Saturday, November 15, 2008

SANDIWARA PELAYANAN

Oleh Jonathan L Parapak

Pelayanan sudah berkembang menjadi bagian dari kesombongan rohani, dan pelarian dari realitas kehidupan. Percakapan di antara para aktivis gereja atau persekutuan cenderung membuat kesibukan pelayanan, seolah-olah suatu daftar prestasi yang dapat dibanggakan. Kalau ungkapan-ungkapan itu keluar dari hati yang tulus dan peduli, maka akan nyata bahwa pelayanannya adalah panggilan murni baginya dari Tuhan untuk menjadi kawan sekerja Allah.



Kemurnian motivasi pelayanan kini banyak menjadi sorotan. Dengar saja pandangan warga jemaat bahkan dosen sekolah tinggi teologia, yang banyak mengeluhkan motivasi mereka yang masuk ke sekolah tersebut. Apa yang berkembang adalah institusi STT dan seterusnya institusi gereja menjadi panggung sandiwara pelayanan untuk memenuhi ambisi pribadi. Banyak pemuda-pemuda kita yang "katanya sangat terpanggil dalam pelayanan", baik di gereja, kampus, sehingga begitu sibuk dan kuliahnya terlantar dan hubungan kekeluargaannya menjadi gersang. Kadang dikutiplah alasan pelindung "pengikut Kristus yang memikul salib" (Lukas 14:17), tetapi di balik itu semua adalah ego yang ingin tampil, dihormati dan dikagumi. Pelayanan menjadi sandiwara penampilan egoisme dan kepentingan pribadi.

Kadang juga kita jumpai mereka yang senang dipanggil hamba Tuhan, yang bekerja begitu keras, dengan waktu yang lama, sehingga tak ada lagi waktu dan energinya untuk keluarga. Alasannya adalah semuanya dipersembahkan kepada Tuhan (Roma 12:1), tetapi di balik itu adalah dorongan untuk diakui sebagai pelayan yang habis-habisan untuk kemuliaan Tuhan. Sandiwaranya adalah "pelayan yang memberikan/mengorbankan dirinya dan keluarganya!"

Saya yakin banyak hamba Tuhan yang melayani dengan tulus, yang berupaya hidup holistik di hadapan Tuhan, namun karena kebutuhan pelayanan, kadang sulit untuk juga memberi perhatian yang cukup bagi keluarganya dan kesehatannya.

Mengapa sandiwara pelayanan diangkat dalam tulisan ini? Seperti digambarkan di atas, nampaknya "pelayanan sudah diperalat", sudah menjadi kendaraan politik, kendaraan gengsi, kendaraan ambisi pribadi. Motivasi yang salah dalam pelayanan banyak disoroti oleh Tuhan Yesus sendiri. Pelayanan adalah kesediaan untuk berkorban (Yohanes 3:16, Filipi 2:1-11). Pelayanan adalah kesediaan untuk merendahkan hati (Yohanes 13:4-11). Pelayanan adalah respons kita atas panggilan Kristus (Yohanes 15:16).

Sejarah gereja penuh dengan tokoh-tokoh yang karena pertobatan, dengan sungguh melayani Tuhan. Lihat saja Paulus yang bekerja keras, menderita, dipenjara untuk melayani Tuhan dan memberitakan Injil. Lihat saja para misionaris yang pergi dari Amerika dan Eropa ke berbagai penjuru dunia. Lihat saja Ibu Theresa, karena panggilan Tuhan, memberikan segalanya bagi pelayanannya. Dalam pelayanan yang tulus dan murni tidak ada sandiwara.

Sandiwara pelayanan bukanlah dilakoni mereka yang sungguh-sungguh terpanggil untuk melayani. Yang bersandiwara adalah mereka yang hatinya, panggilannya bukanlah pelayanan tetapi memakai pelayanan untuk kepentingan dan tujuan tertentu.

Janganlah kita terjerumus dalam sandiwara pelayanan, melainkan layanilah Tuhan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. *


--------------------------------------------------------------------------------

No comments:

Doa Hari Jumat, 3 April 2026

Doa Hari Jumat, 3 April 2026  (Jumat Agung)  Mengenang Salib Agung Kristus Allah Bapa Yang Mahakuasa dan Mahakudus...