Monday, December 01, 2008

Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen -(2), (3), (4)

Ringkasan khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia tanggal 9 November 2008
Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen-2

Perspektif dan Role di dalam Pernikahan
oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.


Nats: Ef. 5:33

Tuhan memberikan dua blueprint yang penting mengenai pernikahan kepada kita. Yang pertama sudah saya bahas minggu lalu, Kej.2 memperlihatkan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan sudah memberikan satu definisi yang penting dan yang harus menjadi prinsip kita untuk mengerti apa itu pernikahan. Pernikahan berarti saatnya seorang pria dan seorang wanita pergi meninggalkan ayah ibunya dan bersatu menjadi satu daging.
Kalimat ini diulang oleh Tuhan Yesus dan diulang oleh rasul Paulus di dalam PB. Dengan kata lain, sekalipun realitas dosa sudah masuk ke dalam hidup kita, realitas dosa yang bisa menarik kita dan mungkin makin lama menyeret kita makin jauh di dalam relasi kita, tetapi ikatan cinta yang Tuhan beri di dalam pernikahan harus jauh lebih kuat mengikat kehidupan kita, mengalahkan segala kekuatan lain yang menarik kita untuk terpisah.

Minggu lalu saya sudah membahas dua kata yang penting: ‘meninggalkan’ dan ‘bersatu’. Meninggalkan ayah dan ibu, berarti itu saatnya kita melihat hubungan ayah ibu dengan anak yang menikah bukan lagi hubungan orang tua dan anak, tetapi harus menjadi satu hubungan yang bersifat dewasa, satu adult relationship. Itu sebab kita harus mempersiapkan anak kita supaya someday mereka pergi meninggalkan rumah kita. Saya akan memberikan beberapa prinsip kepada anak-anak muda berkaitan dengan hal ini. Kenapa sebelum Tuhan memberikan Hawa kepada Adam, Tuhan menempatkan Adam di taman Eden, menyuruhnya untuk bekerja mengelola taman dan memberi nama kepada semua binatang di situ? Ini adalah satu prinsip penting menunjukkan pernikahan adalah untuk seorang yang sudah mature dan sudah bisa independent mengurus hidupnya. Memang kita hidup di jaman yang jauh berbeda dibanding 2000 tahun lalu di mana anak perempuan dinikahkan dalam usia yang sangat muda, tidak lama sesudah dia mengalami fase pubertas.

Tetapi sekarang kita memasuki satu jaman di mana pada usia belasan kematangan secara seksualitas sudah terjadi, tetapi mereka memiliki jarak waktu yang cukup panjang, 10-12 tahun untuk mempersiapkan diri masuk ke dalam pernikahan. Maka sebagai orang tua kita menyadari gap yang panjang itu dan mempersiapkan anak menjalaninya dengan sehat dan benar. Dari awal kita harus mengajar mereka bahwa ada relasi lawan jenis yang lain yang berupa pertemanan dan persahabatan tanpa memasuki relasi pacaran. Itu sebab banyak anak remaja, terutama yang pria, kadang-kadang awkward dan tidak memiliki kesiapan hati membangun relasi yang sehat dengan lawan jenisnya. Begitu dia tertarik dengan seorang gadis, langsung sasarannya adalah ingin menjadikan dia sebagai pacar. Apabila anak laki-laki tidak mempunyai konsep relationship yang lebih luas dalam bentuk pertemanan dan persahabatan, akhirnya mereka menjadi awkward dengan lawan jenisnya. Maka para pemuda, buka horison baik-baik. Tidak selamanya hubungan lawan jenis itu harus menjadikan dia pacarmu. Coba belajar menjalani pertemanan dengan benar. Dengan demikian dia bisa menjalani masa itu dengan membangun relasi sebanyak-banyaknya dengan orang lain, belajar mengerti karakter dan temperamen yang berbeda dan pada akhirnya nanti bisa menemukan seseorang yang dewasa dan matang dan siap untuk menikah dengan dia.

Saya selalu mengingatkan para pasangan di dalam kelas premarital, menikah itu bukan 1/2 + 1/2 = 1 tetapi 1+1=1. Di mana bedanya? Ada orang tua punya pikiran yang keliru, melihat anaknya kurang bertanggung jawab lalu memutuskan untuk mencarikan dia seorang istri untuk mengurus dia. Itu pikiran yang sangat salah. You tidak mungkin masuk ke dalam pernikahan untuk mengurusi orang lain jika mengurus diri sendiri saja belum mampu. Kita pikir seorang yang malas dan kurang tanggung jawab bisa berubah kalau mendapat istri yang rajin? Sering kita dengar kalimat seperti ini, ‘let marriage make him better’, ‘let marriage make her better.’ Itu salah. Yang benar adalah, how do you both can make your marriage better. Jangan terbalik konsepnya. Artinya if you can take care of yourself, you can prove yourself as a responsible person, bekerja dengan baik, itu artinya engkau siap untuk memasuki jenjang pernikahan.
Pernikahan adalah satu fase di mana kalian berdua sebagai dua orang yang dewasa, bertanggung jawab, matang dan bisa mengurus diri sendiri sekarang saatnya belajar mengisi apa yang dibutuhkan pasangan satu sama lain. Itu artinya 1+1=1. Walaupun akhirnya saya menemukan satu hal yang unik sekali di mana banyak orang menemukan pasangannya karena tertarik dengan dia secara ‘complimentary’ saling mengisi satu sama lain. Tetapi complimentary itu bukan karena saya tidak bisa masak, maka saya berusaha mencari istri yang pintar masak. Complimentary itu bisa terjadi di antara orang yang bisa jadi bertolak belakang sama sekali. Ada pria yang pendiam dan introvert tertarik dengan wanita yang talkative dan extrovert. Demikian sebaliknya. Tetapi saya ingatkan, kadang kala yang saudara rasa menjadi sumber daya tarik waktu pacaran, bisa jadi akhirnya menjadi sumber keributan di masa pernikahan. Ada wanita yang mengatakan dia tertarik dengan pria itu karena dia seorang yang ‘cool’ sedangkan dia sendiri orang yang emosinya meledak-ledak. Kalau menghadapi masalah, dia panik sedangkan pria itu bisa dengan tenang menyelesaikannya. Setelah 10 tahun menikah akhirnya itu yang menjadi sumber keributan di antara mereka. Suami yang tadinya ‘cool’ sekarang dianggap sebagai orang yang pasif, apatis, dan tidak mau tahu masalah keluarga, tidak mendukung istri yang setengah mati mengurus anak dan rumah tangga. Istri yang tadinya ‘talkative’ sekarang dianggap cerewet dan tukang marah.

Maka saya anjurkan jangan mencari pasangan karena engkau merasa ada kekuranganmu yang bisa dia isi. Sebaiknya bukan karena dia bisa memenuhimu, tetapi engkau sendiri sudah menjadi seorang yang utuh dan sekarang bersedia sacrifice membawa seseorang masuk ke dalam hidupmu untuk bersamamu saling take care satu sama lain. Kalau akhirnya dalam realitas pernikahan, hal yang tadinya membuatmu tertarik sekarang akhirnya menjadi sesuatu yang ‘annoying’ tidak menjadikan pernikahan itu kehilangan keindahannya. Ini blue print yang pertama, prinsip yang penting di dalam satu pernikahan yang tidak boleh saudara langgar. Kita keluar dari rumah, memasuki satu pernikahan yang bersifat adult relationship dengan lawan jenis. Itu merupakan relasi yang paling intim dan paling close. Tidak boleh ada relasi lain yang lebih intim daripada itu. Di situ saudara menyelesaikan permasalahan di antara suami istri sebagai dua orang dewasa dan bertanggung jawab.

