Oleh: Jonathan Parapak
Siapakah di antara kita yang tidak peduli dengan nama baik keluarga? Banyak yang rela mempertaruhkan nyawanya demi nama baik keluarga. Lihat saja "Budaya Siri" di Sulawesi Selatan, yang mendorong tindakan mengorbankan apa saja, demi nama baik. Saya kira memang nama baik wajar untuk dibela dan dipertahankan.
Yang ingin diangkat dalam tulisan ini nama baik yang mana? Yang murni, tulus, atau yang hanya sandiwara kehidupan keluarga?
Kadang demi nama baik, "perselingkuhan" dijaga, dirahasiakan dengan biaya berapa pun. Demi nama keluarga, "anak yang tidak naik kelas" dipindahkan ke sekolah lain. Demi nama baik keluarga, putra yang kena narkoba dipindahkan keluar daerah--biar nama baik terjaga sebagai keluarga yang baik-baik. Banyak pasangan yang sesungguhnya mengalami masalah besar dalam pernikahan, tetapi dirahasiakan demi nama baik keluarga.
Kita sangat kreatif dalam menggelar sandiwara kehidupan, agar borok, persoalan keluarga kita tidak diketahui orang dan nama baik kita terpelihara. Sandiwara kehidupan ini, tanpa kita sadari, sesungguhnya lebih seperti kanker kehidupan yang kita pelihara, dan pada waktunya akan menghancurkan keluarga kita. Sandiwara kehidupan keluarga mungkin berlangsung tanpa kita sadari. Simak saja beberapa contoh di bawah ini:
* Pak Ali hampir tiap hari pulang malam, katanya bekerja lembur (tidak dibayar); menurut pikirannya, dia berjuang demi keluarga. (Pak Ali tanpa sadar ingin memberi pesan kepada keluarga istrinya bahwa ia bekerja keras untuk keluarganya--walaupun gajinya pas-pasan saja").
* Benny tiap malam belajar dalam kamarnya supaya dapat memenuhi harapan bapaknya, juara I seperti bapaknya dulu waktu masih sekolah. (Pada dasarnya, Benny terbebani dengan beban harapan orangtuanya. Walaupun hasil rapornya sudah di atas rata-rata 7, waktu ia memperlihatkannya kepada ayahnya, ia tetap dimarahi: "Anak malas! Harusnya di atas 8!").
* Ibu Nona, rajin dalam pelayanan dan persekutuan. Ia tampil seperti nyonya/ibu yang harmonis, bisa mengendalikan segala persoalan (Ibu Nona, sesungguhnya tidak betah di rumah, karena rumahnya sempit dan suaminya rewel sekali, hobinya hanya menonton TV).
Dari contoh-contoh di atas, kita dapat simak bagaimana mudahnya kita terjerumus dalam berbagai sandiwara! Apakah yang sesungguhnya diharapkan oleh Tuhan? Yang diminta oleh Tuhan adalah kejujuran, ketulusan; simak saja apa yang terjadi dengan Ananias dan Saphira di hadapan para Rasul. Sandiwara mereka berakhir dengan kematian.
Apakah yang diharapkan Tuhan dari keluarga kita? Keluarga terdiri dari suami, istri, dan anak. Dalam konteks penciptaan, semua adalah manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26-28). Mereka diberi kemuliaan dan hormat (Mazmur 8:6).
Alkitab menegaskan bahwa manusia, keluarga adalah ciptaan yang amat mulia, diberi potensi yang luar biasa. Tanpa sandiwara, manusia di hadapan Tuhan sudah sangat berharga, dan menjadi obyek kasih Tuhan yang luar biasa. Menurut pemazmur 133, Tuhan amat berkenan pada keluarga yang rukun dan damai, ke sanalah Tuhan akan memerintahkan berkat-Nya.
Tuhan menghendaki agar dalam keluarga cinta kasih yang tulus dan murni dapat ditumbuh kembangkan antara suami dan istri antara orangtua dan anak (Efesus 5:22,23).
Dari beberapa kutipan ayat Alkitab ini, dapat kita lihat bahwa "tak ada ruangan sandiwara dalam kehidupan keluarga; tak ada rahasia atau kepura-puraan--"mereka menjadi satu" (Kejadian 2:24).
Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang pola hidup, perilaku, dan komunikasinya memancarkan cinta kasih yang tulus dan murni secara konsisten. Mereka tidak berarti luput dari tantangan dan masalah. Tetapi dalam menghadapi semuanya itu mereka dapat menghadapinya, menyelesaikannya di bawah terang Firman Tuhan dan penyertaan Tuhan.
Marilah kita hilangkan semua sandiwara, kita gantikan dengan kata, pikiran, dan perilaku yang tulus, jujur, dan sarat cinta kasih. *
--------------------------------------------------------------------------------
No comments:
Post a Comment