Oleh : Pdt. Dr. Yakub B. Susabda
Persoalan hidup dalam pernikahan adalah persoalan hidup manusia itu sendiri. Apa saja yang manusia bisa hadapi sebagai persoalan dalam kehidupannya, bisa juga menjadi persoalan dalam pernikahan. Bahkan setiap aspek persoalan tersebut masih mempunyai keunikan-keunikannya sendiri. Sehingga persoalan yang 'sama' ternyata menjadi 'berbeda', karena konteks dan pribadi-pribadi yang mengalamiriya berbeda pula. Sepuluh pasang suami-istri dengan masalah finansial adalah sepuluh macam masalah finansial. Sepuluh pasang suami-Istri dengan masalah seksuil adalah sepuluh macam masalah seksuil yang betul-betul bisa sangat berbeda satu dengan lainnya.
Masalah seksuil yang dihadapi pasangan X hari ini bisa betul-betul berbeda dengan masalah seksuil yang dihadapi pasangan yang sama sebulan yang lalu. Bahkan masalah seksuil sekitar aspek tertentu, misalnya frigiditas, yang dihadapi pasangan tersebut hari ini bisa betul-betul berbeda dengan masalah yang sama dalam aspek yang sama pula, yang dialami pasangan yang sama bulan yang lalu.
Begitu kompleksnya persoalan hidup dalam pernikahan, sehingga topik-topik pembahasan sekitar ini tak akan pernah ada habisnya sampai sejarah manusia berakhir. Persoalan dalam pernikahan bisa merupakan: persoalan seksuil, persoalan pengkhianatan (infidelitas), persoalan kebosanan, sadisme dan penganiayaan, persoalan inkompatibilitas, ketidakmampuan memikul tanggung jawab, ketidaksiapan, masalah hukum, masalah dengan mertua, orangtua, anak, masalah warisan, pekeriaan, pembagian tugas, masalah ketidakmampuan menerima dan menghargai pasangannya, masalah sakit-penyakit yang diderita, masalah sistem yang terbentuk, masalah agama, iman, dan spiritualitas, masalah perbedaan natur laki-laki dan perempuan, dan seterusnya. Masalah-masalah ini tidak mudah diklasifikasikan, karena setiap aspek dari masalah pernikahan ternyata tidak pemah berdiri sendiri (independen), tapi selalu ada kaitannya dengan aspek-aspek yang lain dari jenis masalah yang berbeda. Oleh sebab itu, penulis akan membatasi dalam beberapa bagian yang penulis nilai paling sering dan paling krusial yang menjadi persoalan yang akan dihadapi oleh pasangan-pasangan Kristen.
I. Persoalan identitas: Pernikahan seperti apa yang sebenarnya didambakan?
Persoalan identitas pernikahan merupakan salah satu persoalan yang secara diam-diam hampir selalu melandasi setiap persoalan yang muncul dalam kehidupan pernikahan. Pada kenyataannya, ada yang peduli, ada pula yang sama sekali tidak peduli dengan masalah identitas ini. Meskipun demikian, masalah identitas adalah masalah yang krusial; yang sebenarnya dihadapi oleh banyak pasangan suami-istri dalam pernikahan mereka. Mereka seharusnya bertanya dan mereka juga seharusnya mencari jawaban atas salah satu pertanyaan yang terpenting dalam kehidupan pernikahan ini. Tanpa hal ini pernikahan mereka menjadi pernikahan tanpa alasan, tanpa isi, dan tanpa tujuan yang dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada Allah, sesama, maupun kepada diri sendiri. Pernikahan menjadi sekedar kehidupan bersama untuk pemenuhan naluri instinctual yang bagi mereka sendiri tidak jelas apa makna yang sesungguhnya.
