1. Fase Punishment and Obedience
Dalam fase kesadaran moral yang terendah ini, individu bisa menyatakan ketidaksetujuannya atas tindakan Heinz yang mencuri obat, tetapi alasan ketidaksetujuan tersebut semata-mata oleh karena konsekuensinya kalau ketahuan: "Jangan rnencuri, karena kalau tertangkap akan dipukuli, dihukum, dipermalukan, kehilangan harga diri karena diberi identitas 'maling', didenda, atau dipenjara." Jadi, sikapnya tidak ditentukan oleh kebenaran yang 'katanya diyakini', tetapi oleh konsekuensinya. Sebenarnya, individu pada fase ini belum mengenal kebenaran, dan ia belum mempunyai kesadaran moral yang sesungguhnya. Yang ia takuti hanyalah hukuman yang bisa dijatuhkan oleh sesamanya manusia. Oleh sebab itu, di tempat-tempat tersembunyi, di mana perbuatannya tidak akan ketahuan, ia bisa rnelakukan pelanggaran moral apa saja. Di belakang pintu-pintu yang terkunci, ia sebagai orang Kristen 'yang saleh' bisa melakukan segala macam tindakan amoral yang sangat menjijikkan.
Coba bayangkan, pernikahan dengan seorang Kristen 'yang saleh, cerdik, dan sukses' tetapi mempunyai struktur jiwa dengan fase moral Punishment and Obedience ini. Di depan banyak orang ia selalu menampilkan dan mengatakan hal-hal yang baik, tetapi di rumah dan di belakang pintu tertutup, ia adalah individu brengsek yang tidak bermoral.
2. Fase Relativistic Hedonism
Fase kesadaran moral yang kedua ini lebih sophisticated (kompleks dan tidak sederhana). individu pada fase ini bisa menjelaskan dengan prinsip-prinsip kesadaran moral yang tinggi, tetapi sebenarnya, nilai kebenaran yang dikandung dalam penjelasan tersebut sangat relatif karena tidak konsisten dengan seluruh kehidupan pribadinya. Mungkin oleh karena
keterlibatannya dalam berbagai kegiatan gerejani/rohani, sehingga ia terbiasa mengadopsi tingkah laku 'yang baik' sebagai bagian dari performance (apa yang ditampilkan) hidupnya. Kebaikan-kebaikan yang keluar dari mulutnya (dan bahkan dalam konteks tertentu dimanifestasikan), sebenarnya cuma kostum atau pakaian. luar yang dikenakannya untuk peran yang sedang dimainkannya.
Jadi, kalau dalam kasus Heinz ia mengatakan ketidaksetujuannya, bahkan bisa memberikan berbagai alasan yang mendalam berdasarkan teologi dan etika Kristen mengapa seorang, dalam keadaan apapun juga, tidak diperbolehkan mencuri, maka itu semua hanyalah teori yang dia sendiri tidak pernah hidupi dan tidak pernah praktekkan dalam kehidupannya sendiri. Barangkali Farisi-Farisi yang Tuhan Yesus sebut sebagai orang-orang munafik adalah mereka yang terjebak dalam fase kesadaran moral kedua ini. Seringkali, mereka dapat 'mempraktekkan sebagian' dari kebenaran yang diajarkan, tetapi sekali lagi, hanya 'sebagian' dan itu tidak konsisten dengan apa yang ada dalam hatinya. Seperti Nabi Yunus yang memberitakan Injil tanpa jiwa yang mengasihi dan tanpa beban yang sejati untuk orang-orang yang diinjili. Begitu juga ribuan aktivis gereja.yang melakukan pelayanan, bahkan pengajaran dan kesaksian, yang hatinya jauh dari kebenaran yang dikatakan dan didemonstrasikan. Mungkin faktanya mereka benar-benar 'sudah membesuk dan mendoakan orang sakit', tetapi itu semua hanyalah manifestasi kesadaran moral fase kedua. Suatu bentuk pelayanan yang baik dari`orang yang hatinya jauh dari kebenaran. Pelayanan dan kesaksiannya hanya mempunyai kandungan nilai kebenaran intrinsic yang sangat rendah.
