oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
Nats: Mat. 6:25; Mat. 11:28-30; Kol. 4:23
Boleh dikatakan hampir 20 tahun terakhir ini terjadi beberapa hal yang sangat menarik. Tahun 1989 tembok Berlin runtuh dan runtuhnya tembok Berlin itu menjadi simbol runtuhnya sistem ekonomi Komunisme. Sistem Komunisme sudah tidak sustainable lagi sebab sistem itu terbukti tidak mendatangkan kesejahteraan bagi manusia, tetapi malah memberikan kesengsaraan kepada banyak orang. Komunisme membuat rakyat tiap hari berbaris untuk mendapat sekantung beras sementara pemimpinnya makan caviar.
.
Demikian pula krisis ekonomi dan finansial yang kita alami beberapa bulan terakhir ini memberitahukan kepada kita bahwa sistem ekonomi Kapitalisme tidak lagi sustainable dan tidak bisa menjadi alat untuk mensejahterakan orang banyak. Mungkin tahun depan, tahun 2009 kita akan menghadapi efeknya. Sistem Kapitalisme menyebabkan begitu banyak orang mencari lubang kesempatan untuk menjadi kaya. Sistem pemberian bonus membuat para CEO berlomba-lomba menggerogoti keuangan perusahaan sehingga akhirnya sistem Kapitalisme menyebabkan keuntungan menjadi profit pribadi sedangkan kerugian di-share bersama. Sistem Komunisme maupun Kapitalisme awalnya punya keinginan demi untuk kesejahteraan banyak orang tetapi akhirnya di belakangnya berakhir sama.
.
Dari sudut kacamata kita sebagai anak-anak Tuhan kita mengaku dengan jujur kita sudah tahu jawabannya bahwa memang betul tidak mungkin kedua sistem ini sanggup bisa memberikan kesejahteraan dan jaminan kepada manusia, sebab bagaimanapun di dalam dan di balik dari kedua sistem ini semuanya sudah dicemari oleh dosa. Tetapi saudara dan saya hidup di dalam dunia ini, kita berada di dalam sistem ini, kita menjalani hidup ini mau tidak mau juga tidak bisa terlepas dari sistem ini. Namun sebagai anak-anak Tuhan, mari kita belajar untuk tidak menggantungkan hidup kita kepada sistem yang dibuat oleh manusia.
.
Kevin Rudd maupun Christianto Wibisono dalam artikelnya di Suara Pembaruan beberapa hari yang lalu melontarkan kalimat yang sama, bahwa di balik semua ini adalah keserakahan. Siapa yang dapat sanggup menutupi lubang yang diciptakan oleh keserakahan? Keserakahan makin diberi makan bukan menjadi ciut tetapi akan makin besar. Mahatma Gandhi pernah mengeluarkan kalimat bijak ini, “Seluruh isi dunia ini sesungguhnya sanggup memenuhi semua kebutuhan manusia, tetapi seluruh isi dunia ini tidak sanggup untuk memenuhi keinginan satu manusia.” Desire dan keinginan itu menjadi keserakahan yang tidak habis-habisnya.
.
Tidak usah heran dengan semua ini karena kita menghadapi satu sistem kehidupan yang sudah tidak fair lagi. Itu adalah fakta yang Alkitab katakan. Begitu manusia jatuh ke dalam dosa, relasi tidak harmonis antara Adam dan Hawa. Relasi antara manusia dan Tuhan menjadi terputus. Demikian juga relasi manusia dengan dunia ciptaan menjadi terkutuk adanya. Itu sebab Tuhan Allah berkata kepada Adam, “Dengan susah payah engkau akan mendapatkan hasil usahamu.” Ketika Tuhan menciptakan Adam, Tuhan menempatkan dia di taman Eden untuk mengusahakan dan mengelola taman itu. Adam bekerja. Berarti kerja bukanlah akibat dosa. Namun dosa akhirnya menyebabkan kerja itu menjadi suatu survival, menjadi satu hal yang tidak fair, karena mungkin apa yang kita tanam tidak menghasilkan apa yang kita harapkan. Kita menanam bibit jagung tetapi yang keluar adalah semak dan onak duri. Itulah sebab kita merasa kehidupan ini tidak fair.
.
