Saturday, November 15, 2008

SANDIWARA NATAL


Oleh Jonathan L Parapak

Membaca judul di atas, kita langsung akan berpikir, pasti tulisan ini tentang sandiwara kelahiran Yesus, ada kandang domba, Maria dan Yusuf, gembala dan malaikat. Wah itu sih yang biasa, dan sudah mengglobal. Sandiwara itu sederhana, mudah dipahami. Intinya selalu terfokus pada "Yesus Kristus" yang lahir dalam keprihatinan di kandang domba.



Ada banyak sandiwara Natal yang jauh lebih marak, gemerlapan, canggih, dan pemerannya pun tak tanggung-tanggung. Sebut saja "Sandiwara Pesta Natal". Marak dan gemerlapan di istana-istana meriah dan sungguh mempesona di hotel-hotel, besar-besaran di berbagai gedung, dan banyak lagi. Mengapa pesta-pesta yang gemerlapan ini, tidak lain dari suatu sandiwara? Memang banyak dana dikeluarkan, panitia super sibuk, tetapi pada umumnya "yang dirayakan kedatangan-Nya" tidak diberi tempat. Yang diagungkan adalah "kesenangan, kemewahan, keramaian, dan kemarakan". Memang pestanya adalah "sandiwara kenikmatan manusia", bahkan mungkin pesta pora saja.

Ada lagi sandiwara yang lain, yang satu ini tidak tahu asal muasalnya. Ada "Santa Klaus". Toko-toko besar marak gemerlapan, mempromosikan "barang baru" untuk hadiah Natal. Sebut sajalah "sandiwara hadiah." Bukankah sandiwara hadiah ini dorongan dan kreasi dunia usaha? Berlimpah ruahlah pertukaran hadiah dan pameran baju baru, mobil baru, barang baru. Yang untung adalah perusahaan, dan "Bayi Natal" itu disebut saja tidak!--Ia hilang ditelan kegemerlapan bisnis.

Kita jadi bertanya, masih adakah tempat bagi Natal yang murni yang tulus? Seorang pejabat bernatal dengan menolak kiriman parsel, agar jangan sampai ia juga terjerumus dalam sandiwara hadiah. Mungkinkah dia menikmati peristiwa Natal itu dan bukan sandiwaranya.

Seorang anak dalam kepolosannya menyiapkan bingkisan sederhana siap untuk dipersembahkan pada Yesus di hari Natal, menabung berbulan-bulan agar membeli sebuah Alkitab bagi ibunya sebagai tanda kasih sayang Natal.

Sekelompok orang desa merayakan natal dalam kesederhanaan dan ketulusan jauh dari gemerlapnya pesta-pesta Natal. Apakah mereka luput dari sandiwara pesta Natal? Mungkin ya, tetapi ada pula sandiwara lain, rutinisme, tradisi; karena kita yang di desa, kita yang tak punya, dengan mudah ikut arus rutinisme!

Masih adakah harapan untuk Natal sungguh-sungguh merupakan arak-arakan manusia menyambut Sang Juruselamat? Dia datang dalam kesederhanaan dan dalam suasana keprihatinan. Dia datang sebagai Juruselamat. Tetapi mengapa penyambutan bagi-Nya setiap tahun begitu, begini saja, sesudahnya tak ada ada perubahan?! Nyontek soal biasa di sekolah! Berselingkuh biasa saja, asal tak kelihatan! Kolusi tak terhindarkan, kalau tidak anak kita tak bisa sekolah! "UUD" jadi budaya untuk memenangkan tender! Wah, adakah hidup tanpa sandiwara? Kalau begitu apakah Natal membawa makna?

Semoga kita bukanlah aktor-aktor sandiwara Natal, tetapi pelaku-pelaku pesan Natal, perdamaian, penyelamatan, ketulusan, kebenaran, cinta kasih, kepedulian kepada yang terpinggirkan, yang tersisih, dan terlupakan.

Semoga peringatan Natal kita sungguh terpusat pada Dia yang lahir, datang, agar kita diselamatkan. Dan wujud dari ketulusan dan kesungguhan kita menyambut Dia sebagai Juruselamat, Raja Damai, sehingga kita bertekad mewujudnyatakan pembaruan dalam diri kita, pikiran kita, kata-kata kita, dan perilaku kita. Agar kita dipakai Tuhan untuk menggarami, menerangi, dan ikut membawa damai sejahtera. Natal bukanlah sandiwara, tetapi ia adalah Immanuel.

No comments:

Doa Hari Sabtu, 23 Mei 2026

Doa Hari Sabtu, 23 Mei 2026 DOA SYUKUR ATAS KENAIKAN KRISTUS Allah Bapa yang berdaulat penuh, kami bersyukur karena Engkau tela...