Oleh Jonathan L Parapak
Kata "damai" mungkin termasuk yang paling banyak kita baca di media massa. Walau demikian, ternyata rasa damai, kedamaian, hidup damai, masih merupakan dambaaan dari begitu banyak anak manusia, anak bangsa di Indonesia. Nampaknya, kalau tidak ada perang, tidak ada perkelahian, kerusuhan, benturan fisik, maka damai dianggap ada. Pada saat-saat Natal, lagu "damai di bumi" banyak dikumandangkan, seolah-olah melupakan realitas ketidakdamaian di berbagai bagian Indonesia, bahkan seantero bumi. Keluarga dan pribadi pun banyak terbebani dengan ketidakdamaian.
Kalau demikian apakah "damai" itu bagian dari sandiwara yang banyak menjadi bagian dari kehidupan kita? Saya tak punya statistik namun merasa bahwa "sandiwara damai keluarga" cukup meluas, mungkin sampai menjadi bagian dari 50% pasangan.
Banyak yang sesungguhnya "tak ada damai lagi dalam keluarganya" namun demi pekerjaan, jabatan, nama keluarga, masalahnya diredam, dirahasiakan sehingga kedua belah pihak sangat pandai bersandiwara. Pada saat jabatan selesai, perceraian cepat selesai, dan istri muda pun segera tampil. Belum lagi, realitas perselingkuhan yang banyak diangkat oleh sinetron-sinetron, yang antara lain adalah sandiwara kehidupan perselingkuhan.
Dalam suatu masyarakat majemuk seperti Indonesia, pemeliharaan ketenteraman, kedamaian, dan perdamaian adalah suatu hal yang amat kompleks. Kita lihat saja Ambon, yang dulunya kelihatan rukun, ternyata dapat meledak begitu hebat sehingga sulit dimengerti oleh manusia dengan pikiran rasional. Lihat saja beberapa lingkungan di Jakarta, sepertinya tiada hari tanpa bentrok atau tawuran. Lihat saja Timur Tengah, yang sudah bertahun-tahun dilanda benturan dan perang. Solusi damai nampaknya masih jauh juga.
Mengapa manusia begitu sulit dan mahal mendapatkan dan menikmati damai yang tulus, indah dan berkelanjutan? Masalah kedamaian memang mulai rusak di Taman Firdaus. Manusia dengan Tuhannya dirusak oleh dosa (Kejadian 3:1-19). Akibat dosa, manusia juga mengalami kerusakan lingkungannya. Tuhan Allah mengambil prakarsa damai, sehingga kelahiran Yesus Kristus sebagai Juruselamat dijanjikan. Persoalan yang ingin diangkat di sini adalah "dambaan dan kerinduan" begitu banyak anak manusia untuk menikmati kedamaian tetap berkobar. Namun, yang banyak terjadi bukan damai yang tulus, melainkan sandiwara damai.
Nampaknya kita masih sangat kurang dalam kemampuan mengatasi konflik-konflik, apakah itu dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Sudah waktunya kita meninggalkan sandiwara kehidupan dan mulai belajar mengatasi berbagai kesalahpahaman, mis-komunikasi, egoisme kepentingan, membangun jembatan komunikasi antarkelompok dalam masyarakat, sehingga damai yang terbina atas dasar cinta kasih, kebersamaan yang saling peduli dan saling menghargai dalam komunikasi terbuka yang harmonis, menghargai perbedaan.
Prakarsa Tuhan yang membangun komunikasi perdamaian dengan manusia melalui kehadiran Yesus Kristus, sebagai wujud kasih Allah yang begitu besar, kiranya menjadi inspirasi dan contoh bagi kita dalam menumbuh kembangkan suasana damai dalam keluarga kita dan dalam masyarakat kita (1 Yohanes 3:16; Roma 5:1-11).
Dimungkinkannya perdamaian manusia dengan Allah, didasari atas banyak hal-hal mendasar, seperti cinta kasih Allah, kerelaan Yesus Kristus berkorban, setiap manusia dianggap penting dan mulia di hadapan Tuhan (Mazmur 8:1-6). Ia mengosongkan diri dan hadir di tengah-tengah manusia menjadi contoh (Filipi 2:7). Ia menerima semua yang bertobat dan mau percaya. Kedamaian yang diprakarsai Allah, bersifat universal dan terbuka bagi siapa saja di bumi ini. Prakarsa Allah adalah prakarsa yang penuh cinta kasih, tulus dan pasti.
Kiranya kita semua lebih banyak menjadi pemrakarsa damai yang tulus, melalui berbagai interaksi komunikasi antarkasih dan resolusi berbagai konflik agar tidak berkembang menjadi sandiwara damai bahkan mendorong berkembangnya gunung api kebencian, kemunafikan yang mudah meletus.
No comments:
Post a Comment