Dalem konteks bahasan kita, coba pikirkan pernikahan dengan individu fase kesadaran moral ini. Hilangnya rasa hormat dan percaya seringkali tak dapat dihindari lagi, karena individu tersebut cenderung berkepribadian munafik. Ada gap yang lebar memisahkan kata-kata dan perbuatannya.
3. Fase Role Confirmirty
Individu dengan fase kesadaran moral ketiga ini sebenarnya sudah mengenal kebenaran dan hatinya ingin sekali menerapkan kebenaran tersebut dalam praktek kehidupannya. Tetapi dorongan (drive) untuk mengaplikasian kebenaran tersebut seringkali tidak ada. Kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan apa yang dikehendaki kelompoknya (orang-orang di sekelilingnya), seringkali dirasakan lebih besar dari keinginan untuk menerapkan kebenaran tersebut secara pribadi.
Dalam kasus Heinz, individu dengan fase kesadaran moral ketiga ini menyadari bahwa 'mencuri' adalah tindakan yang salah. Hati nuraninya mengatakan begitu. Tetapi, ia hidup di tengah-tengah lingkungan yang menginginkan kesejahteraan dan keadilan, yang dari mulut ke mulut membicarakan ketidakpuasan terhadap farmacist (apoteker) yang dikatakan kejam dan tidak berperikemanusiaan, yang telah memasang harga obat yang terlalu mahal untuk istri Heinz yang sekarat; Hidup di tengah
masyarakat yang menciptakan hukumnya sendiri, yang membenarkan tindakan pencurian dalam kasus seperti yang dihadapi Heinz, yang menghalalkan segala cara kalau tujuannya benar (the end justifies the means), membuat individu dengan fase moral ini melakukan pencurian.
Banyak pasangan Kristen yang dalam pernikahan menghadapi berbagai persoalan oleh karena fase kesadaran moral ketiga ini. Di tengah dunia yang bobrok, dimana tujuan yang baik justru seringkali harus melewati jalan yang sulit, individu dengan fase kesadaran moral ini cenderung mencari jalan pintas yang 'dihalalkan lingkungannya'. Dari penyuapan untuk segala urusan ijin-ijin resmi dari pemerintah, sampai kepada tindakan-tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran iman, dapat ditemukan dalam kehidupan praktis individu-individu ini, meskipun mereka adalah orang-orang Kristen. Pemakaian VCD Porno, pornografi, dan kebiasaan masturbasi seringkali seolah-olah 'dihalalkan' begitu saja, asal tujuannya 'baik' (misalnya: untuk menciptakan hubungan yang lebih harmonis dengan pasangannya).
4. Fase Caw and Order
Individu dengan kesadaran moral fase keempat ini sudah terbebas dari jerat jiwa 'kompromistis', karena baginya kebenaran hukum merupakan kebenaran baku yang harus dijunjung tinggi. Walaupun ia merasa rugi, ia tetap memakai jalur hukum untuk menyelesaikan persoalannya. Meskipun demikian, tidak berarti setiap persoalan pernikahan dan keluarga yang dihadapinya dapat diselesaikan dengan baik. Pertama, oleh karena hukum itu pada dirinya sendiri tak pernah sempurna, dan
kedua, oleh karena individu pada fase moral ini cenderung menyamaratakan persoalan-persoalan 'yang sejenis', misalnya suami yang menyeleweng. Padahal realitanya setiap kasus sebenarnya unik. Ada suami yang menyeleweng oleh karena kebiasaan (habit) sejak remaja. Ada suami yang menyeleweng oleh karena terus-menerus digoda. Ada suami yang menyeleweng karena kesepian (iseng). Ada pula yang oleh karena ingin menghukum istrinya, bahkan ada yang memang sengaja memakai hal tersebut untuk menghancurkan pernikahannya, dan sebagainya.
