MERCU SUAR
Mercu suar di pantai sangat berguna. Bayangkan
diri Anda di dalam kapal di laut lepas pada malam hari. Angin kencang menerpa.
Laut bergelora. Buih suara ombak menciutkan nyali. Ke mana pengemudi kapal
harus mengarahkan pandangan? Ke langit? Hanya ada gumpalan awan gelap. Ke kapal
lain? Kalau pun ada, nasibnya sama. Ke arah ombak? Pasti menambah ketakutan.
Ada satu yang tidak terguncangkan oleh badai: cahaya mercusuar yang
memberitahukan letak pelabuhan yang aman. Seakan-akan cahaya itu berkata, "Tetaplah
pandang aku dan mendekatlah kepadaku."
Pemazmur melukiskan kehidupan
ini secara realistis: senantiasa berubah. Individu dan masyarakat berubah.
Bahkan acap kali perubahan yang besar dan drastis. Guncangan demi guncangan
terjadi layaknya fenomena alam (Mazmur 46: 3, 4, 7). Mengejutkan. Menakutkan.
Menghadirkan rasa tidak aman. Saat itu manusia membutuhkan pertolongan berupa
kekuatan dan perlindungan (Mazmur 46: 2, 6, 8), suatu pegangan yang layak
diandalkan karena tak terguncangkan (Mazmur: 6, 8, 12). Dan, itulah Tuhan
semesta alam!
Bukankah Allah satu-satunya
yang tak terguncangkan di tengah amukan gelombang kehidupan? Maka, kala
guncangan hidup menghajar kita, jangan memandang masa depan yang tampak pekat.
Jangan membandingkan diri dengan nasib orang lain. Jangan pula memandang
besarnya persoalan. Jangan panik. Tenangkan diri. Fokuskan pandangan ke satu
arah: Tuhan! Percayakan diri pada pimpinanNya. Mendekatlah padaNya. Dia tahu apa yang
dilakukanNya. Dia Tuhan. --Pipi A Dhali /Renungan Harian
DIPERLUKAN SIKAP TENANG DAN
BERDIAM DIRI AGAR
DAPAT MENYAKSIKAN BETAPA TUHAN TIDAK PERNAH
TINGGAL DIAM.
23 Februari 2014

No comments:
Post a Comment