Oleh: Jonathan L Parapak
Siapakah di antara kita yang tidak mendambakan kehidupan penuh damai sejahtera, berkecukupan, maju, dan terpandang? Tidak sedikit pula yang menginginkan kehidupan yang selalu marak, dinamis, penuh gairah, sukses, berkuasa, dan berpengaruh! Maslow sendiri mencoba memberi klasifikasi "kebutuhan manusia"--dari memenuhi kebutuhan fisik minimum sampai aktualisasi diri.
Dorongan pemenuhan berbagai kebutuhan, telah menumbuh-kembangkan berbagai keanehan dalam hidup. Saya tidak akan membahas kebutuhan/kehidupan manusia dari sudut pandang teori Maslow. Yang menjadi keprihatinan dan perhatian tulisan-tulisan ini adalah "maraknya sandiwara kehidupan"--ini kalau memakai kata yang santun, tetapi intinya adalah "maraknya kemunafikan dalam hidup ini", maraknya "pameran kehidupan", bahkan mungkin maraknya kebohongan dalam kehidupan kita, yang mungkin Maslow sendiri dapat memberi penjelasan dan terapinya.
Begitu banyak ilmu telah berupaya untuk memahami kehidupan ini. Ilmu filsafat, ilmu psikologi, teologi, dan lain-lain, yang pada umumnya lebih banyak memahami apa yang terjadi daripada mengapa terjadi, dan bagaimana "sandiwara, kemunafikan, kesombongan, pamer" dikurangi bahkan kalau dapat dihilangkan. Sukses tersebut akan mengembangkan ketulusan, kejujuran, saling menerima, dan saling mengasihi antarsesama manusia, sehingga akan berkembang kehidupan kebersamaan dalam masyarakat yang semakin harmonis. Lebih mendalam lagi, kehidupan spiritual kita akan berkembang dengan sehat, holistik dan penuh kedamaian dan kenikmatan.
Kalau kini bangsa dan masyarakat kita lagi marak dengan kemunafikan, kebohongan publik, krisis moral, maka kita harus mencari akar permasalahan. Sandiwara kehidupan tidak berpretensi untuk menyodorkan solusi komprehensif. Tulisan-tulisan ringkas yang disajikan, dimaksudkan sebagai upaya untuk secara gamblang mengangkat begitu banyaknya sandiwara kehidupan kita lakoni, sadar atau tidak sadar, membawa kita pada kemerosotan moral, kemunafikan, sehingga merusak berbagai sendi-sendi kehidupan baik pribadi maupun keluarga, bahkan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
Dengan bercermin pada berbagai kasus yang diangkat, kiranya kita secara jernih kembali menyadari betapa mulianya nilai-nilai kemanusiaan seperti kebenaran, keadilan dan keindahan. Penulis mendambakan agar dengan kesadaran, pertobatan, kita kembali menghargai nilai-nilai universal kemanusiaan, yang dapat mendorong kita untuk saling menghargai, saling menerima, dan saling bekerja sama, bersinergi dalam membangun bangsa dan negara.
Lebih dalam lagi, sorotan sandiwara kehidupan dalam tulisan ini didasari pada nilai-nilai dan amanat Alkitab sebagai kitab suci yang diyakini umat kristiani. Menyimak berbagai contoh dari Alkitab, kita dapati bahwa berbagai sandiwara kehidupan yang diangkat, bukanlah barang baru, nampaknya sudah hadir sepanjang sejarah manusia, dengan format dan bentuk yang berbeda, sesuai perkembangan dan budaya masyarakatnya. Oleh karena itu, kita tidak boleh putus asa, melainkan tetap dan terus berpengharapan akan hidup dan masa depan orang percaya "yang berkelimpahan".
Harapan penulis, kiranya Tuhan, Roh Kudus, membarui kita, dan kita meninggalkan "bersandiwara" dan menjadi insan-insan pembaruan yang tulus, jujur, dan berpengharapan.