Pernikahan dengan individu yang memiliki fase kesadaran moral keempat ini mempunyai warna persoalan yang tersendiri. Untuk kasus di atas, ia tidak bisa melihat keunikan-keunikan setiap kasusnya. Sehingga, kalau ia sudah mempunyai konsep tertentu (hukum yang dipercayainya), ia akan menilai kasus tersebut dengan konsep tersebut. Misalnya, ia percaya bahwa suaminya menyeleweng karena tidak mencintainya lagi. Itulah konsepnya, dan itulah hukum yang berlaku. Sehingga yang dipikirkannya hanyalah 'bagaimana menyelesaikan persoalan: seorang yang menikah dengan orang yang menyeleweng, yang sudah tidak ada cinta lagi'. Dengan ini ia menutup pintu terhadap segala kemungkinan lain.
Individu dengan fase moral ini sebenarnya jauh lebih fair dibandingkan dengan fase-fase sebelumnya. Ia tidak terjebak pada emosinya sendiri. Meskipun misalnya, anaknya dipukul oleh anak tetangga yang jauh lebih besar darinya, ia tidak terpancing untuk membalas atau memberi reaksi secara emosional. Baginya, penyelesaian yang terbaik adalah melalui jalur hukum. Dan ini bisa diwujudkan dengan meminta tolong RT mendamaikan kedua belah pihak keluarga dan sebagainya.
Dalam konteks pernikahan, mungkin persoalan dengan individu fase moral keempat ini adalah 'kurangnya fleksibilitas' dalam menangani masalah-masalah. Ia cenderung berorientasi pada aturan dan hukum. Ia bisa menuntut pasangannya untuk setia pada apa 'yang sudah disetujui bersama' (hukum yang pernah diciptakan bersama) dan tidak peduli apakah kondisi kehidupan masih seperti dulu atau sudah berubah.
5. Fase Social Contract
Fase kesadaran moral kelima ini merupakan fase kesadaran moral yang sudah melewati jerat keterbatasan hukum. Individu pada fase ini tidak lagi menyamaratakan semua masalah 'yang sama.' Sepuluh macam masalah 'anak yang mogok sekolah' adalah sepuluh macam masalah yang berbeda, sehingga setiap masalah tersebut akan dihadapi, ditangani, dan diselesaikan secara berbeda-beda. Bahkan suami yang menyeleweng.(masalah infidelitas) tahun ini mungkin akan dihadapi dengan cara yang berbeda dengan tahun yang lalu, meskipun kasusnya sama. Untuk kasus Heinz yang diberikan oleh Kohlberg, ia akan mengatakan bahwa 'setiap kasus adalah unik, oleh sebab itu ia perlu mempelajari dahulu kondisi, level kematangan pribadi Heinz, latar belakang pendidikan dan keluarga, motivasi, dan bahkan aspek-aspek lingkungan yang ikut mempengaruhi.'
Dalam konteks persoalan dalam pernikahan, keunikan individu dengan fase kesadaran moral ini akan nampak dalam bentuk 'kebijaksaan dalam menangani persoalan-persoalan.' Ia akan menjadi individu yang lebih dapat mendengar (listening), mengerti (understanding), menerima (acceptance), dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (empathy). Sehingga penilaiannya atas setiap persoalan cenderung obyektif dan tidak terjebak pada penilaian subyektif yang diatur oleh perasaan dan kesan-kesan pribadi. Bahkan ia tidak begitu saja menurut dan mau diatur oleh hukum yang menguntungkan dirinya sendiri.
6. Fase Conscience
Menikah dengan individu fase moral tertinggi ini adalah menikah dengan makhluk langka yang memang kehidupannya dipersembahkan untuk menjadi instrumen kebenaran. Sehingga menghadapi persoalan pernikahan dan keluarga dalam bentuk apapun juga, ia akan menyelesaikannya dengan betul-betul bijaksana. Banyak dimensi kehidupan yang ikut dipakai sebagai bahan pertimbangan yang orang lain sulit sekali pahami. Tidak heran jikalau penyelesaian masalah yang diusulkannya juga tidak selalu menyenangkan mereka. Kadang-kadang, demi untuk kebenaran yang diperjuangkannya ia rela dianiaya, ditolak, disalahpahami, bahkan dibenci.
