Tangan
yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.
(Amsal 10:4)
(Amsal 10:4)
TEOLOGI
YANG TIMPANG
Saya
mengenal seorang pria yang begitu aktif dalam pelayanan di gereja. Pada saat
yang sama, ia menelantarkan bisnis toko warisan orangtuanya. Keuangannya
menjadi morat-marit sehingga mengakibatkan kesusahan bagi keluarganya. Ketika
saya mengingatkannya untuk lebih bertanggungjawab dalam usahanya, ia malah
menjawab, "Saya tidak pernah memusingkan urusan toko karena Tuhan pasti
memberkati kami selama saya melayani Dia dengan sungguh-sungguh!"
Sepintas lalu, jawabannya terdengar benar dan mulia. Akan
tetapi, disini ada sebuah ketimpangan dalam berpikir. Amsal memberikan pandangan
yang jauh lebih seimbang. Di satu sisi, Tuhanlah yang memberkati dan mencukupkan
kebutuhan kita (Amsal 10: 3, 22). Kita tidak boleh menyombongkan berbagai pencapaian
ekonomi kita seolah itu hasil kecakapan kita semata. Di sisi lain, Tuhan mau
kita bekerja keras dan bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari
(Amsal 10: 4,5, 16). Kita tidak dapat menggunakan dalih bahwa Tuhan pasti
memelihara kebutuhan kita untuk membenarkan kemalasan kita dalam bekerja. Tuhan
tidak memberkati kemalasan; Dia menghendaki kita menjauhi sikap buruk itu.
Bagaimana
kita dapat mengalami kehidupan yang dicukupkan oleh Tuhan? Andalkan Tuhan senantiasa
sebagai sumber berkat. Namun, jangan berhenti di sana. Giatlah dalam melakukan pekerjaan
atau bisnis secara profesional disertai dengan hati yang takut akan Tuhan.
Kombinasi
keduanya memungkinkan kita menikmati berkat Tuhan.
–Jimmy Setiawan
/Renungan Harian
TUHAN MAU MEMBERKATI ANDA
MELALUI KETEKUNAN DAN KESETIAAN ANDA DALAM BEKERJA.

No comments:
Post a Comment