Hari ini saya akan berbicara mengenai dua ayat yang sangat penting sekali. Tuhan Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Tuhan Yesus juga berkata, “Siapakah di antaramu yang dengan kekuatirannya bisa menambahkan satu hasta saja dalam hidupnya? Mengapa engkau kuatir akan hidupmu? Bukanlah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” Dari dua kalimat Tuhan Yesus ini kita menemukan inilah fakta hidup kita setelah manusia jatuh di dalam dosa. Menjalani hidup yang sudah tidak fair ini saudara dan saya penuh dengan kekuatiran. Menjalani hidup yang sudah tidak fair ini saudara dan saya juga menghadapi hidup yang letih lesu.
.
Namun kita di-encouraged dengan perkataan Tuhan Yesus ini karena di situ kita melihat Tuhan Yesus menyadari realitas hidup engkau dan saya. Siapa di antara kita yang tidak letih dan lesu? Letih lesu yang dimaksud di sini bukanlah letih lesu karena saudara ‘overload.’ Kita mungkin bisa letih lesu dan cape sebab apa yang kita kerjakan lebih banyak atau harus bekerja lembur. Untuk menyelesaikan letih lesu jenis ini gampang sekali. Kita tinggal istirahat yang cukup. Kita turunkan overload itu. Hari ini kita mengantuk karena kemarin kita bekerja non-stop 13 jam. Untuk memulihkannya kita tidur lebih panjang sehingga masalah selesai. Tetapi ada satu jenis letih lesu yang terjadi bukan karena kita bekerja terlalu keras, bukan karena kita kurang istirahat, tetapi satu letih lesu yang tidak dapat terselesaikan oleh istirahat. Ini adalah satu jenis keletihan yang disebabkan karena kita berpikir kita akan terus menjalani perputaran hidup yang tidak habis. Kita menghadapi realitas yang sama. Ini adalah keletihan yang disebabkan oleh hal yang kita rasa apa yang kita kerjakan hari ini tidak bisa menjadi jaminan di hari yang akan datang. Itu menjadi suatu keletihan yang tidak habis-habisnya. Marilah kepadaku, kamu yang letih dan lesu, kata Tuhan Yesus.
.
Ada dua faktor penyebab keletihan hidup seperti ini. Salah satunya adalah purposeless di dalam hidup ini. Kalau kita mengerjakan sesuatu tetapi tidak punya tujuan, pekerjaan itu menjadi sesuatu yang tidak enak karena tidak ada arah dan tidak ada tujuannya. Kita berputar-putar di situ, sampai suatu saat kita berhenti dan bertanya, ‘buat apa kita mengerjakan ini semua? Kenapa tidak ada arahnya, tidak ada tujuannya?’ Itu sebab kita menjadi letih lesu karena tidak mempunyai tujuan hidup. Kita menjadi letih lesu karena tidak mempunyai arah.
.
Hal yang kedua yang menjadi penyebab hidup kita menjadi letih dan lesu adalah kekuatiran. Yesus menyadari fakta itu, itu sebab Dia mengatakan, mengapa hidup kita penuh dengan kekuatiran? Tidak ada orang di dalam dunia ini yang bisa escape dan lepas dari kekuatiran. Dan semua orang yang kuatir akan berpikir bahwa kekuatirannya adalah hal yang paling penting. Kemudian kita berpikir, kalau begitu bagaimana untuk tidak kuatir? Apakah dengan menjalani hidup seperti Buddhism yang mengambil sikap lari dari dunia, kemudian pergi ke gunung untuk bertapa? Benarkah dengan cara seperti itu mereka lepas dari kekuatiran? Tidak. Karena meskipun mereka bertapa di gunung, pagi-pagi mereka harus turun dari gunung dan perlu membawa mangkuk kosong menunggu orang untuk memberikan sesuatu kepada mereka.
.
Wajar kita kuatir untuk hal-hal yang memang kita tahu merupakan realitas hidup kita. Itu sebab tidak heran kekuatiran itu akan menyebabkan kita tidak pernah merasa cukup memadai akan apa yang sudah kita dapat hari ini, itu sebab kita merasa perlu tambah dan perlu tambah lagi. Banyak orang hidup seperti itu. Itu sebab maka kita pikir hidup ini tidak akan pernah cukup untuk mengumpulkan kebutuhan kita, untuk anak dan untuk cucu kita, dst. Apa yang kita dapat sekarang kita rasa tidak memadai. Ini menyebabkan hidup kita berjalan dan kita terus mengalami perputaran yang tidak habis-habisnya. Sebagai orang Kristen kita perlu berhati-hati akan hal ini.
