau hanya karena terpesona kecantikan lahiriah, yang mungkin adalah ramuan salon atau kedokteran.
Kita sedih menyaksikan bagaimana "nilai cinta kasih" oleh banyak film sudah direndahkan hanya pada tataran hubungan seks dan ketertarikan fisik. Manusia secara fisik mengalami perubahan karena umur, maka sulit membayangkan pernikahan yang langgeng hanya karena daya tarik kecantikan fisik.
Pada zaman orde baru, sering juga kita dengar seorang pejabat tampil dengan istri yang katanya hanya untuk konsumsi publik. Kenyataannya mereka tidak lagi saling mencintai. Kalau ketahuan ada istri muda, maka pejabat yang bersangkutan akan menghadapi masalah jabatan. Suasana ini pun hanyalah suatu "sandiwara pernikahan" untuk maksud tertentu. Sangat menyedihkan!
Ada lagi cerita lain. Di suatu daerah wisata, banyak dijumpai perempuan yang menikah dengan orang asing. Katanya pernikahan itu sah, tetapi hanya berumur 3 minggu atau sebulan. Kita bisa terka motivasi pernikahan yang demikian.
Memang dalam dunia ini kita dapati begitu banyak sandiwara yang terkait dengan pernikahan. Lebih memprihatinkan lagi "kumpul kebo" semakin biasa, sehingga lembaga pernikahan, mulai banyak dipertanyakan.
Fenomena ini cukup merisaukan, menjadi tantangan bagi kita, bagi masyarakat kita dan bagi gereja! Kalau kita peduli, maka para keluarga kristiani seyogianya dipersiapkan untuk menghadapi tantangan-tantangan sekuler, melalui pelayanan keluarga, penyiapan pemuda-pemudi menghadapi pernikahan, dan pemberdayaan keluarga-keluarga muda agar mereka siap menghadapi tantangan dan menikmati pernikahan mereka yang diperkaya dan diberkati Tuhan, sehingga keluarga mereka adalah keluarga yang memuliakan Tuhan.* 030304
Raja dan ratu sehari adalah julukan yang sering kita pakai untuk pengantin di Indonesia. Mereka dirias begitu hebat, sehingga sering sekali kita tidak lagi mengenali orangnya. Sungguh suatu sandiwara kemegahan atau kecantikan untuk dipamer bagi kehadiran tamu yang kadang-kadang jumlahnya sampai beberapa ribu orang. Lebih parah lagi, kadang kita dengar mereka dinikahkan karena "kecelakaan".
Suasana yang demikian, sungguh menyedihkan, kalau kita simak bagaimana Allah merancang pernikahan. Bagaimana Adam begitu bahagia menyambut Hawa. "Ini dia, tulang dari tulangku, daging dari dagingku". Dan bagaimana Tuhan mengamanatkan, ".dan mereka menjadi satu daging" dan "Apa yang dipersatukan oleh Tuhan jangan sampai diceraikan manusia".
Pernikahan dirancang Tuhan untuk kebahagiaan manusia dan kemuliaan Tuhan. Dapatkah kita bayangkan bagaimana sedihnya Tuhan, melihat pasangan yang terpaksa dinikahkan; melihat pasangan yang menikah dengan motif uang, jabatan, atau hanya karena terpesona kecantikan lahiriah, yang mungkin adalah ramuan salon atau kedokteran.
Kita sedih menyaksikan bagaimana "nilai cinta kasih" oleh banyak film sudah direndahkan hanya pada tataran hubungan seks dan ketertarikan fisik. Manusia secara fisik mengalami perubahan karena umur, maka sulit membayangkan pernikahan yang langgeng hanya karena daya tarik kecantikan fisik.
Pada zaman orde baru, sering juga kita dengar seorang pejabat tampil dengan istri yang katanya hanya untuk konsumsi publik. Kenyataannya mereka tidak lagi saling mencintai. Kalau ketahuan ada istri muda, maka pejabat yang bersangkutan akan menghadapi masalah jabatan. Suasana ini pun hanyalah suatu "sandiwara pernikahan" untuk maksud tertentu. Sangat menyedihkan!
Ada lagi cerita lain. Di suatu daerah wisata, banyak dijumpai perempuan yang menikah dengan orang asing. Katanya pernikahan itu sah, tetapi hanya berumur 3 minggu atau sebulan. Kita bisa terka motivasi pernikahan yang demikian.
Memang dalam dunia ini kita dapati begitu banyak sandiwara yang terkait dengan pernikahan. Lebih memprihatinkan lagi "kumpul kebo" semakin biasa, sehingga lembaga pernikahan, mulai banyak dipertanyakan.
Fenomena ini cukup merisaukan, menjadi tantangan bagi kita, bagi masyarakat kita dan bagi gereja! Kalau kita peduli, maka para keluarga kristiani seyogianya dipersiapkan untuk menghadapi tantangan-tantangan sekuler, melalui pelayanan keluarga, penyiapan pemuda-pemudi menghadapi pernikahan, dan pemberdayaan keluarga-keluarga muda agar mereka siap menghadapi tantangan dan menikmati pernikahan mereka yang diperkaya dan diberkati Tuhan, sehingga keluarga mereka adalah keluarga yang memuliakan Tuhan.* 030304
No comments:
Post a Comment