Blue print kedua yaitu bicara mengenai ‘role’ atau peran kita di dalam pernikahan. Pada waktu Tuhan menciptakan kita dengan gender laki-laki dan perempuan, maka perbedaan gender itu bukan saja berfungsi sebagai complimentary bagaimana terjadinya hubungan seksual yang membawa kepada reproduksi sebagai kesinambungan eksistensi manusia, tetapi fungsi gender itu lebih daripada itu. Analisa memberitahukan kepada kita bahwa gender wanita dengan sendirinya membentuk cara berpikir dan ‘wire’ yang ada di otak kita bersifat feminin. Perbedaan itu akan membawa kepada role yang berbeda antara pria dan wanita. Sebelum terjadi interaksi antara pria dan wanita, kita perlu mengerti perbedaan ini dan mengerti akan role masing-masing sehingga interaksi itu menjadi lebih baik. Karena itulah yang namanya natur. Saya lahir sebagai pria, maka saya punya natur pria di dalam diri saya yang memiliki keunikan dan signifikansi. Demikian sebaliknya dengan istri saya.

Maka hidup pernikahan itu bukan saja menghargai pernikahan itu sendiri sebagai satu relasi yang Tuhan ikat secara permanen sampai kematian memisahkan kita, tetapi itu juga harus menjadi satu relasi yang harus kita kembangkan menjadi fulfill dan indah ketika kita berfungsi sebagai pria dan wanitia, suami dan istri yang seturut dengan apa yang Tuhan mau. Memang budaya memberikan kesempitan dan keleluasaan di dalam role pria dan wanita, tetapi sekali lagi kita harus menaruh pemahaman role itu di dalam kerangka firman Tuhan. Paulus berkata, “Bagimu sekarang berlaku hal ini: hai istri, hendaklah engkau menghormati suamimu sebagaimana kepada Tuhan dan suami, kasihilah istrimu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.”

Les Parrott mengatakan pernikahan itu seperti “Love Bank”. It depends on apa yang saudara berdua kerjakan di dalamnya. Kita tidak mungkin bisa masuk ke pada satu pernikahan yang sehat kalau bank cinta kita kalau saudara terus melakukan interaksi yang saling menyakitkan itu seperti saudara terus ‘withdrawal’ menarik dana dari bank itu . Tetapi kalau saudara memiliki interaksi yang menyenangkan dan baik, saudara seperti sedang memasukkan deposit ke bank saudara. Kalau saudara mau bank cinta itu penuh, dua belah pihak harus rajin menabung di dalamnya. Saudara mengeluh, “...Wah, susah pak. Saya yang terus menabung, dia yang terus ambil. Saya mau berbahagia, saya mau menyenangkan, saya terus menabung tetapi dia terus menciptakan interaksi yang menyakitkan sehingga tabungan cinta itu menjadi kosong.” Tergantung sekarang kalian berdua mau menaruh apa di bank cinta itu. Saudara terus menaruh hal yang menyakitkan, itu berarti saudara makin mengosongkan bunga cinta itu. Tetapi kalau saudara mau menaruh hal yang baik dan positif, saya percaya pernikahan itu masih bisa diselamatkan. Artinya, kalau sekarang bunga bank itu sudah negatif, masih ada harapan untuk dipenuhi.


Sekarang saya akan bicara secara spesifik mengenai role wanita sebagai istri. “Hai istri, berlaku prinsip ini bagimu: respect and honor your husband as to the Lord.” Ini bukan soal budaya Barat atau Timur. Baik buku konseling Kristen ataupun non Kristen semuanya setuju bahwa salah satu core yang paling penting dan yang paling diinginkan para pria dari istrinya yaitu dihormati dan dihargai. Tiga dari empat pria lebih suka mendapat istri yang hormat dan respek meskipun kurang cinta dibanding mendapat istri yang cinta tetapi kurang hormat dan kurang respek kepada suaminya. Berarti ada hal yang penting mengapa suami merasa kebutuhannya kurang terpenuhi padahal istri merasa dia sudah cukup memperhatikan dan mengasihi suaminya. Alkitab 2000 tahun yang lalu sudah mengeluarkan prinsip ini dan tidak boleh dibalik: hai suami tunduklah kepada istrimu dan hai istri kasihilah suamimu. Alkitab jelas mengatakan kepada para istri: respek dan hormatlah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Tunduk, respek dan cinta menjadi satu lingkaran yang saling berkaitan satu sama lain, menghasilkan relasi yang sehat atau tidak sehat. Itu sebab Dr. Eggerichs di dalam bukunya “Love and Respect” mengatakan ini menjadi satu lingkaran yang sulit dipecahkan dan jikalau lingkaran itu rusak, perlu keberanian dari salah satu pihak untuk memulai. Biasanya, kalau suami merasa istri tidak hormat kepadanya, itu akan membuat dia bereaksi menjadi dingin dan kasar kepada istrinya. Kemudian istri merasa suami yang dingin dan kasar itu menunjukkan suami tidak cinta kepadanya akhirnya bertendensi untuk berlaku kasar kepada suaminya juga. Akhirnya jadi lingkaran setan. Suami, kasihilah istrimu. Bagaimana saya bisa sayang kepada dia yang begitu kasar dan marah-marah melulu? Istri, hormat dan respeklah kepada suamimu, jangan suka kasar memotong perkataannya. Bagaimana saya bisa hormat kepada dia? Orangnya dingin dan arrogant sekali. Jadi siapa yang harus lebih dulu memulai? Kalau dua-dua tidak mau memulai, tidak akan bisa dibereskan sampai kapanpun. Dua inti ini penting. Istri memiliki kebutuhan untuk dikasihi oleh suami dan suami membutuhkan hormat dan respek dari istrinya. Istri berlaku menjadi tidak hormat karena di belakang dia merasa dia ingin sekali suaminya mencintai dia setulusnya. Suami mungkin berlaku dingin dan tidak ada kehangatan kepadamu karena di baliknya dia sangat rindu sekali engkau menghargai sedikit apa yang menjadi pendapat dan penilaian dia. Cuma itu saja.

Mana yang lebih gampang, mengasihi atau menghormati? Bagi sebagian orang, mengasihi lebih mudah daripada menghormati karena kita sudah dipatok dengan konsep ini, kita bisa mencintai secara unconditional tanpa pandang bulu, tetapi untuk menghormati seseorang, kita umumnya menaruh kualifikasi untuk seseorang itu bisa kita hormati. Love is given but respect must be earned. How can I respect my husband? He must earn it. Karena hormat itu mencakup aspek di mana dia perlu melakukan hal-hal tertentu, dia perlu memiliki sifat dan kualifikasi, baru dia berhak mendapatkan hormat dan respek dari aku. Itulah yang sehari-hari kita hadapi, betapa susahnya untuk memberikan penghormatan itu sebab kita sudah terjebak dengan konsep dia harus berusaha mendapatkannya. Maka kita menemukan betapa susahnya satu hidup pernikahan jika sebagai istri saudara mendapatkan gaji lebih tinggi daripada suamimu dan merasa diri lebih tinggi daripada dia, bagaimana bisa hormat? Mungkin istri mempunyai bakat dan talenta lebih banyak daripada suami, sehingga saudara rasa bagaimana bisa tunduk sama dia? Mengajar anak matematika, lebih pintar saya. Dia kalau mengajar, salah melulu.