.
Minggu lalu saya pulang ke Indonesia dan membaca satu judul buku berjudul “Prinsip-prinsip Ilahi menjadi Milioner Kristen” dan yang menarik, penulis kata pengantar dari buku ini adalah Robert Kiyosaki. Saudara tahu Robert Kiyosaki, penulis buku “Rich Dad, Poor Dad”, bukan? Bagi saya prinsipnya sudah tidak ketemu, sebab kalau saudara membaca buku Robert Kiyosaki, prinsip dia adalah “Akar dari segala kejahatan ialah KURANG uang.” Sangat berbeda dengan prinsip Alkitab yang mengatakan “Akar dari segala kejahatan ialah CINTA uang.” Bukan KURANG uang, bukan KELEBIHAN uang, tetapi CINTA uang. Saya tertawa melihat buku rubbish ini karena tidak ada yang namanya prinsip Ilahi untuk menjadi milioner Kristen.
.
Jangan sampai Prosperity “Theology” juga menyebabkan begitu banyak orang Kristen memiliki uncontrollable desire terhadap uang. Bahwa sesungguhnya uncontrollable desire itu tidak Biblical tetapi kemudian ditutupi dengan konsep semakin banyak uang yang kaumiliki, semakin menunjukkan Tuhan memberkati engkau. Akhirnya uncontrollable desire itu menyebabkan kita berutang dan berutang terus. Orang berutang untuk membeli rumah, kemudian surat rumah dipakai untuk berutang membeli mobil, membeli kapal pesiar, dst. Satu tidak bisa membayar, semua menjadi collapse.
.
Satu buku yang saya baca berjudul “American Vulgarity” memperlihatkan bagaimana konsep dan life-style yang diberikan oleh Amerika diambil dan diserap oleh banyak orang tanpa pernah dipikirkan baik-baik, apakah itu suatu life-style yang benar atau tidak. Konsep dari “American Vulgarity” sudah menyebabkan Amerika menjadi satu negara yang mengekspor “self interest” melampaui kepentingan bersama. Pemberian bonus keuntungan membuat saudara tidak peduli jual kertas kosong, yang penting berhasil terjual saudara dapat bonus. Ini yang terjadi. Untung menjadi milik pribadi, rugi ditanggung bersama pakai uang pajak. Kedua, budaya Amerika sudah membuat kita hidup melihat lapisan luar lebih penting daripada karakter yang di dalam. Dengan uang, orang membeli televisi masuk ke dalam hidupnya. Sesudah itu orang berlomba-lomba mengikuti cara hidup yang ditayangkan oleh televisi. Budaya Amerika sudah menyebabkan kita lebih suka di-iri oleh orang daripada direspek. Tetangga ‘jor-joran’ pasang parabola, pakai mobil baru, tetangga yang lain jadi iri dan ikut-ikutan, dia malah bangga. American vulgarity seperti itu. Akibatnya kita bisa melihat ketika krisis datang, semua yang semestinya menjadi kerangka dan fondasi yang penting, akhirnya menjadi runtuh.
.
Salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet mengatakan setelah gelombang ini menjadi tenang, kita bisa melihat siapa yang telanjang, siapa yang tidak. Gelombang sedang menghadang dan mengikis semua. Siapa yang well-prepared dan siapa yang tidak prepared akan terlihat di sana. Puji Tuhan kita yang ada di sini tidak terlalu diimbas oleh gelombang itu. Mungkin hari ini kita bisa puji Tuhan karena kita tidak terlalu kaya. Ada satu orang bercanda dengan saya, bilang begini, “Yang penting hidup kita jadi orang Kristen “pas-pasan” saja. Pas mau beli rumah ada uang. Pas mau beli mobil ada uang. Pas mau liburan ada uang. Itu namanya hidup pas-pasan.” Point yang paling penting adalah kita tidak bisa terhindar dari semua sistem seperti ini. Kita tidak mungkin mengatakan kita tidak perlu semuanya kemudian pergi tinggal di gunung supaya tidak mengalami kesulitan seperti ini. Kita juga tidak bicara mengenai berapa banyak atau berapa sedikit uang yang sepantasnya dimiliki seorang Kristen. Tetapi kita sedang berbicara mengenai bagaimana sebenarnya attitude kita, sikap hidup kita, yang menjadi dasar atau fondasi yang penting.