Untuk kasus Heinz yang diceriterakan Kohlberg, individu fase ini rela menanggalkan kepentingan dirinya, sehingga dalam konsistensinya mempertahankan kebenaran 'tidak mencuri' ia juga bebas dari kekakuan hukum dan fanatisisme. Ia menolong Heinz untuk tidak mencuri dan juga menolong menyentuh dan menghidupkan hati nurani (conscience) si farmacist yang mata duitan dan tak berperasaan itu, dengan pengorbanan dirinya.
Nah, dengan keenam fase kesadaran moral ini, jelaslah betapa krusialnya persoalan pernikahan dan kehidupan dalam keluarga. Bagi individu-individu dengan fase kesadaran moral di bawah, persoalan sebenarnya sudah hadir dalam kehidupan pernikahan mereka sebagai predisposing factors (faktor bawaan, faktor penyebab). Jadi, apa yang selama ini orang pikirkan sebagai persoalan-persoalan pernikahan sebetulnya hanyalah 'precipitating factors (faktor-faktor pencetus)' saja.
Contoh di atas hanyalah satu dari beberapa aspek sumber persoalan yang disebut 'persoalan struktur kehidupan, atau struktur jiwa manusia'. Disamping aspek moral yang sudah dibahas di atas, sebenarnya masih ada beberapa aspek lain (misalnya: psiko-sosial, kognitif, dan sebagainya), yang ikut membentuk struktur jiwa manusia. Level kematangan dalam setiap aspek itulah yang menjadi kepribadian manusia. Semakin rendah level kematangan pribadi dalam aspek-aspek tersebut, semakin rentan pribadi tersebut menjadi pribadi 'yang bermasalah.'
III. Persoalan reaiita hidup: Kehadiran persoalan yang tak terhindari
Di samping kedua sumber persoalan utama yang telah dibahas di atas, masih ada satu sumber lain lagi, yaitu 'realita kehidupan yang memang selalu membawa benih-benih persoalan pada dirinya sendiri.' Musibah dalam berbagai bentuknya seringkali datang menghampiri kehidupan tanpa dapat dihindari lagi. Sakit-penyakit, huru-hara, peperangan, pencurian, perampokan, perkosaan, pembunuhan, banjir, kebakaran, anak yang lahir cacat, kecelakaan, PHK (kehilangan pekerjaan), perpindahan ke kota lain oleh karena tugas atau jabatan baru, masa pensiun, kematian orang yang dikasihi, anak-anak yang meninggalkan rumah (empty nest), pendapatan yang tak mencukupi oleh karena krisis ekonomi, dan sebagainya, bisa menjadi sumber persoalan. pernikahan dan keluarga. Keluarga-keluarga yang harmonis dan berbahagia sekalipun seringkali mengalami goncangan bahkan krisis jika menghadapi persoalan-persoalan yang tak terhindari ini.
Kesimpulan:
Secara garis besar ada tiga sumber utama persoalan pernikahan dan keluarga. Persoalan-persoalan pernikahan dan keluarga yang seringkali dibahas dalam buku-buku dan seminar-seminar, umumnya hanyalah faktor-faktor pencetus persoalan. Tugas utama keluarga-keluarga Kristen adalah memperkuat pertahanan dalam jiwa anak-anak mereka sedini mungkin, sehingga mereka siap untuk bertumbuh dan mengembangkan kepribadian yang sehat dan tangguh, yaitu kepribadian yang mempunyai kebutuhan mutlak akan kebenaran (sehingga kelak mereka mempunyai komitmen untuk mengerjakan pembentukan keluarga Kristen yang ideal), dan kepribadian yang sehat yang mempunyai level kematangan dalam setiap aspeknya.
