Oleh: Jonathan Parapak
Pada hari-hari menjelang Natal, berbagai panti pelayanan panen hadiah. Panti asuhan banyak dikunjungi panitia natal instansi, perusahaan atau persekutuan doa. Anak-anak panti cukup sibuk, bahkan mereka lelah dipamer agar dapat diambil televisi, disiarkan untuk mengumandangkan bahwa panitia natal instansi tersebut peduli dan menyatakan ungkapan kasih kepada anak-anak di panti asuhan.
Kita syukuri adanya kepedulian dari berbagai pihak kepada anak-anak kita yang sangat membutuhkan cinta kasih; mereka perlu ditolong, dibantu agar menikmati cinta kasih dari sesama, yang mungkin langka mereka alami.
Pertanyaannya adalah apakah pemberian dan perhatian itu tulus sebagai ungkapan cinta kasih? Kalau hanya terjadi sekali setahun, kalau hanya dilakukan agar disiarkan oleh televisi atau ditulis oleh surat kabar, siapakah yang mendapatkan keuntungan? Oleh karena itu, banyak dari pemberian kita atau kepedulian kita mungkin hanyalah sebagai sandiwara cinta kasih saja.
Orang bijak mengatakan, "Orang yang mengasihi pasti memberi tetapi orang yang memberi belum tentu mengasihi". Tuhan Yesus dengan ceritanya tentang "Orang Samaria yang murah hati" (Lukas 10:25-37) menegaskan kepada kita, makna yang dalam tentang mengasihi.
Banyak diantara kita mungkin ahli dalam mendiskusikan cinta kasih (mungkin orang Lewi termasuk demikian), namun tak mau direpotkan dengan orang yang lagi menderita dan memerlukan uluran tangan. Di pihak lain, hati dan perasaan kita sungguh tersentuh oleh mereka yang dengan tulus menolong sesama tanpa menghiraukan perlunya televisi, berita Koran, atau tepuk tangan riuh-rendah.
Itulah yang harusnya kita perbanyak, namun orang-orang tulus seperti Ibu Teresa tampaknya semakin jarang kita jumpai. Di pihak lain semakin marak pesta besar yang didanai dari uang yang tak jelas asal-usulnya; semakin banyak mobil-mobil mewah berkeliaran yang katanya dimiliki oleh para pejabat, politisi, dan pengusaha muda. Jalan-jalan yang dilalui penuh dengan orang-orang yang miskin, yang menantikan perhatian dari kita semua.
Di tengah-tengah suasana krisis moral dan krisis kemiskinan saat ini, sangat kita perlukan orang-orang yang dengan tulus bekerja keras untuk mengangkat saudara-saudara kita dari belenggu kemiskinan. Mereka yang dengan tulus mau menerima mereka-mereka yang sudah terpinggirkan, termarginalisasi.
Marilah kita mencontoh cinta kasih Sang Bapa yang menyambut anak-Nya yang hilang yang kembali kepada Bapa, sesudah menghabiskan harta warisannya. Dia tak layak dikasihani, dia harusnya dihukum. Namun karena dia bertobat, Bapanya mengampuni dia dan dia diterima kembali sebagai anak. Pesta yang diadakan untuk dia adalah pesta yang tulus, bukan sandiwara cinta kasih.
Marilah kita mencontoh cinta kasih "orang Samaria", cinta kasih yang rela berkorban; cinta kasih yang menembus dinding pemisah; cinta kasih yang tulus tak ragu berkorban, tak ragu mengambil resiko untuk mengasihi sesamanya manusia.* 130204
No comments:
Post a Comment