Yang kedua, mengapa wanita sulit menghormati suami? Karena takut makin memberi hormat, kepala kita bisa diinjak suami. Nanti saya dijadikan ‘keset’ rumah tangga. Itu kan realitas dosa, pak, kita baik sama orang, kita kasih hati dia mau jantung. Kepada suami juga begitu, kita tidak boleh terlalu hormat karena nanti dijadikan keset kaki dia. Ini konsep yang keliru. Respek tidak berarti istri jadi budak. Respek tidak berarti posisi kalian menjadi tidak equal.

Yang ketiga, mengapa istri sulit untuk respek kepada suami? Di dalamnya ada unsur kecewa karena istri merasa sudah memberi kesempatan tetapi suami membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Sehingga akhirnya respek istri terhadap suami menjadi turun derajatnya. Itu sebab respek menjadi sulit diberikan pada waktu seorang istri merasa berapa batas dia harus mengampuni suaminya karena suami salah melulu. Hal-hal seperti ini terus diulang sehingga akhirnya istri jadi kehilangan respek. Jadi respek mengandung aspek lain yaitu kerelaan untuk menerima suami apa adanya walaupun itu tidak seturut dengan ekspektasi kita. Sulit luar biasa. Dua orang memasuki pernikahan kadang-kadang dengan high expectation. Kita pikir dengan menikah kita bisa memiliki hidup yang lebih baik tetapi akhirnya mungkin kita kecewa. Itu sebab kita akan bicara aspek yang lain lagi di dalam hubungan suami istri di mana pengampunan itu tidak boleh ada batasnya.

Yang keempat, mengapa istri sulit untuk respek kepada suami? Karena memang wanita itu diciptakan Tuhan memiliki keunggulan daripada pria di mana wanita bisa melakukan segala sesuatu dan di dalam segala hal punya bakat alamiah, termasuk dalam menjadi pemimpin, sedangkan laki-laki perlu proses belajar. Itulah susahnya, karena di dalam mengatur dan memimpin rumah tangga dan bahkan hampir di dalam segalanya wanita itu secara alamiah langsung bisa tanpa perlu diajar. Itu sebab itu kita bisa melihat sejak TK sampai SMP anak perempuan lebih pintar daripada anak laki-laki, lebih bisa memimpin dan mengatur secara alamiah. Maka kita sering melihat istri yang sangat pandai, mulai dari memasak, mengurus rumah, merawat anak, bahkan budget keuangan dan mengatur jadwal dan detail liburan begitu baik, sehingga di sinilah perlu kerelaan hati bagaimana menjadi pendamping. Suami yang akhirnya kalah cepat, akhirnya jadi kernet. Maka istri yang baik akan melatih suaminya sampai suatu kali menjadi suami yang cakap dan mahir. Itu artinya menjadi pendamping. Belajar membiarkan suami berkembang, trust kepada judgment-nya, encourage dia menjadi ayah dan suami yang mengatur rumah tangga dengan leadership yang baik. Itulah sikap yang penting dari seorang pendamping yang respek dan submit kepada suami.

Dengar baik-baik firman Tuhan bilang, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu,” bukan, “Hai suami, tundukkanlah istrimu.” Itu dua hal yang berbeda. Kalau itu dibalik, kita akan melihat ajang pertikaian yang tidak habis-habisnya, pergulatan di dunia persilatan yang tidak ada hentinya. “Enak saja saya harus tunduk kepada suami.” Memang benar, Alkitab tidak bilang hai suami, tundukkanlah istrimu tetapi hai istri, tundukkanlah dirimu. Jadi inisiatif itu datang dari istri. Memang itu adalah perintah Tuhan, sehingga kita sekarang melihat relasi istri yang tunduk bukan relasi karena suami lebih tinggi daripada dia tetapi karena istri sekarang melihat relasi tunduk itu seperti relasi dia kepada Tuhan. It is your own choice and your own freedom untuk melakukannya dengan sukarela. Jangan pikir saya memaksamu untuk melakukannya dan suami juga tidak boleh bilang, “Istri, ayo tunduk, taat perintah Tuhan.” Saya hanya mengingatkan sebagai seorang istri Kristen di hadapan Tuhan, it is now between you and God. Itu sebab sikap tunduk merupakan aspek spiritual. Itu bukan soal power karena tunduk, hormat dan respek bukan soal tarik-tarikan kekuasaan. Tunduk itu merupakan suatu pelayanan spiritual. Mari kita meletakkan kembali satu prinsip penting menjadi seorang wanita dan sebagai seorang istri di hadapan suami. Istri menjadi penolong, dan menjadi penolong berarti pernikahan itu tidak berjalan sepihak tetapi suami dan istri menjadi satu team. Di situ berarti istri menjadi satu team yang mendukung suamimu. Menjadi satu team berarti pernikahan adalah satu tempat di mana kita saling salib-salib. Istri bukan kepala tetapi juga bukan leher yang bisa atur suami semau dia. It is a spiritual service. Menjadi pendamping berarti your main ministry to God as a wife is a ministry to your husband and to your children. Jadi melihat role sebagai istri itu sebagai pelayan Tuhan. Itulah arti kalimat, ‘tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.’ Jangan lagi lihat bagaimana suami dan berhakkah dia menerima respekmu, tetapi sekarang taruh perspektif pelayanan ini. Sekarang waktunya untuk menaruh relasi yang indah dan yang bahagia sebagai seorang istri yang tunduk dan hormat kepada suami.(kz)

Sumber:
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/11/09/perspektif-dan-role-di-dalam-pernikahan/

Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ringkasan khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia tanggal 16 November 2008

Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen-3
Kasihilah Istrimu Seperti Dirimu Sendiri
oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.

Nats: 1Ptr. 3:7


“Demikian juga kamu hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu sebagai kaum yang lebih lemah. Hargailah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.”

