Thursday, November 06, 2008

Benarkah Menikah Didasari Oleh Kecocokkan ..

Tulisan dibawah ini saya ambil dari milis Metamorphe.

Oleh : Suzianty Herawati

Kalau dua-duanya doyan musik,
berarti ada gejala bisa langgeng...
Kalau sama-sama suka sop buntut
berarti masa depan cerah...(That simple?..... ...)



Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya. Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa?

MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya. Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya?

Harus ada "Komunikasi Dua Arah",
Ada kerelaan mendengar kritik,
Ada keikhlasan meminta maaf,
Ada ketulusan melupakan kesalahan dan
Keberanian untuk mengemukakan pendapat.

Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.
MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil.

MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan di mana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga.

Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama...

MENIKAH bukan didasari atas kesucian diri, tapi kesucian hati. Apalah artinya MENIKAH apabila tidak suci hati. Diri yang kotor dapat mudah diperbaiki, namun hati yang kotor tak mudah diperbaiki.

MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda.Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang lain...?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan pasangan hidup...??

MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk 'Menerima' dan 'Memaafkan'.

Dengan kata lain, MENIKAH merupakan penggabungan dua bagian yang saling berbeda untuk dicari kecocokannya, bagaikan mur dan baut, bukan persamaan yang dangkal, bukan pula persamaan yang terlihat indah di mata. Perbedaan harus dicari kecocokan bukan persamaan. Perpisahaan dengan alasan perbedaan adalah alasan yang naif, dan dibuat-buat.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tanggapan:

Oleh : Anthonious Tony

Jika pernikahan hanya dilihat dari kecocokan, entah itu karena mereka suka musik dan lain sebagainya, tanpa memandang kepada kekudusan, keseimbangan dan seiman, maka pernikahan itu akan mudah goyah. Cepat atau lambat, pasangan yang menikah dengan dasar kecocokan akan merasakan bahwa penikahan mereka kering. Jika demikian pasangan itu akan melakukan dua hal: yang pertama bertahan, atau yang kedua CERAI.

Tentu kita tidak ingin dilihat oleh masyarakat sebagai pasangan yang gagal di dalam pernikahan. Entah itu keluarga sendiri, atau orang tua atau kerabat, bahkan para majelis dan hamba-hamba Tuhan setempat. Karena itu, saya lebih setuju jika pernikahan harus dilandasi oleh pemahaman akan makna dan tujuan dibalik itu. Seperti yang dikatakan oleh Pdt. Sutjipto Subeno dalam seminar "The Beauty of Christian Marriage", beliau mengatakan: "Jika pernikahan hanya dilandasi oleh 'I Love U', maka pernikahan itu akan luntur cepat atau lambat. Makna dibalik sebuah pernikahan adalah: pria melambangkan Kristus dan wanita melambangkan jemaat." Tetapi boleh saya tambahkan, tujuan pernikahan adalah saling mengisi dan melengkapi. Kekuatan suami mengisi dan melengkapi kelemahan si istri. Juga, kekuatan si istri melengkapi kelemahan si suami.

Kekudusan hati juga penting, karena jika tidak memiliki kekudusan hati, maka tidak mungkin pasangan bisa menikmati pernikahan. Karena dengan kekudusan hati masing-masing pasangan sadar bahwa ia adalah milik si suami/istri. Jika tidak, maka orang itu tidak mungkin bisa memiliki hati yang takut akan Tuhan.Pikirkanlah semua itu. Karena pernikahan adalah lembaga yang Tuhan ciptakan melalui Adam dan Hawa, yang dimana Tuhan meletakkan dasar sebuah keluarga yang taat. Karena jika kita taat kepada pasangan kita, maka kita akan mampu taat kepada Tuhan.Kiranya Tuhan memberkati kalian yang akan menikah dan telah memiliki keluarga.

Kej 1:26-28; Kej 2:18-24; Mat 19:4-6; Mat 19:9-12; Mar 10:6-9; Mar 10:11-13; 1 Kor 7:32-40
~~~~~~~~~~~~~~~~
Tanggapan:
Oleh: Leonardi Setiono
Benar!

Menikah harus didasari atas Cinta dan juga kecocokan.

Pengertian kecocokan yang disampaikan inilah yang perlu diluruskan. Cocok itu bukan berarti dalam arti sama, misalkan seperti yang anda sebutkan suka musik, sama. Suka sup buntut, sama. Bukan demikian pengertian kecocokan.Kecocokan pasangan suami dan isteri adalah seperti yang digambarkan Allah dengan mengatakan "pasangan yang sejodoh" Calon suami dan isteri, harus merasa cocok satu dengan yang lain dalam seluruh kepribadian, sifat dan perilakunya. Sehingga dari awal sudah ada komitment untuk dibentuk bersama, saling menundukan diri dan saling mengkoreksi diri sehingga keduanya dapat disebut "menjadi satu daging".

Saya merasa cocok dengan isteri saya demikian juga dengan isteri saya merasa cocok dengan saya, karena apa yang saya lakukan ia dapat memakluminya dan mengkoreksinya jika salah, demikian sebaliknya. Kami dapat merasa saling menjaga dan saling menolong dalam setiap persoalan, walau kenyataan kami berbeda dalam selara, ia suka musik, saya tidak, ia suka ayam panggang, saya suka cah sayur, ia suka membaca buku, saya suka olah raga, masing-masing memiliki perbedaan, tetapi kami cocok sebagai "pasangan yang sejodoh" dalam menghadapi kehidupan ini didunia dihadapan Allah.Demikian menurut saya tentang harus ada kecocokan.

Sebab kalau sudah tidak cocok dalam hati tentang kesepakatan bersama, kepribadian, sifat dan perilakunya. Maka tentu mereka berdua tidak dapat berjalan bersama.

Can two walk together, except they be agreed? [Amos 3:3]
~~~~~~~~~~~~~~
Tanggapan:
Oleh: Kadek Astika
Perkenankan saya memberikan masukan mengenai esensi pernikahan dengan mengutif apa yang ditulis oleh Dr. Charlie W. Shedd. Dalam bukunya surat-surat kepada Philip (kalau tidak salah, atau surat-surat kepada Karen), beliau seolah menasehati anaknya yang siap memasuki kehidupan pernikahan. Beliau menasehati dengan mengatakan bahwa "Pernikahan itu bukan berarti mencari yang cocok tetapi lebih berarti menjadi yang cocok." Saya percaya bahwa Tidak ada orang yang cocok seratus persen dengan orang lain, karena Tuhan menciptakan manusia itu unik. Walaupun (kalau boleh dikatakan) anak kembar yang dikatakan seperti pinang dibelah dua, tetap mereka memiliki perbedaan yang perlu dihormati. Maaf kalau ternyata pandangan (saya) ini menyinggung perasaan saudara sekalian.

Regard,
Kadek

No comments:

Doa Hari Jumat, 3 April 2026

Doa Hari Jumat, 3 April 2026  (Jumat Agung)  Mengenang Salib Agung Kristus Allah Bapa Yang Mahakuasa dan Mahakudus...