Menurut pengamatan penulis, budaya manusia jaman ini hampir tidak memberikan peluang untuk pertanyaan yang satu ini. Hampir setiap pasangan yang akan menikah dan sudah menikah tidak peduli dan tidak mau bertanya, "Pernikahan seperti apakah yang sebenarnya kami dambakan?" Umumnya mereka menikah sebagai bagian dari proses alami pergaulan, mengikatkan. diri, dan memenuhi tuntutan budaya masyarakat. Mereka meresmikan ikatan tersebut dalam bentuk pemberkatan, pengesahan yuridis, dan pesta pernikahan. Itulah yang mereka sebut dan mereka mengerti sebagai arti pernikahan. Lalu, harapan-harapan yang mereka miliki, kalau ada, tak lain sebenar-nya hanyalah keinginan-keinginan yang 'sesaat disadari'. Umumnya mereka mengatakan, "Kami menikah karena kami saling mencintai." Suatu ucapan klise yang diulang-ulang, yang mereka sendiri tidak dapat jelaskan lebih lanjut. Atau kita akan mendengar mereka mengatakan, "Yah, ...kami menikah supaya kami bahagia." Dan kalau itu mesti dijelaskan, mereka akan memberikan penjelasan yang dangkal dan bersifat egosentrik.
Masalah identitas adalah masalah bagaimana mempertemukan 'individu yang menikah' dengan 'ideal pernikahan, seperti yang sudah dikonsepkan di gereja'. Banyak buku-buku yang telah membahas dan menggariskan prinsip-prinsip Kristiani yang solid tentang apa itu pernikahan Kristen. Banyak gereja yang sudah mempunyai program konseling pranikah yang cukup baik, dimana aspek-aspek penting dalam pernikahan dibahas satu-persatu. Tetapi, segala 'hal yang baik' ini, sebagian besar sia-sia karena individu-individu yang menerimanya adalah orang-orang yang umumnya tidak mempedulikan dan tidak pernah sungguh-sungguh memikirkan kehidupan pernikahan mereka secara serius. Jangankan memikirkan panggilan dan tanggung jawab yang Allah berikan kepada mereka dalam pernikahan, karena hal yang sederhana pun (misalnya: bagaimana supaya pernikahan mereka mempunyai identitas Kristen), umumnya tidak pernah mereka pikirkan.
Hidup pernikahan hanyalah kehidupan bersama dengan kegiatan-kegiatan yang berbeda dari kehidupan sebelumnya, yaitu pada saat masih membujang. Mungkin dalam kehidupan pernikahan ada tidur bersama, ada hubungan seksuil, ada makan bersama, ada pergi bersama, ada pengelolaan uang bersama, dan ada rumah dan benda-benda yang dimiliki bersama. Lalu kalau ada anak-anak, ada kegiatan-kegiatan baru seperti: menyusui, menyuapi, menggendong, dan bemain dengan anak (bagi yang suka anak). Mungkin ada kehadiran baby sitter sebagai orang asing yang hadir dalarn dunia pribadi mereka, begitu saja. Dan semua itu terjadi tanpa perencanaan, tanpa strategi, tanpa tujuan yang jelas. Semua berlalu begitu saja secara alami, tergantung watak, kebiasaan, mood dan selera masing-masing. Dimana pertemuan antara dua watak dan dua kebiasaan yang berbeda hanyalah menghasilkan konflik dan perasaan keterkiliran (dysequilibrum) yang kemudian diakhiri dengan terbentuknya sistem dalam keluarga tersebut. Di sana peran masing-masing, suami maupun isteri, mulai terbentuk, tetapi bukan sebagai pertanggungjawaban yang disadari melainkan sebagai manifestasi adaptasi alami saja. Inilah yang manusia (termasuk orang Kristen) sebut sebagai kehidupan pernikahan dan keluarga. Suatu pelembagaan hidup bersama, tanpa identitas yang jelas.