Ayat ini menjadi salah satu dari dua blue print yang sangat penting bagaimana Tuhan bicara mengenai pernikahan orang Kristen dan relasi suami istri. Blue print yang pertama yang sudah saya katakan dari Kej. 2:24 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging.” Prinsip pernikahan Kristen adalah prinsip pernikahan di mana Allah memperlakukan kita sebagai manusia yang dewasa, manusia yang bertanggung jawab, yang diberi kepercayaan boleh masuk ke dalam satu relasi di mana relasi itu tidak boleh menjadi relasi yang egois karena di situlah saudara memberi diri kepada pasanganmu. Itu sebab Paulus di dalam surat Korintus mengingatkan kepada suami dan istri, “Hai istri, ingatlah baik-baik dirimu bukan lagi milikmu tetapi milik suamimu. Hai suami, ingatlah baik-baik, dirimu bukan lagi milikmu tetapi milik istrimu.” Maka pernikahan menjadi satu tindakan pergi meninggalkan orang tua. Ini bukan berarti kita tidak menghargai dan tidak peduli akan orang tua lagi, melainkan itulah saatnya di mana relasi anak dan orang tua sudah berubah menjadi relasi antar orang dewasa. “Meninggalkan” berarti dia membangun dan mempersiapkan satu keluarga yang baru. Pernikahan berarti bersatu dengan istrimu menjadi satu daging, tidak boleh ada setitik apa pun yang memisahkan suami dan istri. Maka komunikasi, keterbukaan dan relasi harus merupakan relasi yang jujur dan terbuka. Ini ditandai dengan keintiman di dalam relasi seksual sampai ke dalam seluruh aspek kehidupan, tidak boleh ada relasi yang lain yang lebih dekat daripada relasi suami dan istri. Kedua, mengerti role kita, panggilan Tuhan setelah Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan yang memang berbeda. Maka Tuhan memberikan role suami dan istri di dalam Ef. 5:33, ”...bagi kamu masing-masing berlaku prinsip ini: kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya.” Jika kita tidak mengerti role yang berbeda ini maka sering kali kita menemukan pernikahan mengalami berbagai hambatan di dalamnya. Dr. Eggerichs dalam buku “Love and Respect” mengatakan ini adalah dua inti dan dua kebutuhan yang paling penting bagi pria dan wanita. Tetapi ini justru bisa menciptakan lingkaran setan yang menimbulkan ketidakharmonisan di dalam keluarga. Istri yang merasa suami tidak mencintai, biasanya bereaksi menjadi kasar dan mengeluarkan kata-kata yang tajam. Ketika suami mendengar kalimat seperti itu, dia berpikir istri tidak menghormati, akhirnya dia bereaksi silent dan tidak mempedulikan istrinya. Reaksi itu kemudian diterima oleh istri sebagai reaksi suami tidak mencintai. Maka ini menjadi lingkaran yang tidak habis-habisnya.

Yang kedua, love dan respect merupakan dua kebutuhan manusia yang menarik. Respek sering kali tidak bisa diberi secara sukarela. Orang baru memberi respek kalau orang merasa dia layak dihormati. Respect should be earned. Sedangkan kasih sering kali lebih bersifat gampang dan sukarela diberikan, tidak peduli akan kondisi orang yang diberi kasih. Tetapi orang tidak mungkin bisa menghargai semua orang. Kita baru menghargai dan respek kepada seseorang karena ada kualitas di dalam diri orang itu. Maka kadang-kadang bagi seorang wanita tidak gampang memberikan respek kepada pria. Dan selain itu kita menemukan bukan saja terjadi perbedaan di dalam sikap orang, tetapi saya justru menemukan dari kalimat Paulus ini menunjukkan kebutuhan suami berbeda dengan istri dalam hal respek dan kasih ini. Kenapa Paulus tidak mengatakan, hai istri, kasihilah suamimu seperti dirimu sendiri? Dan kepada suami, kasihilah istrimu seperti engkau mengasihi Tuhan? Ini bagian yang menarik sekali di mana Paulus mengatakan, hai istri, respek kepada suamimu seperti engkau respek kepada Tuhan dan suami, kasihi istrimu seperti dirimu sendiri. Kenapa Paulus mengatakan seperti ini? Kasih itu merupakan aspek yang sangat natural di dalam diri wanita atau istri. Dan bagi wanita untuk mengasihi suami seperti mengasihi diri sendiri itu gampang dilakukan karena umumnya wanita lebih memikirkan bagaimana mengasihi suami dan anak lebih dari diri sendiri. Tetapi untuk respek bukan seperti menghargai diri sendiri, melainkan respek seperti kepada Tuhan, dari situ kita menemukan aspek betapa susahnya hal itu dilakukan. Hormati suamimu seperti engkau menghormati Tuhan, artinya respek harus diberikan tanpa melihat kondisi suami. Dia mungkin kurang memiliki talenta seperti engkau, dia mungkin kurang fasih berbicara, kurang natural di dalam banyak hal, perlu belajar lebih dahulu sehingga istri sering menjadi tidak sabar. Tetapi engkau perlu belajar menghormati dia karena itu adalah bagian dari ibadahmu kepada Tuhan. Respek menjadi kebutuhan pria yang paling penting.

Anak perempuan kalau jatuh, kita harus ambil dan peluk dia. Tetapi anak laki-laki kalau jatuh, saudara tinggal beri dia tepuk tangan, dia akan bangkit sendiri. Dia tidak perlu dipeluk-peluk seperti kepada anak perempuan. Dengan tepuk tangan, itu menunjukkan saudara respek kepada usaha dia dan membuat dia menjadi confident. Suami baru dipecat dari pekerjaan, istri tidak perlu peluk dan kasihan kepada dia. Beri respek dan support kepadanya karena itu yang paling dia perlukan. Wanita berbeda. Waktu dia menghadapi masalah, dia perlu tangan yang merangkulnya dan menyeka air matanya. Itu yang paling dia perlukan. Laki-laki hanya perlu apa pun yang terjadi, engkau tetap respek dan proud of him dan menghargainya. Itu yang akan membuat dia bounce back dan memiliki semangat serta martabat hidup kembali. Orang lain boleh bilang dia loser, orang lain boleh bilang dia tidak baik, tetapi istri tetap harus menunjukkan dia ada di pihaknya dan menghargai dia. Itu adalah sikap yang membangkitkan kemampuan di dalam diri seorang suami. Respek akan penilaian suami, respek kepada pengetahuannya, opininya. Percaya bahwa keputusan yang dia ambil adalah hal yang baik adanya. Kita berdiskusi dengan dia, sesudah itu kita memberi kepercayaan kepada suami untuk mengambil keputusan dan kita menghargai keputusan dia. Respek kepada kemampuannya. Just say ‘you can do it’ sehingga itu menambahkan perasaan harga diri kepada suami. Respek kepada suami di dalam komunikasi dan juga di hadapan publik. Jangan mengeluarkan kata-kata yang mempermalukan dan mencemooh kelemahan atau ketidak-mampuan suami di dalam aspek-aspek tertentu. Dia membutuhkan penghargaan dan respek as to the Lord, yang kadang-kadang itu sulit sekali dilakukan istri.

Tetapi suami, kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri. Harus kita akui, suami jarang memikirkan istri dan anaknya. Suami sering beli makanan hanya untuk diri sendiri, tidak seperti istri selalu beli untuk suami dan anak. Ini menunjukkan natur pria umumnya memang seperti itu. Maka Alkitab mengatakan, suami kasihi istrimu seperti engkau mengasihi diri sendiri berarti firman Tuhan mengingatkan kita ada hal-hal tertentu dari diri laki-laki yang mungkin sedikit lebih egois dan memanjakan diri sendiri. Hobi kita, kesukaan kita, menunjukkan kita lebih fokus kepada diri sendiri. Itu bisa kelihatan dari kecil. Anak perempuan saya setiap kali mendapat makanan yang enak, selalu mendatangi saya dan mengatakan, “Papa mau coba?” Anak laki-laki umumnya tidak rela memberi. Waktu sudah menikah, umumnya perempuan secara natural akan selalu ingat suami dan anak lebih dulu. Berbeda dengan pria. Kadang-kadang pria lebih absorb kepada diri sendiri daripada memperhatikan orang lain.