Sumber: Majalah MOMENTUM No. 42 - Pebruari 2000
Dalam fase kesadaran moral yang terendah ini, individu bisa menyatakan ketidaksetujuannya atas tindakan Heinz yang mencuri obat, tetapi alasan ketidaksetujuan tersebut semata-mata oleh karena konsekuensinya kalau ketahuan: "Jangan rnencuri, karena kalau tertangkap akan dipukuli, dihukum, dipermalukan, kehilangan harga diri karena diberi identitas 'maling', didenda, atau dipenjara." Jadi, sikapnya tidak ditentukan oleh kebenaran yang 'katanya diyakini', tetapi oleh konsekuensinya. Sebenarnya, individu pada fase ini belum mengenal kebenaran, dan ia belum mempunyai kesadaran moral yang sesungguhnya. Yang ia takuti hanyalah hukuman yang bisa dijatuhkan oleh sesamanya manusia. Oleh sebab itu, di tempat-tempat tersembunyi, di mana perbuatannya tidak akan ketahuan, ia bisa rnelakukan pelanggaran moral apa saja. Di belakang pintu-pintu yang terkunci, ia sebagai orang Kristen 'yang saleh' bisa melakukan segala macam tindakan amoral yang sangat menjijikkan.
Coba bayangkan, pernikahan dengan seorang Kristen 'yang saleh, cerdik, dan sukses' tetapi mempunyai struktur jiwa dengan fase moral Punishment and Obedience ini. Di depan banyak orang ia selalu menampilkan dan mengatakan hal-hal yang baik, tetapi di rumah dan di belakang pintu tertutup, ia adalah individu brengsek yang tidak bermoral.
2. Fase Relativistic Hedonism
Fase kesadaran moral yang kedua ini lebih sophisticated (kompleks dan tidak sederhana). individu pada fase ini bisa menjelaskan dengan prinsip-prinsip kesadaran moral yang tinggi, tetapi sebenarnya, nilai kebenaran yang dikandung dalam penjelasan tersebut sangat relatif karena tidak konsisten dengan seluruh kehidupan pribadinya. Mungkin oleh karena
keterlibatannya dalam berbagai kegiatan gerejani/rohani, sehingga ia terbiasa mengadopsi tingkah laku 'yang baik' sebagai bagian dari performance (apa yang ditampilkan) hidupnya. Kebaikan-kebaikan yang keluar dari mulutnya (dan bahkan dalam konteks tertentu dimanifestasikan), sebenarnya cuma kostum atau pakaian. luar yang dikenakannya untuk peran yang sedang dimainkannya.
Jadi, kalau dalam kasus Heinz ia mengatakan ketidaksetujuannya, bahkan bisa memberikan berbagai alasan yang mendalam berdasarkan teologi dan etika Kristen mengapa seorang, dalam keadaan apapun juga, tidak diperbolehkan mencuri, maka itu semua hanyalah teori yang dia sendiri tidak pernah hidupi dan tidak pernah praktekkan dalam kehidupannya sendiri. Barangkali Farisi-Farisi yang Tuhan Yesus sebut sebagai orang-orang munafik adalah mereka yang terjebak dalam fase kesadaran moral kedua ini. Seringkali, mereka dapat 'mempraktekkan sebagian' dari kebenaran yang diajarkan, tetapi sekali lagi, hanya 'sebagian' dan itu tidak konsisten dengan apa yang ada dalam hatinya. Seperti Nabi Yunus yang memberitakan Injil tanpa jiwa yang mengasihi dan tanpa beban yang sejati untuk orang-orang yang diinjili. Begitu juga ribuan aktivis gereja.yang melakukan pelayanan, bahkan pengajaran dan kesaksian, yang hatinya jauh dari kebenaran yang dikatakan dan didemonstrasikan. Mungkin faktanya mereka benar-benar 'sudah membesuk dan mendoakan orang sakit', tetapi itu semua hanyalah manifestasi kesadaran moral fase kedua. Suatu bentuk pelayanan yang baik dari`orang yang hatinya jauh dari kebenaran. Pelayanan dan kesaksiannya hanya mempunyai kandungan nilai kebenaran intrinsic yang sangat rendah.