Kondisi yang rapuh ini baru disadari (atau terpaksa dipikirkan) pada saat krisis melanda kehidupan pernikahan dan/atau keluarga tersebut. Persoalan hidup seringkali muncul tak terhindari dan menjadi krisis oleh karena memang sejak mula banyak pernikahan dan keluarga yang sudah menanam benih-benih krisis tersebut. Kehidupan pernikahan dan keluarga 'tanpa identitas' adalah kehidupan yang selalu memprodusir dan menabur benih-benih krisis yang akan dituai di kemudian hari. Bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa peran baru untuk menciptakan sistem yang baru (konflik-konflik yang memanas dan saling melukai untuk perkara-perkara sepele), bisa infidelitas (pengkhianatan dan ketidaksetiaan), bisa addiksi (workaholisme, gambling, drugs, dan sebagainya), dan bisa dalam bentuk apa saja. Semuanya itu sebenarnya hanya manifestasi dari ketidaksiapan pribadi-pribadi yang menikah dalarn menghadapi faktor-faktor pencetus (precipitating factors) yang tak terhindarkan, yang seringkali hadir begitu saja dalarn hidup ini.
Faktor-faktor pencetus masalah sudah ada dan selalu akan ada di sekeliling kehidupan manusia. Masalah dalam pernikahan dan keluarga sebenarnya tidak terletak pada faktor-faktor pencetus tersebut (misalnya: godaan orang ketiga, pergaulan yang buruk, kondisi dan perubahan hidup yang tak diinginkan, sakit-penyakit, kegagalan, dsb.). Masalah dalam pernikahan dan keluarga adalah: masalah idendtas yang tidak jelas, masalah ketidaksiapan untuk menikah, masalah prinsip-prinsip hidup dalam pernikahan dan keluarga Kristen yang belum dikenal, dipercayai dan dihayati; Masalah belum adanya kehidupan Kristiani yang integratif, sehingga tidak ada kesiapan untuk hidup, berperan dalam mempertanggungjawabkan apa yang diimani di tengah kehidupan yang nyata ini.
II. Persoalan struktur kehidupan (life structure): Apa yang menentukan 'sesuatu menjadi persoalan' dan mengapa demikian?
Persoalan yang paling dasar dalam kehidupan pernikahan adalah persoalan struktur kehidupan jiwa manusia atau individu yang menikah. Seringkali persoalan struktur kehidupan jiwa ini dikenal sebagai persoalan level kematangan pribadi. Individu dengan kematangan pribadi yang tinggi mempunyai struktur kehidupan jiwa yang mempunyai banyak komponen yang positif, sehingga kebaikan-kebaikan dengan sendirinya menjadi bagian integral dalam kehidupannya. Sebaliknya, individu dengan level kematangan pribadi yang rendah, kekurangan komponen-komponen yang positif yang diperlukan untuk menghasilkan pikiran, perasaan, sikap, dan perbuatan-perbuatan yang baik. Jadi, masalah yang sesungguhnya bukanlah sekedar masalah mau atau tidak mau, bahkan juga bukan masalah tahu atau tidak tahu. Karena banyak orang sebenarnya ingin sekali menjadi orang yang baik, dan telah melengkapi diri dengan pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan, tetapi yang tidak berhasil menerapkannya dalam kehidupannya yang nyata. Jadi, masalah yang ada sebenarnya masalah 'mau tetapi tidak mampu' atau 'tahu tetapi tidak mau', atau 'mampu tetapi tidak mau'.
Selama ini orang berprasangka bahwa masalah-masalah dalam kehidupan pernikahan ada oleh karena orang-orang yang menikah 'tidak atau belum mengenal prinsip-prinsip kebenaran'. Sehingga upaya yang dilakukan oleh gereja dalam konseling pranikah adalah memberikan pengetahuan kognitif dalam prinsip-prinsip kebenaran yang perlu dikenal dan diketahui oleh pasangan-pasangan yang akan menikah. Akibatnya sebagian besar pengetahuan tersebut tidak pernah benar-benar dipikirkan secara serius apalagi diterapkan dalam kehidupan praktis pernikahan mereka. Konseling pranikah yang telah dilakukan oleh gereja selama bertahun-tahun ternyata tidak menghasilkan keluarga-keluarga Kristen yang baik, harmonis, dan terbebas dari masalah-masalah yang sebenarnya tidak perlu.