Mengapa firman Tuhan menyuruh suami mengasihi istri seperti diri sendiri? Dengan pencerahan dari Roh Kudus Paulus menulis kalimat ini. Mengapa suami harus mengasihi istri seperti diri sendiri? Karena pria lebih terhisab kepada dirinya sendiri. Saudara perhatikan bagaimana dosa membuat cara Adam berelasi kepada Hawa berbeda dengan sebelum dia jatuh ke dalam dosa. Sebelum jatuh ke dalam dosa, ketika Tuhan memberikan Hawa kepadanya, ada 2 hal yang terjadi. Pertama, Adam katakan, “Dia adalah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” She is part of my life. Dia adalah bagian dari hidupku. Dan kedua, Alkitab mencatat keduanya telanjang tetapi tidak merasa malu. Artinya, tidak ada bagian dari hidupku yang tidak saya share kepada dia. Ini terjadi sebelum Adam jatuh di dalam dosa. Sesudah jatuh ke dalam dosa, Adam mempersalahkan Tuhan kenapa memberikan Hawa untuknya. She is not part of me. Dia orang asing, dia bukan bagian dari aku. Maka terjadi separasi dan keterpisahan. Maka kenapa Alkitab menyuruh suami mengasihi istri seperti kepada diri sendiri? Karena itulah saatnya you memperhatikan dan mengasihi dia sebagai part of your life dan kasih itu memiliki standar seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Kedua, suami mengasihi istri seperti diri sendiri, karena kasih itu merupakan kebutuhan yang paling utama bagi wanita. Maka pria dan wanita mempunyai insecurity yang berbeda. Pria menjadi insecure kalau dia tidak dihormati. Wanita insecure kalau dia merasa tidak dicintai. Kenapa kita diminta mengasihi istri? Sebab ini merupakan kesalahan yang sering terjadi pada pria: mengerti mengenai cinta itu bersifat “close deal.” Istri sering mengeluh kepada suami, kenapa dia berbeda dengan waktu pacaran dulu. Bedanya di mana? Dulu waktu masih pacaran begitu romantis, begitu penuh pengorbanan dan waktu kejar saya seperti orang gila. Tetapi kenapa sesudah menikah kok tidak lagi romantis, kadang-kadang tidak mau berkorban? Karena pria punya konsep “berburu” dan “memancing.” Jadi pria berpikir mendapatkan seorang istri seperti berburu. Waktu berburu dia akan kejar dengan luar biasa, apa saja dilakukan, berdiri di tengah hujan memegang bungapun mau. Begitu dapat, itu kebanggaan luar biasa. Sesudah mendapat, selesai. Dulu waktu pacaran selalu buka pintu mobil, sekarang turunin pram saja tidak dibantu. Akhirnya ini menjadi sumber pertengkaran antar suami istri. Istri diperlakukan seperti itu menjadi insecure dan bertanya-tanya apakah suami masih mencintai dia. Kasih istri itu tidak pernah berupa “close deal.” Itu sebab mengapa sebagai seorang suami kita dipanggil untuk mengasihi dia. Bukan berarti kita mengasihi istri seperti pada waktu pacaran dulu. Yang dia perlukan adalah satu perasaan secure, dilindungi dan diberi keyakinan bahwa engkau mencintai dan terus mengasihi dia.

Ada suami mengatakan, bukan dia tidak mengasihi istri, tetapi kadang dia bingung karena istri salah menangkap makna. Buat apa saya susah-susah kerja kalau saya tidak sayang dia? Buat apa saya persiapkan semua untuk anak istri, itu kan tanda saya cinta dia? Saya setia sama dia, saya tidak lihat-lihat perempuan lain. Masa sudah mau tidur, masih dia tanya, “Do you still love me?” Maka saya bilang ke dia, “Coba cek saja bank account.” Dia malah marah saya bilang begitu. Suami, saya ingatkan saudara. Wanita tidak memiliki alasan logis. Suami tidak bisa bilang, “Kan you TAHU saya mencintaimu…” Dia akan bilang, “Saya tidak RASA you cinta saya.” Sampai kapanpun konsep wanita tidak pernah close deal mengenai cinta. Dia akan terus minta diyakinkan bahwa engkau terus cinta kepada dia. Maka Tuhan mengerti akan kebutuhan ini dan menyuruh para suami untuk mengasihi istri sama seperti engkau care terhadap dirimu. Buatlah dia merasa secure, merasa aman, merasa terlindungi danberi dia komitmen bahwa engkau sungguh mengasihi dia.

Apa indikasi dari seorang istri MERASA cinta suami sudah berkurang? Kadang-kadang waktu suami habisin semua makanan, dia tidak akan bilang “Dasar tamcia…” tetapi dia akan bertanya, “You sayang sama saya atau tidak sih?” Kita pria berpikir, masa makanan dibanding sama istri, tentu saja tidak. Dia akan terus bicara soal relationship denganmu. Kalau dia rasa mulai insecure, maka dia akan secara emosional dan tanpa sebab jengkel kepadamu, tanpa you tahu alasannya. You menjadi kaget dan mau mendekap dia untuk menunjukkan sayangmu, tetapi dia malah mendorong dan menjauh. Suami jadi frustrasi dan tidak mengerti apa yang istri mau. Kenapa istri bereaksi seperti itu? Insecurity in love merupakan hal yang terus ada di dalam diri wanita. Maka suami yang pikir kebutuhan finansial sudah dia penuhi, maka semua akan beres karena itu tanda cintanya kepada istri. Tetapi istri tidak puas dengan hal itu. Dia membutuhkan ekspresi yang lebih, pernyataan dan sikap care dari suami yang membuat dia feel secure akan cintamu.

Istri bisa merasa sudah kehilangan cinta dari suaminya karena beberapa hal:
1. Dipicu oleh konflik dan pertengkaran yang tidak habis-habisnya.
2. Dipicu oleh sikap suami yang menarik diri dan silent.
3. Kebanyakan istri menjadi insecure karena bank cinta istri sudah terkuras habis karena dia lebih sering mengambil dari bank cinta itu untuk membesarkan anak dan keluarga. Sehingga banyak aspek praktis yang perlu kita belajar sama-sama. Jangan biarkan bank cinta dia sampai habis. Caranya ambil sedikit beban dia untuk membantu membesarkan anak. Ambil separuh. Dari situ dia bisa melihat dan merasakan bahwa kita benar-benar mengasihi dan mencintai dia.