Dalem konteks bahasan kita, coba pikirkan pernikahan dengan individu fase kesadaran moral ini. Hilangnya rasa hormat dan percaya seringkali tak dapat dihindari lagi, karena individu tersebut cenderung berkepribadian munafik. Ada gap yang lebar memisahkan kata-kata dan perbuatannya.
3. Fase Role Confirmirty
Individu dengan fase kesadaran moral ketiga ini sebenarnya sudah mengenal kebenaran dan hatinya ingin sekali menerapkan kebenaran tersebut dalam praktek kehidupannya. Tetapi dorongan (drive) untuk mengaplikasian kebenaran tersebut seringkali tidak ada. Kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan apa yang dikehendaki kelompoknya (orang-orang di sekelilingnya), seringkali dirasakan lebih besar dari keinginan untuk menerapkan kebenaran tersebut secara pribadi.
Dalam kasus Heinz, individu dengan fase kesadaran moral ketiga ini menyadari bahwa 'mencuri' adalah tindakan yang salah. Hati nuraninya mengatakan begitu. Tetapi, ia hidup di tengah-tengah lingkungan yang menginginkan kesejahteraan dan keadilan, yang dari mulut ke mulut membicarakan ketidakpuasan terhadap farmacist (apoteker) yang dikatakan kejam dan tidak berperikemanusiaan, yang telah memasang harga obat yang terlalu mahal untuk istri Heinz yang sekarat; Hidup di tengah
masyarakat yang menciptakan hukumnya sendiri, yang membenarkan tindakan pencurian dalam kasus seperti yang dihadapi Heinz, yang menghalalkan segala cara kalau tujuannya benar (the end justifies the means), membuat individu dengan fase moral ini melakukan pencurian.
Banyak pasangan Kristen yang dalam pernikahan menghadapi berbagai persoalan oleh karena fase kesadaran moral ketiga ini. Di tengah dunia yang bobrok, dimana tujuan yang baik justru seringkali harus melewati jalan yang sulit, individu dengan fase kesadaran moral ini cenderung mencari jalan pintas yang 'dihalalkan lingkungannya'. Dari penyuapan untuk segala urusan ijin-ijin resmi dari pemerintah, sampai kepada tindakan-tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran iman, dapat ditemukan dalam kehidupan praktis individu-individu ini, meskipun mereka adalah orang-orang Kristen. Pemakaian VCD Porno, pornografi, dan kebiasaan masturbasi seringkali seolah-olah 'dihalalkan' begitu saja, asal tujuannya 'baik' (misalnya: untuk menciptakan hubungan yang lebih harmonis dengan pasangannya).
4. Fase Caw and Order
Individu dengan kesadaran moral fase keempat ini sudah terbebas dari jerat jiwa 'kompromistis', karena baginya kebenaran hukum merupakan kebenaran baku yang harus dijunjung tinggi. Walaupun ia merasa rugi, ia tetap memakai jalur hukum untuk menyelesaikan persoalannya. Meskipun demikian, tidak berarti setiap persoalan pernikahan dan keluarga yang dihadapinya dapat diselesaikan dengan baik. Pertama, oleh karena hukum itu pada dirinya sendiri tak pernah sempurna, dan
kedua, oleh karena individu pada fase moral ini cenderung menyamaratakan persoalan-persoalan 'yang sejenis', misalnya suami yang menyeleweng. Padahal realitanya setiap kasus sebenarnya unik. Ada suami yang menyeleweng oleh karena kebiasaan (habit) sejak remaja. Ada suami yang menyeleweng oleh karena terus-menerus digoda. Ada suami yang menyeleweng karena kesepian (iseng). Ada pula yang oleh karena ingin menghukum istrinya, bahkan ada yang memang sengaja memakai hal tersebut untuk menghancurkan pernikahannya, dan sebagainya.