Persoalan dalam kehidupan pernikahan adalah persoalan struktur jiwa individu-individu yang terlibat dalam pernikahan tersebut. Semakin matang struktur kehidupan kedua individu yang mengikatkan diri dalam pernikahan, semakin sedikit persoalan 'unnecessary', persoalan yang sebenarnya tidak perlu, mereka hadapi. Semakin rendah level kematangan struktur kehidupan mereka, semakin banyak persoalan yang sebenarnya tidak perlu ada. Semakin tinggi level struktur kehidupan mereka, akan semakin mampu menyelesaikan persoalan pernikahannya dengan baik. Dan semakin rendah level struktur kehidupan mereka, semakin sulit bagi mereka untuk keluar dari jerat persoalan-persoalan yang ada. Persoalan yang satu belum lagi terselesaikan, malahan menghasilkan berbagai ekses sampingan, ditambah lagi dengan munculnya persoalan yang kedua, dan seterusnya. Sehingga persoalan yang terakhir, yang melumpuhkan fungsi kehidupan pernikahan (yang biasanya memaksa mereka mencari pertolongan konselor), sebenarnya hanyalah fenomena terakhir, yaitu manifestasi dari tumpukan puluhan persoalan sebelumnya yang belum terselesaikan.
Bicara tentang struktur kehidupan (life structure), sebenarnya berbicara tentang kepribadian dengan segala macam keunikan watak dan kebiasaannya (traits). Keunikan watak dan kebiasaan manusia adalah kumpulan (kombinasi) dari berbagai pola atau struktur jiwa dalam segala aspeknya. Baik itu aspek psiko-sosial, aspek kognitif, aspek moral; aspek psiko-seksual, dan sebagainya. Setiap aspek kehidupan ini seharusnya berkembang (developmentally) sesuai dengan fase-fase perkembangan umur seorang. Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian, bahkan perkembangan struktur dalam aspek-aspek tertentu seringkali mengalami stagnasi dan kemacetan. Akibatnya, terbentuklah kepribadian dengan struktur yang tidak integratif dan tidak seimbang. Ada aspek tertentu yang berkembang cukup baik, ada aspek-aspek lain yang tidak berkembang dengan baik. Mungkin dalam aspek kognitif perkembangannya cukup baik, sehingga individu tersebut dapat berpikir secara sintesis (level V ,dalam Bloom's Taxonomy), berarti melewati pola berpikir knowledge - comprehensive - applicative - dan analytic. Tetapi mungkin aspek psychosocial-nya tidak berkembang baik, sehingga ia tidak mempunyai kemampuan untuk dapat mempercayai dan bekerja sama dengan sesamanya. Dengan ini, jelaslah betapa kepribadian dengan struktur yang tidak seimbang dalam dua aspek kehidupan saja sudah menghasilkan berbagai faktor penyebab atau faktor pendukung (predisposing factors) dari berbagai persoalan pernikahan yang akan ia hadapi kelak. Jadi, jauh sebelum faktor pencetus muncul, individu tersebut sebenarnya sudah mempunyai persoalan. Pergaulan dan pacaran biasanya menyingkapkan apakah individu tersebut berpotensi masalah karena ia pada dirinya memang sudah bermasalah.
Struktur dalam setiap aspek jiwa manusia betul-betul merupakan penentu dan penyebab utama dari setiap masalah pernikahan. Idealnya setiap individu yang berani menikah sudah mempunyai struktur jiwa yang matang dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam aspek moral misalnya, ia seharusnya memiliki struktur jiwa fase di atas 'Law and Order' atau ia akan menjadi sumber masalah yang tidak perlu. Untuk jelasnya, perhatikan perbedaan struktur jiwa dalam fase-fase perkembangan moral yang dikembangkan oleh L. Kohlberg di bawah ini. Dengan kasus 'Dilema Heinz' (Heinz yang terpaksa mencuri obat untuk istrinya yang sekarat), Kohlberg berhasil mengklasifikasikan kesadaran moral manusia dalam enam fase yang berbeda-beda.
bersambung....