Kasihilah istrimu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Seumur hidup ini merupakan kebutuhan wanita yang paling penting daripada hal yang lainnya. Seorang suami tidak boleh “close deal” di dalam cintanya. Wanita meskipun sudah menikah tetap akan bangga kalau suami masih tetap “mengejar” dia. Maka saya selalu mengingatkan para pemuda, wanita walaupun engkau suka setengah mati kepada satu pria, jangan coba mengejarnya. Kalau dia tidak mau kepadamu, maka cintamu akan dihina habis-habisan. Lebih baik pria yang mengejar wanita. Waktu mengejar, jangan cepat putus asa kalau dia menolak. Mungkin artinya, kejarlah saya lebih keras. Maka waktu suami mau memeluk, istri menolak, jangan berhenti dan bilang “Fine!” karena istri akan semakin marah. Peluk dia, katakan engkau mencintai dia. Ingat, sampai kapanpun suami tidak boleh melupakan hal-hal penting di dalam memori pernikahan. Jangan pernah lupa hari pernikahanmu, jangan pernah lupa kapan hari kelahirannya. Dan bukan saja jangan lupa, juga harus paling sedikit ada kue untuk dirayakan. Semua itu akan menjadi bukti akan cintamu dan memberi dia rasa aman. Ingatkan dia, sampai kapanpun menjadi suamimu, saya adalah pria yang paling berbahagia di atas muka bumi ini. Hari ini pulang, coba keluarkan kalimat seperti itu kepada istrimu, then you will see a miracle happen. Memang mungkin reaksinya pertama, ”..ada apa ini? Pasti ada udang di balik batu.” Jangan di-offence dulu reaksi dia yang negatif karena mungkin sudah terlalu lama saudara melakukan “close deal” kepadanya. Maka saya memberikan rahasia ini kepadamu: wanita tidak akan pernah berhenti untuk diyakinkan bahwa dia sungguh-sungguh dicintai oleh suami, karena ini memang kebutuhannya yang paling utama. Suami, cintailah istrimu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.(kz)

Sumber:
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/11/16/kasihilah-istrimu-seperti-dirimu-sendiri/

Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen-4

Ringkasan khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia tanggal 23 November 2008

Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen-4
Lima Penghalang Di Dalam Pernikahan
oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.

Nats: 1 Petrus 3:7

Hari ini saya ingin mengajak saudara melihat bagaimana fakta dan realita efek dosa sudah mendatangkan kerusakan dan pencemaran di dalam seluruh aspek kehidupan kita dan tidak tidak terlepas relasi kita sebagai suami dan istri. Namun kembali lagi kepada prinsip kebenaran firman Tuhan, ketika Setan memberikan penipuan kepada manusia sehingga manusia jatuh ke dalam dosa, pada waktu dunia sudah dicemari oleh dosa, di dalam Kejadian 6:6 ada satu catatan yang sangat menarik. Dikatakan di sana, “Tuhan menyesal…” kemudian Tuhan mendatangkan air bah untuk menghukum manusia yang sudah begitu jahat. Yang menarik adalah setelah itu Tuhan mengadakan perjanjian kepada Nuh bahwa Tuhan tidak akan memusnahkan bumi dengan mendatangkan air bah seperti ini lagi dan memberi pelangi sebagai tanda perjanjianNya. Di balik dari konsep itu ada satu hal yang sangat penting sekali yaitu gampang sekali sebenarnya bagi Tuhan untuk membuang dunia yang sudah dirusak oleh dosa dan membuat dunia yang baru. Di dalam hidup kita juga lebih gampang untuk membuang sesuatu yang sudah rusak dan membuat yang baru daripada susah-susah memperbaikinya, bukan? Kue yang sudah gosong lebih baik dibuang saja dan buat kue yang baru karena memperbaiki sesuatu yang sudah rusak bukanlah usaha yang gampang. Tetapi Tuhan tidak melakukan hal seperti itu. Karena pada waktu Tuhan membuang dunia ini dan menggantinya dengan yang baru, secara implisit berarti Tuhan “kalah” oleh Setan karena Setan berhasil merusak ciptaan Tuhan yang baik dan Tuhan tidak sanggup memperbaikinya kembali. Tuhan tetap mengasihi dunia ini dan memperbaikinya dari kerusakan dosa. Itulah arti penebusan. Penebusan berarti merestorasi kembali semua yang sudah dirusak oleh Setan. Dengan konsep seperti itu, penebusan juga harus masuk ke dalam kehidupan pernikahan kita. Mungkin ada orang yang menghadapi pernikahan yang sudah rusak berpikir, jalan keluarnya ialah memulai satu pernikahan yang baru lagi dengan wanita yang lain atau pria yang lain akan menciptakan kehidupan keluarga yang lebih baik. Tetapi data statisitik perceraian di Amerika memberitahukan kepada kita bahwa prosentasi perceraian kedua lebih besar. Berarti asumsi bahwa pernikahan tidak mungkin lagi bisa diperbaiki, maka mungkin saya bisa mendapatkan kebahagiaan dengan memulai sesuatu yang baru, ternyata tidak seperti itu. Ada air mata, ada kesulitan di dalam memperbaiki sesuatu yang sudah rusak.Tetapi itulah konsep penebusan. Saya katakan dengan jujur kepada saudara, tidak ada satupun pernikahan yang tidak mengalami problema. Adanya problema di dalam pernikahan memberitahukan kepada kita satu fakta bahwa dosa merembes masuk ke dalam seluruh aspek kehidupan kita. Tetapi orang yang sudah ditebus oleh Tuhan harus mengambil sikap: kita tidak boleh dikalahkan oleh kuasa Setan dan kuasa dosa merusak kehidupan kita, karena kita percaya kuasa penebusan dan pengampunan Kristus lebih besar daripada itu. Jangan pernah menyerah. Dengan kekuatan dan pertolongan dari Tuhan kita bisa memperbaiki hubungan keluarga kita. Hari ini saya ingin mengajak saudara untuk melihat aspek bagaimana kita belajar mengenali dan mengatasi persoalan-persoalan yang muncul di dalam pernikahan kita.

Dalam 1 Petrus 3:7 ada bagian yang indah sekali di sini. Petrus mengatakan, “Hai suami, hargailah istrimu…” Dan ada 3 kaitan yang tidak bisa lepas dari ayat ini, yaitu pertama, hargai istrimu. Kedua, dengan menghargai istri engkau memelihara kehidupan. Ketiga, dengan demikian supaya doamu tidak terhalang. Tiga aspek ini saling terkait, yaitu bagaimana hubungan suami istri berkaitan dengan kehidupan kita dan bagaimana kehidupan kita secara horisontal ini berkaitan dengan hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan. Hubungan yang tidak beres di antara suami istri akan mendatangkan hubungan yang tidak beres dengan Tuhan, demikian sebaliknya. Hubungan spiritual yang tidak beres dengan Tuhan pasti akan mendatangkan hubungan yang tidak beres dengan suami atau istri. Maka pernikahan bukan sekedar kontrak di dalam masyarakat. Kita melihat melalui ayat ini sebagai suami istri yang membina keluarga Kristen, mari kita bawa konsep pengertian hubungan suami istri kita di bawah terang firman Tuhan. Biarlah kita ingin belajar bagaimana mengerti kebenaran firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kita sadar kasih dan hormat juga sudah dirusak oleh dosa. Karena itu biarlah kita meminta kepada Tuhan pada hari ini untuk memberikan kekuatan kepada kita supaya kita memiliki konsep spiritual untuk mengatasi hal ini.

Dr. Les Parrott dan istrinya menulis paling tidak ada 5 hal yang bisa menjadi penghalang di dalam kehidupan pernikahan Kristen:
1. Unfulfilled expectation, harapan-harapan yang tidak terpenuhi.
Secara jujur setiap orang terutama istri waktu memasuki satu pernikahan biasanya memiliki ekspektasi ideal terhadap suaminya. Istri ingin memperoleh suami yang ideal, yang gentleman, yang lembut dan melindungi. Itu sebab tidak heran film-film James Bond terus laku ditonton. Wanita mengidamkan suami seperti James Bond, yang humoris, yang macho, yang romantik, yang smart, yang selalu siap menolong setiap saat, dsb. Kalau kita sudah memiliki satu harapan yang ideal memasuki pernikahan, begitu menemukan realita yang tidak sesuai kita akan menjadi kecewa. Maka pernikahan menjadi satu tempat di mana kita terus meminta dia yang mengikuti apa yang kita mau.

