Manna Sorgawi – 9 September 2006
Amsal 24:30-34 - Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh. Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring," maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.
Didalam menanggapi keberhasilan atau kesuksesan dalam hidup ini kita sering mendengar komentar seperti, “Mereka memang keturunan orang kaya, nenek moyangnya saja sudah kaya dan berhasil, anak-cucunya pun pasti kaya dan berhasil,” atau “Saya memang sudah digariskan seperti ini, mana mungkin saya bisa berhasil,” atau “Saya jadi karyawan biasa saja sudah cukup, mustahil saya bisa punya usaha sendiri dan jadi boss.”
Amsal 24:30-34 - Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh. Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring," maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.
Didalam menanggapi keberhasilan atau kesuksesan dalam hidup ini kita sering mendengar komentar seperti, “Mereka memang keturunan orang kaya, nenek moyangnya saja sudah kaya dan berhasil, anak-cucunya pun pasti kaya dan berhasil,” atau “Saya memang sudah digariskan seperti ini, mana mungkin saya bisa berhasil,” atau “Saya jadi karyawan biasa saja sudah cukup, mustahil saya bisa punya usaha sendiri dan jadi boss.”










