Kondisi yang rapuh ini baru disadari (atau terpaksa dipikirkan) pada saat krisis melanda kehidupan pernikahan dan/atau keluarga tersebut. Persoalan hidup seringkali muncul tak terhindari dan menjadi krisis oleh karena memang sejak mula banyak pernikahan dan keluarga yang sudah menanam benih-benih krisis tersebut. Kehidupan pernikahan dan keluarga 'tanpa identitas' adalah kehidupan yang selalu memprodusir dan menabur benih-benih krisis yang akan dituai di kemudian hari. Bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa peran baru untuk menciptakan sistem yang baru (konflik-konflik yang memanas dan saling melukai untuk perkara-perkara sepele), bisa infidelitas (pengkhianatan dan ketidaksetiaan), bisa addiksi (workaholisme, gambling, drugs, dan sebagainya), dan bisa dalam bentuk apa saja. Semuanya itu sebenarnya hanya manifestasi dari ketidaksiapan pribadi-pribadi yang menikah dalarn menghadapi faktor-faktor pencetus (precipitating factors) yang tak terhindarkan, yang seringkali hadir begitu saja dalarn hidup ini.
Faktor-faktor pencetus masalah sudah ada dan selalu akan ada di sekeliling kehidupan manusia. Masalah dalam pernikahan dan keluarga sebenarnya tidak terletak pada faktor-faktor pencetus tersebut (misalnya: godaan orang ketiga, pergaulan yang buruk, kondisi dan perubahan hidup yang tak diinginkan, sakit-penyakit, kegagalan, dsb.). Masalah dalam pernikahan dan keluarga adalah: masalah idendtas yang tidak jelas, masalah ketidaksiapan untuk menikah, masalah prinsip-prinsip hidup dalam pernikahan dan keluarga Kristen yang belum dikenal, dipercayai dan dihayati; Masalah belum adanya kehidupan Kristiani yang integratif, sehingga tidak ada kesiapan untuk hidup, berperan dalam mempertanggungjawabkan apa yang diimani di tengah kehidupan yang nyata ini.
II. Persoalan struktur kehidupan (life structure): Apa yang menentukan 'sesuatu menjadi persoalan' dan mengapa demikian?
Persoalan yang paling dasar dalam kehidupan pernikahan adalah persoalan struktur kehidupan jiwa manusia atau individu yang menikah. Seringkali persoalan struktur kehidupan jiwa ini dikenal sebagai persoalan level kematangan pribadi. Individu dengan kematangan pribadi yang tinggi mempunyai struktur kehidupan jiwa yang mempunyai banyak komponen yang positif, sehingga kebaikan-kebaikan dengan sendirinya menjadi bagian integral dalam kehidupannya. Sebaliknya, individu dengan level kematangan pribadi yang rendah, kekurangan komponen-komponen yang positif yang diperlukan untuk menghasilkan pikiran, perasaan, sikap, dan perbuatan-perbuatan yang baik. Jadi, masalah yang sesungguhnya bukanlah sekedar masalah mau atau tidak mau, bahkan juga bukan masalah tahu atau tidak tahu. Karena banyak orang sebenarnya ingin sekali menjadi orang yang baik, dan telah melengkapi diri dengan pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan, tetapi yang tidak berhasil menerapkannya dalam kehidupannya yang nyata. Jadi, masalah yang ada sebenarnya masalah 'mau tetapi tidak mampu' atau 'tahu tetapi tidak mau', atau 'mampu tetapi tidak mau'.
Selama ini orang berprasangka bahwa masalah-masalah dalam kehidupan pernikahan ada oleh karena orang-orang yang menikah 'tidak atau belum mengenal prinsip-prinsip kebenaran'. Sehingga upaya yang dilakukan oleh gereja dalam konseling pranikah adalah memberikan pengetahuan kognitif dalam prinsip-prinsip kebenaran yang perlu dikenal dan diketahui oleh pasangan-pasangan yang akan menikah. Akibatnya sebagian besar pengetahuan tersebut tidak pernah benar-benar dipikirkan secara serius apalagi diterapkan dalam kehidupan praktis pernikahan mereka. Konseling pranikah yang telah dilakukan oleh gereja selama bertahun-tahun ternyata tidak menghasilkan keluarga-keluarga Kristen yang baik, harmonis, dan terbebas dari masalah-masalah yang sebenarnya tidak perlu.