Pernikahan dengan individu yang memiliki fase kesadaran moral keempat ini mempunyai warna persoalan yang tersendiri. Untuk kasus di atas, ia tidak bisa melihat keunikan-keunikan setiap kasusnya. Sehingga, kalau ia sudah mempunyai konsep tertentu (hukum yang dipercayainya), ia akan menilai kasus tersebut dengan konsep tersebut. Misalnya, ia percaya bahwa suaminya menyeleweng karena tidak mencintainya lagi. Itulah konsepnya, dan itulah hukum yang berlaku. Sehingga yang dipikirkannya hanyalah 'bagaimana menyelesaikan persoalan: seorang yang menikah dengan orang yang menyeleweng, yang sudah tidak ada cinta lagi'. Dengan ini ia menutup pintu terhadap segala kemungkinan lain.
Individu dengan fase moral ini sebenarnya jauh lebih fair dibandingkan dengan fase-fase sebelumnya. Ia tidak terjebak pada emosinya sendiri. Meskipun misalnya, anaknya dipukul oleh anak tetangga yang jauh lebih besar darinya, ia tidak terpancing untuk membalas atau memberi reaksi secara emosional. Baginya, penyelesaian yang terbaik adalah melalui jalur hukum. Dan ini bisa diwujudkan dengan meminta tolong RT mendamaikan kedua belah pihak keluarga dan sebagainya.
Dalam konteks pernikahan, mungkin persoalan dengan individu fase moral keempat ini adalah 'kurangnya fleksibilitas' dalam menangani masalah-masalah. Ia cenderung berorientasi pada aturan dan hukum. Ia bisa menuntut pasangannya untuk setia pada apa 'yang sudah disetujui bersama' (hukum yang pernah diciptakan bersama) dan tidak peduli apakah kondisi kehidupan masih seperti dulu atau sudah berubah.
5. Fase Social Contract
Fase kesadaran moral kelima ini merupakan fase kesadaran moral yang sudah melewati jerat keterbatasan hukum. Individu pada fase ini tidak lagi menyamaratakan semua masalah 'yang sama.' Sepuluh macam masalah 'anak yang mogok sekolah' adalah sepuluh macam masalah yang berbeda, sehingga setiap masalah tersebut akan dihadapi, ditangani, dan diselesaikan secara berbeda-beda. Bahkan suami yang menyeleweng.(masalah infidelitas) tahun ini mungkin akan dihadapi dengan cara yang berbeda dengan tahun yang lalu, meskipun kasusnya sama. Untuk kasus Heinz yang diberikan oleh Kohlberg, ia akan mengatakan bahwa 'setiap kasus adalah unik, oleh sebab itu ia perlu mempelajari dahulu kondisi, level kematangan pribadi Heinz, latar belakang pendidikan dan keluarga, motivasi, dan bahkan aspek-aspek lingkungan yang ikut mempengaruhi.'
Dalam konteks persoalan dalam pernikahan, keunikan individu dengan fase kesadaran moral ini akan nampak dalam bentuk 'kebijaksaan dalam menangani persoalan-persoalan.' Ia akan menjadi individu yang lebih dapat mendengar (listening), mengerti (understanding), menerima (acceptance), dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (empathy). Sehingga penilaiannya atas setiap persoalan cenderung obyektif dan tidak terjebak pada penilaian subyektif yang diatur oleh perasaan dan kesan-kesan pribadi. Bahkan ia tidak begitu saja menurut dan mau diatur oleh hukum yang menguntungkan dirinya sendiri.
6. Fase Conscience
Menikah dengan individu fase moral tertinggi ini adalah menikah dengan makhluk langka yang memang kehidupannya dipersembahkan untuk menjadi instrumen kebenaran. Sehingga menghadapi persoalan pernikahan dan keluarga dalam bentuk apapun juga, ia akan menyelesaikannya dengan betul-betul bijaksana. Banyak dimensi kehidupan yang ikut dipakai sebagai bahan pertimbangan yang orang lain sulit sekali pahami. Tidak heran jikalau penyelesaian masalah yang diusulkannya juga tidak selalu menyenangkan mereka. Kadang-kadang, demi untuk kebenaran yang diperjuangkannya ia rela dianiaya, ditolak, disalahpahami, bahkan dibenci.