.
Yesus mengatakan kalimat ini, jangan kuatir akan hidupmu, akan apa yang kau makan dan kau pakai. Tidak berarti makanan dan pakaian itu tidak penting. Tetapi Yesus mengajar kita melihat mana yang lebih penting. Maka Dia mengatakan, bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Jangan dibalik dan jangan dikontraskan bahwa orang Kristen tidak perlu makanan dan pakaian. Yesus mengatakan jangan sampai apa yang kita makan itu menjadi sesuatu yang terus kita pikirkan melebihi hidup yang seharusnya kita perhatikan. Bukankah tubuh ini lebih penting daripada pakaiannya. Yesus bicara mengenai roh yang di dalam, bukan apa yang kita pakai tetapi hidup ini yang jauh lebih penting. Kekuatiran kita tidak mungkin bisa menambah dan memperpanjang hidup kita, malah mungkin kekuatiran itu akan memperpendek hidup kita. Yesus mengatakan mereka yang kuatir akan makanan dan pakaiannya sebagai seorang yang imannya kecil. Saya percaya kekuatiran dan iman itu seperti dua balon yang harus seimbang. Maksudnya ketika kekuatiran makin besar maka iman menjadi lebih kecil. Pada waktu iman itu besar, maka kekuatiran itu kecil. Besarnya kekuatiranmu, hai engkau yang beriman kecil.
.
Bagaimana kekuatiran itu sanggup bisa menghimpit hidup dan kesehatan rohani kita? Hari ini saya tidak bisa mengatakan apa-apa dalam memberi jawab kepada kesulitan finansial yang terjadi. Saya tidak bisa menjanjikan bahwa kita tidak akan diterpa dengan kesulitan yang akan tiba di hari-hari mendatang. Tetapi mari kita prepare saja, tahun 2009 akan menjadi tahun yang jauh lebih sulit daripada tahun 2008. Kita akan melihat imbasnya ke depan jauh lebih besar daripada sekarang. Jikalau sektor ini sudah kena, insurance akan terkena, maka akan merambat ke sektor ekonomi real. Pabrik mobil sudah terkena, Holden, Ford, GM, itu berarti mereka tidak bisa sustain lagi bagaimana memperkerjakan begitu banyak tenaga kerja. Kalau tenaga kerja sudah berkurang, kita akan menemukan sektor-sektor lain akan terkena juga. Itu akan terjadi. Tetapi mempersiapkan diri ke depan, apa yang perlu kita persiapkan? Banyak orang mengatakan mari kita persiapkan uang lebih banyak untuk bisa menghadapi situasi itu. Ini satu jawaban klasik, jawaban yang logic dan bijaksana. Tetapi mari kita lihat bagaimana Tuhan ingin mengajar kita hari ini beberapa hal.
.
Yesus mengeluarkan kalimat ini, “Marilah kepadaKu, engkau yang letih lesu dan berbeban berat.” Saya menemukan kunci yang paling penting dari ayat 29 ini. Kita menjadi letih dan lesu dan berbeban berat karena kekuatiran hidup. Kekuatiran yang disebabkan oleh realitas dan situasi hidup kita yang tidak menentu. Kenapa kita bisa seperti itu? Apa yang harus kita lakukan? Yesus memberi jawabannya. Pikullah kuk yang Kupasang. Menghadapi beban berat, Yesus memberi jalan keluarnya, yaitu pikul kuk yang Dia berikan. Ini adalah suatu paradoks. Mestinya kita pikir Yesus mengambil beban berat itu dari diri kita. Tanggalkan beban itu, take a holiday. Sekarang banyak orang tidak berani untuk holiday dan meninggalkan pekerjaan karena takut dia akan di-“holiday” selama-lamanya. Beban berat kenapa Yesus bilang jalan keluarnya pikul kuk? Pikul kuk di sini bukanlah beban yang dibebankan lagi tetapi kuk ini berarti Yesus memberikan satu alat yang seperti seorang petani memasang kuk kepada seekor sapi atau kuda atau kerbau dengan tujuan supaya perkerjaan di sawah menjadi lebih mudah. Pertama, dengan kuk pekerjaan menjadi lebih mudah dan lebih ringan dan lebih menyingkatkan waktu dibanding bekerja tanpa kuk.
.