Persoalan dalam kehidupan pernikahan adalah persoalan struktur jiwa individu-individu yang terlibat dalam pernikahan tersebut. Semakin matang struktur kehidupan kedua individu yang mengikatkan diri dalam pernikahan, semakin sedikit persoalan 'unnecessary', persoalan yang sebenarnya tidak perlu, mereka hadapi. Semakin rendah level kematangan struktur kehidupan mereka, semakin banyak persoalan yang sebenarnya tidak perlu ada. Semakin tinggi level struktur kehidupan mereka, akan semakin mampu menyelesaikan persoalan pernikahannya dengan baik. Dan semakin rendah level struktur kehidupan mereka, semakin sulit bagi mereka untuk keluar dari jerat persoalan-persoalan yang ada. Persoalan yang satu belum lagi terselesaikan, malahan menghasilkan berbagai ekses sampingan, ditambah lagi dengan munculnya persoalan yang kedua, dan seterusnya. Sehingga persoalan yang terakhir, yang melumpuhkan fungsi kehidupan pernikahan (yang biasanya memaksa mereka mencari pertolongan konselor), sebenarnya hanyalah fenomena terakhir, yaitu manifestasi dari tumpukan puluhan persoalan sebelumnya yang belum terselesaikan.
Bicara tentang struktur kehidupan (life structure), sebenarnya berbicara tentang kepribadian dengan segala macam keunikan watak dan kebiasaannya (traits). Keunikan watak dan kebiasaan manusia adalah kumpulan (kombinasi) dari berbagai pola atau struktur jiwa dalam segala aspeknya. Baik itu aspek psiko-sosial, aspek kognitif, aspek moral; aspek psiko-seksual, dan sebagainya. Setiap aspek kehidupan ini seharusnya berkembang (developmentally) sesuai dengan fase-fase perkembangan umur seorang. Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian, bahkan perkembangan struktur dalam aspek-aspek tertentu seringkali mengalami stagnasi dan kemacetan. Akibatnya, terbentuklah kepribadian dengan struktur yang tidak integratif dan tidak seimbang. Ada aspek tertentu yang berkembang cukup baik, ada aspek-aspek lain yang tidak berkembang dengan baik. Mungkin dalam aspek kognitif perkembangannya cukup baik, sehingga individu tersebut dapat berpikir secara sintesis (level V ,dalam Bloom's Taxonomy), berarti melewati pola berpikir knowledge - comprehensive - applicative - dan analytic. Tetapi mungkin aspek psychosocial-nya tidak berkembang baik, sehingga ia tidak mempunyai kemampuan untuk dapat mempercayai dan bekerja sama dengan sesamanya. Dengan ini, jelaslah betapa kepribadian dengan struktur yang tidak seimbang dalam dua aspek kehidupan saja sudah menghasilkan berbagai faktor penyebab atau faktor pendukung (predisposing factors) dari berbagai persoalan pernikahan yang akan ia hadapi kelak. Jadi, jauh sebelum faktor pencetus muncul, individu tersebut sebenarnya sudah mempunyai persoalan. Pergaulan dan pacaran biasanya menyingkapkan apakah individu tersebut berpotensi masalah karena ia pada dirinya memang sudah bermasalah.
Struktur dalam setiap aspek jiwa manusia betul-betul merupakan penentu dan penyebab utama dari setiap masalah pernikahan. Idealnya setiap individu yang berani menikah sudah mempunyai struktur jiwa yang matang dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam aspek moral misalnya, ia seharusnya memiliki struktur jiwa fase di atas 'Law and Order' atau ia akan menjadi sumber masalah yang tidak perlu. Untuk jelasnya, perhatikan perbedaan struktur jiwa dalam fase-fase perkembangan moral yang dikembangkan oleh L. Kohlberg di bawah ini. Dengan kasus 'Dilema Heinz' (Heinz yang terpaksa mencuri obat untuk istrinya yang sekarat), Kohlberg berhasil mengklasifikasikan kesadaran moral manusia dalam enam fase yang berbeda-beda.
bersambung....
No comments:
Post a Comment