Bagaimana menyelesaikan harapan-harapan yang tidak terpenuhi di dalam pernikahan? Banyak orang memasuki pernikahan dengan merindukan pasangan yang sempurna tetapi akhirnya kita menikah dengan orang yang tidak sempurna. Kita punya dua pilihan: pertama, kita sobek lukisan pria ideal itu dan terima pasangan kita yang tidak sempurna, atau kedua: kita sobek pasangan kita dan kita terus menatap lukisan pria ideal kita. Pilih yang mana? Yang harus kita pilih cuma satu: kita harus belajar untuk menyobek lukisan yang tidak sempurna itu dan belajar untuk menerima pasangan yang kita nikahi ini apa adanya. Kita menikah dengan orang yang tidak sempurna, suka marah, tajam bicaranya. Tetapi kita belajar untuk menyingkirkan semua hal yang tidak realistis di dalam pernikahan. Jangan berpikir cinta itu hanya punya satu style yaitu romantic love. Saudara akan belajar menemukan bahwa cinta itu akan mengalami perubahan bentuk.

Di dalam 1 Korintus 7:39 Paulus mengatakan, “...ia bebas menikah dengan siapa saja yang ia suka asal orang itu orang percaya…” Saya sangat kecewa kepada hamba-hamba Tuhan yang mengajarkan konsep yang sangat berbahaya bagaimana Tuhan memberi tahu mereka siapa orang yang Tuhan tentukan untuk menikah denganmu. Saya percaya Tuhan berdaulat mengatur segala sesuatu. Saya juga percaya Tuhan menentukan siapa yang Dia berikan untuk menjadi istri saya. Tetapi persoalannya, saya tahu siapa yang bakal menjadi pasangan saya. Maka saya selalu mengingatkan saudara baik-baik, mengerti kehendak Tuhan. Tuhan memiliki kehendak yang kekal mengatur jalannya alam semesta dan semua yang terjadi di dalam dunia ini, termasuk kehidupan pribadi kita masing-masing. Tuhan punya Sovereignty Will dan kehendak secara personal bagi saya. Tetapi persoalannya ialah saya tidak tahu bagaimana tahu kehendak Tuhan yang kekal itu. Jembatannya cuma satu: to know God’s personal will for me yaitu mengerti kehendak-Nya di dalam Moral Will. Yang dimaksud dengan Moral Will adalah kehendak Allah yang Ia nyatakan kepada kita yang kita dapatkan di dalam firman Tuhan ini.

Ada satu orang konseling kepada saya menceritakan bagaimana dia dihampiri seorang pria yang sama-sama melayani sebagai pemimpin pujian. Pria ini mengatakan, “Tuhan dengan jelas berbicara kepadaku bahwa di masa yang akan datang engkau akan menjadi istriku. Mari kita doa sama-sama supaya Tuhan menyatakan nubuat-Nya itu kepadamu juga.” Sebenarnya wanita ini tidak mau kepada pria itu, tetapi karena dibilang Tuhan sudah menyatakan nubuat kepada dia, maka wanita ini terkondisi untuk menaati apa yang pria ini bilang. Akhirnya mereka menikah. Singkat cerita pernikahan itu berakhir dalam dua tahun.

Point saya, bagaimana saudara tahu itu adalah kehendak Tuhan kepadamu? Kembali kepada ayat ini, di dalam Moral Will-Nya Tuhan memberimu prinsip ini. Artinya kalau engkau taat kepada prinsip ini, maka percayalah suami atau istrimu itu adalah pasangan yang Tuhan kehendaki bagimu. Firman Tuhan mengatakan, engkau bebas untuk memilih. Prinsipnya: kalian berdua harus saling menyukai. Jangan menikah dengan orang yang tidak engkau cintai. Kedua: dia harus saudara seiman. Selanjutnya baru saya ingatkan, saudara boleh pilih siapa yang kau suka dan yang seiman, tetapi pilih dengan bijaksana. Bijaksana artinya ketika engkau memilih, ada kriteria-kriteria yang perlu engkau pertimbangkan. Semakin dekat proximity kemiripan saudara dalam berbagai aspek akan meminimalkan pengorbanan untuk menyesuaikan diri dibanding dengan memilih pasangan dengan perbedaan gap yang terlalu besar. Aspek karakter, derajat kerohanian, maturity, tingkat ekonomi, pendidikan dan sosial, dsb jika semakin besar gap akan membutuhkan kerelaan kita untuk berkorban. Waktu saudara memasuki pernikahan dan timbul persoalan, jangan lepas prinsip yang di depan: saudara menikah karena cinta kepada dia, karena saya sudah memilih dia. Aspek itu harus menjadi satu kekuatan bagimu untuk rela menghadapi persoalan dan memperbaiki pernikahan itu. Saudara katakan, cintamu sudah menjadi dingin. Mari kita hangatkan lagi cinta itu.


2. Unexamined Self, diri yang tidak menganalisa diri.
Di dalam pernikahan ini menjadi kesulitan kita. Kita lebih gampang melihat kekurangan pasangan kita ketimbang kekurangan diri sendiri. Maka pernikahan membutuhkan kekuatan kita untuk berani melakukan self examination, berani melihat kekurangan diri. Pernikahan akan menjadi penuh dengan hambatan ketika kita berusaha untuk merubah pasangan kita dan tidak mau belajar merubah diri sendiri. Untuk menikmati satu pernikahan yang baik, masing-masing kita bersedia untuk mencoba mengoreksi diri. Paling tidak ada 2 aspek yang perlu kita analisa. Pertama, Blind Self. Diri kita bisa dilihat dengan jelas oleh orang lain, terutama oleh pasangan kita tetapi kita sendiri tidak melihatnya. Kelemahan itu jelas dilihat orang lain tetapi tertutup di depan mata kita. Istri selalu mengatakan , “You never listen to me,” tapi kita membela diri mengatakan semua kalimat yang dia ucapkan sambil memegang koran di tangan kiri dan remote tv di tangan kanan. Kita tidak pernah sadar sebab kita tidak melihat itu sebagai kelemahan kita, sehingga pada waktu kritikan muncul kita tidak mau terima. Biar kritikan yang datang kepada kita bisa kita jadikan informasi untuk menciptakan hidup pernikahan yang lebih baik.

Kedua, ada aspek yang dinamakan Hidden Self, aspek yang hanya kita sendiri yang tahu sedangkan orang lain termasuk istri atau suami tidak tahu. Kita tahu itu adalah kelemahan kita, cuma kita tidak berani bicara dengan jujur dan terbuka sebab kita takut ditolak oleh orang yang kita kasihi. Kita sungguh tahu itu ada di dalam diri kita tetapi kita tidak mau hal itu diketahui oleh istri atau suami kita, karena pada waktu kita kasih tahu kelemahan itu kepada dia, mungkin kita takut dia tidak mencintai kita lagi. Tetapi sering kali banyak pernikahan hancur dan pasangan menjadi kaget kenapa hal itu bisa terjadi keluar dari the hidden self. Ini merupakan salah satu faktor penghambat di dalam pernikahan.