Siapakah di antara kita yang tidak mendambakan kehidupan penuh damai sejahtera, berkecukupan, maju, dan terpandang? Tidak sedikit pula yang menginginkan kehidupan yang selalu marak, dinamis, penuh gairah, sukses, berkuasa, dan berpengaruh! Maslow sendiri mencoba memberi klasifikasi "kebutuhan manusia"--dari memenuhi kebutuhan fisik minimum sampai aktualisasi diri.
Dorongan pemenuhan berbagai kebutuhan, telah menumbuh-kembangkan berbagai keanehan dalam hidup. Saya tidak akan membahas kebutuhan/kehidupan manusia dari sudut pandang teori Maslow. Yang menjadi keprihatinan dan perhatian tulisan-tulisan ini adalah "maraknya sandiwara kehidupan"--ini kalau memakai kata yang santun, tetapi intinya adalah "maraknya kemunafikan dalam hidup ini", maraknya "pameran kehidupan", bahkan mungkin maraknya kebohongan dalam kehidupan kita, yang mungkin Maslow sendiri dapat memberi penjelasan dan terapinya.
Begitu banyak ilmu telah berupaya untuk memahami kehidupan ini. Ilmu filsafat, ilmu psikologi, teologi, dan lain-lain, yang pada umumnya lebih banyak memahami apa yang terjadi daripada mengapa terjadi, dan bagaimana "sandiwara, kemunafikan, kesombongan, pamer" dikurangi bahkan kalau dapat dihilangkan. Sukses tersebut akan mengembangkan ketulusan, kejujuran, saling menerima, dan saling mengasihi antarsesama manusia, sehingga akan berkembang kehidupan kebersamaan dalam masyarakat yang semakin harmonis. Lebih mendalam lagi, kehidupan spiritual kita akan berkembang dengan sehat, holistik dan penuh kedamaian dan kenikmatan.
Kalau kini bangsa dan masyarakat kita lagi marak dengan kemunafikan, kebohongan publik, krisis moral, maka kita harus mencari akar permasalahan. Sandiwara kehidupan tidak berpretensi untuk menyodorkan solusi komprehensif. Tulisan-tulisan ringkas yang disajikan, dimaksudkan sebagai upaya untuk secara gamblang mengangkat begitu banyaknya sandiwara kehidupan kita lakoni, sadar atau tidak sadar, membawa kita pada kemerosotan moral, kemunafikan, sehingga merusak berbagai sendi-sendi kehidupan baik pribadi maupun keluarga, bahkan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
Dengan bercermin pada berbagai kasus yang diangkat, kiranya kita secara jernih kembali menyadari betapa mulianya nilai-nilai kemanusiaan seperti kebenaran, keadilan dan keindahan. Penulis mendambakan agar dengan kesadaran, pertobatan, kita kembali menghargai nilai-nilai universal kemanusiaan, yang dapat mendorong kita untuk saling menghargai, saling menerima, dan saling bekerja sama, bersinergi dalam membangun bangsa dan negara.
Lebih dalam lagi, sorotan sandiwara kehidupan dalam tulisan ini didasari pada nilai-nilai dan amanat Alkitab sebagai kitab suci yang diyakini umat kristiani. Menyimak berbagai contoh dari Alkitab, kita dapati bahwa berbagai sandiwara kehidupan yang diangkat, bukanlah barang baru, nampaknya sudah hadir sepanjang sejarah manusia, dengan format dan bentuk yang berbeda, sesuai perkembangan dan budaya masyarakatnya. Oleh karena itu, kita tidak boleh putus asa, melainkan tetap dan terus berpengharapan akan hidup dan masa depan orang percaya "yang berkelimpahan".
Harapan penulis, kiranya Tuhan, Roh Kudus, membarui kita, dan kita meninggalkan "bersandiwara" dan menjadi insan-insan pembaruan yang tulus, jujur, dan berpengharapan.
No comments:
Post a Comment