Untuk kasus Heinz yang diceriterakan Kohlberg, individu fase ini rela menanggalkan kepentingan dirinya, sehingga dalam konsistensinya mempertahankan kebenaran 'tidak mencuri' ia juga bebas dari kekakuan hukum dan fanatisisme. Ia menolong Heinz untuk tidak mencuri dan juga menolong menyentuh dan menghidupkan hati nurani (conscience) si farmacist yang mata duitan dan tak berperasaan itu, dengan pengorbanan dirinya.
Nah, dengan keenam fase kesadaran moral ini, jelaslah betapa krusialnya persoalan pernikahan dan kehidupan dalam keluarga. Bagi individu-individu dengan fase kesadaran moral di bawah, persoalan sebenarnya sudah hadir dalam kehidupan pernikahan mereka sebagai predisposing factors (faktor bawaan, faktor penyebab). Jadi, apa yang selama ini orang pikirkan sebagai persoalan-persoalan pernikahan sebetulnya hanyalah 'precipitating factors (faktor-faktor pencetus)' saja.
Contoh di atas hanyalah satu dari beberapa aspek sumber persoalan yang disebut 'persoalan struktur kehidupan, atau struktur jiwa manusia'. Disamping aspek moral yang sudah dibahas di atas, sebenarnya masih ada beberapa aspek lain (misalnya: psiko-sosial, kognitif, dan sebagainya), yang ikut membentuk struktur jiwa manusia. Level kematangan dalam setiap aspek itulah yang menjadi kepribadian manusia. Semakin rendah level kematangan pribadi dalam aspek-aspek tersebut, semakin rentan pribadi tersebut menjadi pribadi 'yang bermasalah.'
III. Persoalan reaiita hidup: Kehadiran persoalan yang tak terhindari
Di samping kedua sumber persoalan utama yang telah dibahas di atas, masih ada satu sumber lain lagi, yaitu 'realita kehidupan yang memang selalu membawa benih-benih persoalan pada dirinya sendiri.' Musibah dalam berbagai bentuknya seringkali datang menghampiri kehidupan tanpa dapat dihindari lagi. Sakit-penyakit, huru-hara, peperangan, pencurian, perampokan, perkosaan, pembunuhan, banjir, kebakaran, anak yang lahir cacat, kecelakaan, PHK (kehilangan pekerjaan), perpindahan ke kota lain oleh karena tugas atau jabatan baru, masa pensiun, kematian orang yang dikasihi, anak-anak yang meninggalkan rumah (empty nest), pendapatan yang tak mencukupi oleh karena krisis ekonomi, dan sebagainya, bisa menjadi sumber persoalan. pernikahan dan keluarga. Keluarga-keluarga yang harmonis dan berbahagia sekalipun seringkali mengalami goncangan bahkan krisis jika menghadapi persoalan-persoalan yang tak terhindari ini.
Kesimpulan:
Secara garis besar ada tiga sumber utama persoalan pernikahan dan keluarga. Persoalan-persoalan pernikahan dan keluarga yang seringkali dibahas dalam buku-buku dan seminar-seminar, umumnya hanyalah faktor-faktor pencetus persoalan. Tugas utama keluarga-keluarga Kristen adalah memperkuat pertahanan dalam jiwa anak-anak mereka sedini mungkin, sehingga mereka siap untuk bertumbuh dan mengembangkan kepribadian yang sehat dan tangguh, yaitu kepribadian yang mempunyai kebutuhan mutlak akan kebenaran (sehingga kelak mereka mempunyai komitmen untuk mengerjakan pembentukan keluarga Kristen yang ideal), dan kepribadian yang sehat yang mempunyai level kematangan dalam setiap aspeknya.
Sumber: Majalah MOMENTUM No. 42 - Pebruari 2000
No comments:
Post a Comment