3. Unskilled Couples.
Banyak pernikahan menghadapi halangan karena pemicunya sederhana, yaitu kita tidak memiliki skill yang cukup. Itu sebab kita perlu banyak belajar dalam hal ini. Menjadi seorang suami, kita perlu bertumbuh menjadi seorang suami yang baik. Menjadi seorang istri, kita perlu belajar menjadi seorang istri yang baik. Kita perlu punya skill dalam beberapa hal ini:
1. Managemen uang.
2. Ketidakharmonisan di dalam aspek seksual.
3. Hubungan dengan mertua.
4. Ketidakseimbangan di dalam rumah tangga dan pekerjaan.
5. Cara menyelesaikan konflik, komunikasi, kemarahan yang terpendam dan tidak pernah didiskusikan.
Ini semua merupakan isu-isu pemicu di dalam hidup kita yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan belajar menambah skill dan pengetahuan mengatasinya. Kita perlu mengerti bagaimana berkomunikasi dengan baik. Kita perlu belajar mengatur dan me-manage uang kita. Itu semua hanya soal skill saja.


4. Unhealthy Choices.
Banyak pasangan memiliki hambatan di dalam pernikahannya karena mereka kadang mengambil pilihan-pilihan yang tidak sehat. Salah memilih prioritas hidup, keputusan-keputusan hidup, dsb bisa menyebabkan keributan dan penyesalan dan saling mempersalahkan antar suami istri. Menceritakan rahasia pernikahan kepada orang ketiga, pekerjaan yang menyita waktu keluarga, pergaulan yang imoral dengan teman kantor, dsb. Kadang suami tidak membicarakan keputusan yang dia ambil karena merasa itu tidak signifikan untuk didiskusikan dengan istri. Demikian juga istri kadang mengambil keputusan sendiri dan ternyata menghasilkan efek yang negatif sehingga suami menjadi marah dan kecewa.


5. Unpredictable Factors.
Kita harus akui ada faktor-faktor yang tidak bisa kita predict dan tidak bisa kita rencanakan terjadi di dalam hidup kita. Kecelakaan, sakit, dsb semua hal-hal yang unexpected terjadi bisa membuat hubungan suami istri menjadi renggang dan rusak. Bayangkan, istri hari Sabtu pagi bilang kepada suaminya untuk bangun membawa anaknya jalan pagi. Suaminya enggan bangun, sehingga akhirnya anak itu dibawa jalan-jalan oleh nanny, dan hilang diculik. Saudara bisa bayangkan betapa sakitnya hati orang tua, betapa pilunya hati memikirkan hal-hal apa yang akan terjadi pada anak itu. Tetapi selain itu, istri akan mengatakan kepada suaminya, “Aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku. Gara-gara engkau mau tidur lebih lama, akhirnya…” Itulah yang terjadi. Suami dipersalahkan. Suami kemudian juga bereaksi mempersalahkan istrinya, akhirnya ribut satu sama lain. Mungkin soal ketidak-suburan bisa menjadi penyebab. Salah satu pasangan begitu menginginkan kehadiran anak yang tidak kunjung tiba. Itu mungkin bisa menyebabkan hubungan suami istri bisa menjadi renggang dan rusak. Anak memberontak, itu bisa menjadi penyebab kerenggangan di dalam hubungan suami istri. Bahkan mungkin hal yang sangat menyedihkan terjadi, suami menyeleweng dan menjadi tidak setia di dalam pernikahan.

Lima hal ini bisa menjadi penyebab kerenggangan di dalam hubungan suami dan istri. Berbagai masalah yang bisa muncul di dalam pernikahan saudara, jawabannya di tengah persoalan yang bersifat horisontal ini kita harus melihat secara theologis.
Pertama, terlebih dahulu kita taruh fakta ini, setiap pernikahan memiliki persoalan. Persoalan itu ditimbulkan bukan karena suami atau istri ingin menciptakan persoalan, tetapi kita sadar dan tahu betapa efek dosa memberi kerusakan itu. Sebagai anak-anak Tuhan, kita ingin menang mengatasi hal itu dan ingin berusaha bagaimana memulihkan hidup pernikahan itu. Ada air mata, ada kesulitan, tetapi sekali saudara akan menemukan betapa manisnya, betapa indahnya dan betapa bahagianya orang yang mendapatkan kebahagiaan itu lewat sesuatu perjuangan. Saudara akan melihat betapa indah dan manisnya keberhasilan dan kesuksesan yang bukan hanya diberi saja tetapi didapat lewat suatu perjuangan. Betapa indahnya saya mendengar kesaksian seorang suami yang menyatakan kesaksian bagaimana dulu dia sering ribut dengan istrinya tetapi sekarang mereka bisa menikmati hubungan yang begitu akrab dan manis. Memulihkan hubungan pernikahan membutuhkan satu kekuatan konsep yang tidak boleh lepas yaitu tidak ada hal yang bisa terjadi secara instant dan segera. Di dalam seluruh kehidupan kita, baik kerja, usaha,saya selalu mengingatkan saudara: failure is not falling down but staying down. Kegagalan berarti orang yang sudah jatuh tetap mau tinggal dan tidak mau bangun lagi. Hidup pernikahan kita juga sama. Tidak mungkin kita bisa melakukan dan memikirkan suatu pernikahan dengan cepat dan sukses tanpa kita berusaha menginginkan pernikahan itu sukses. Kita perlu kebesaran hati, kemauan, bekerja sama menjadikan hidup keluarga kita menjadi sukses.

Kedua, belajar dengan sungguh-sungguh menyelesaikan hambatan yang menjadikan pernikahan itu mungkin bisa tidak bahagia. Hidup pernikahan itu tidak mungkin bisa berjalan dengan baik sebelum engkau mengambil responsibility terhadap pernikahanmu. Jangan pikir konselor dan pendeta adalah juruselamat pernikahan kalian. Yang menyelamatkan pernikahanmu bukan saya, tetapi kalian berdua. Kalau dua-dua sendiri sudah tidak mau berusaha menyelamatkan, mau minta tolong siapa pun tidak ada yang bisa. Maka pegang prinsip ini: belajar untuk take responsibility for your marriage. Sebagai suami, sebagai istri, apa tanggung jawab saya? Apa yang menjadi panggilan Tuhan kepada saya di dalam pernikahanku? Saya mengingatkan sekali lagi, kenali dari awal apa yang menjadi penghalang. Ambil sikap demikian: ini pernikahan kami, ini keluarga kami, ini suami saya, ini istri saya, ini orang yang saya cintai. Kalau bukan saya yang berjuang dan berusaha menjadikan pernikahan ini menjadi indah dan baik, siapa lagi yang bisa dan mau? Kalau saudara merasa hubungan pernikahanmu mengalami fase musim dingin, tidak ada pembicaraan selain pertengkaran dan perdebatan, saudara mungkin memasuki hubungan di mana lebih baik berdiam diri ketimbang cekcok, saya hanya mengatakan semua berpulang kepada kalian berdua. This is YOUR mariage. Kalian bertanggung jawab dan tidak boleh mengatakan diri menjadi korban karena masing-masing adalah part of problem and part of solution.(kz)

Sumber:
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/11/16/kasihilah-istrimu-seperti-dirimu-sendiri/

Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

No comments:

Doa Hari Jumat, 3 April 2026

Doa Hari Jumat, 3 April 2026  (Jumat Agung)  Mengenang Salib Agung Kristus Allah Bapa Yang Mahakuasa dan Mahakudus...