Yang kedua, kuk harus dimengerti di dalam konsep you berada di dalam ketaatan dipegang oleh seorang yang mengerti bagaimana mengerjakannya. Maksudnya, bagaimanapun hidup kita itu seperti kerbau dan sapi yang mau tidak mau harus bekerja. Bagaimanapun hidup di dalam dunia ini kita akan menghadapi kesulitan menginjak dan mengolah tanah, mengerjakan sesuatu dengan mencucurkan keringat. Cuma bedanya apakah pekerjaan itu demi untuk diri sendiri ataukah di dalam ketaatan kepada siapa yang pegang kuk. Yesus tidak mengatakan engkau yang berbeban berat hidup di dalam realitas dunia seperti ini untuk diangkat dan dibawa ke surga, cuma main harpa puji Tuhan di sana. Jangan salah konsep kita. Nanti sampai di surga, di dalam langit dan bumi yang baru, Tuhan tetap membuat kita bekerja. Karena bayangkan betapa membosankannya surga itu kalau kita cuma menyanyi dan duduk-duduk saja.
.
Yesus bilang “I will give you rest” tetapi rest bukan berarti bermalas-malasan di surga. Di sana rest itu dinikmati sesudah kita bekerja. Bedanya dengan sekarang, kita bekerja di dalam dunia yang sudah dicemari oleh dosa. Kerja di surga nanti adalah kerja mengeksplorasi dan menemukan hal-hal yang indah to glorify God and to enjoy Him forever. Maka kerja yang kita kerjakan di dalam dunia ini akan lepas dari kekuatiran dan hidup yang letih dan lesu kalau kita pegang kunci ini baik-baik: apa pun yang kita kerjakan kita mau itu semua bukan untuk kepentingan diri kita sendiri, bukan untuk usaha kita sendiri. Sekarang kita jadikan itu semua bagi Tuhan, maka seperti apa yang Paulus katakan di dalam surat Kolose, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol.4:23).
.
Secara praktis, kalau saudara pulang dan menghadapi kesulitan yang membuatmu letih dan lesu, di dalam membesarkan anak, di dalam pekerjaan, dsb, mari kembali membawa itu semua kepada Tuhan. Fokuskan semua yang kita kerjakan menjadi yang terbaik untuk Tuhan. Kita membersarkan anak kita, memberikan pendidikan yang terbaik untuk dia, bukan supaya nanti dia menjadi orang yang berhasil untuk diri sendiri tetapi untuk Tuhan. Saudara bangun pagi, coba berdoa seperti ini, “Tuhan, saya mau pergi kerja, menghadapi pekerjaan yang berat dan sulit ini, tetapi saya mau jadikan ini sebagai pekerjaan di mana saya bekerja untuk Tuhan.” Bawa sikap praktis seperti ini. Saya percaya saudara nanti akan mengerti apa yang Yesus katakan tadi. Saudara mungkin menghadapi kesulitan di dalam membesarkan anak yang tidak henti-hentinya dan mungkin itu bisa mendatangkan kelelahan dan kecapean. Tetapi pada waktu saudara berada di dalam situasi seperti itu ingat apa yang Yesus katakan ini, jadikan itu sebagai satu kuk dari Tuhan. Berdoa dan katakan kepada Tuhan, “Anak yang Tuhan percayakan di dalam hidupku akan sungguh-sungguh saya pelihara dengan baik dan saya mengerjakan semua itu demi untuk Tuhan.” Tidak ada jalan lain.
.
Kalau kita bangun pagi-pagi dan pergi bekerja demi untuk mencukupkan kebutuhan hidup kita dan demi untuk kenyamanan hidup kita, demi supaya nanti kita kaya dan makmur, dsb, someday kita akan menemukan realitas itu, kita akan menjadi lelah dan lesu karena dihimpit oleh kekuatiran yang tidak habis-habisnya. Saya meminta saudara membaca ayat-ayat ini baik-baik dan mempraktekkannya di dalam hidup saudara mulai hari ini. Ketika saudara mengalami letih dan lesu di dalam hidup ini katakan kepada Tuhan, “Tuhan, apa pun yang saya kerjakan mulai hari ini, itu menjadi kuk pelayananku bagi Tuhan.”(kz)
.
Sumber:http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/10/12/beratkah-bebanmu-pikullah-kuk-ku-1/
.
Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
No comments:
Post a Comment