*Berdoa Menantikan Allah*
“Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: ‘Tuhan, tolonglah aku.” Matius 15:25
Kadang kala doa yang meredup berasal dari kecongkakan – ‘mengapa saya harus menunggu Allah lebih lama lagi?’ Kecongkakan tidak suka menunggu. Hati anda mulai semakin tidak puas karena Allah membuat anda harus menunggu begitu lama untuk memperoleh satu belas kasihan. Ketidak-puasan melunakkan hati untuk menerima impresi berdosa dari sang penggoda.
Sebaliknya ingatlah apa artinya berdoa. Ini adalah permohonan sedekah, bukan menagih hutang. Apakah Allah mungkin menjadi kekurangan? Tidak sanggupkah kita menunggu perkenanan-Nya dengan sabar? Kepada siapakah doa kita ditujukan? Bukankah Dia adalah kemegahan langit dan bumi yang agung dan mulia? Bukankah ini menjadi kelancangan tak tertanggungkan bagi seorang hamba untuk mengeluhkan tuannya yang duduk terlalu lama dan membuat ia lama menunggu? Bukankah Dia Allah yang kudus, benar dan adil? Sudah tentu Dia tidak dapat dipersalahkan karena membuat anda berdoa, dan menunggu begitu lama, demi belas kasihan yang tidak layak bagi anda ketika akhirnya datang juga.
Bukankah Dia lebih berhikmat mengetahui kapan menentukan waktunya berbelas kasihan. Apakah anda ingin Allah merobohkan jangka providensi yang Ia pandang baik demi memuaskan ketidak-sabaran anda? Tentu saja ini adalah kebodohan karena menuduh Allah melakukan kekeliruan di dalam pemerintahan-Nya. Bukankah Ia adalah Allah yang setia, meskipun Ia tidak muncul seketika sesuai keinginan anda demi meredakan kesulitan anda? Di manakah Dia memberikan anda hak untuk menentukan tanggal pewujudan janji-janji-Nya dan hari pembayaran gaji? Tidak, Dia memang berjanji menjawab doa-doa anak-anak-Nya, namun merahasiakan waktu pertunjukannya. Hal ini menjaga sikap menunggu kita. Dia bukan ingkar janji ketika Ia menunda belas kasihan. Tugas kitalah untuk menunggu.
Pandanglah generasi para pencari [kebenaran], dan anda akan menemukan bahwa Allah melatih kesabaran mereka juga. Haruskah Allah mendirikan sebuah jembatan bagi kita tatkala beribu-ribu orang melangkah dengan susah payah melewati kedalaman kancah penderitaan? Bukankah Kristus sendiri adalah teladan yang melampaui semua teladan, menunggu, bahkan sampai di sorga, untuk jawaban atas doa-doa-Nya? Bukankah Allah telah menunggu anda untuk berbelas kasihan pada akhirnya, masakan berlebihan jika kita menunggu Dia menjawab doa kita?
William Gurnall (1617-1679), The Christian in Complete Armour, Bab II: hlm 518-520.

No comments:
Post a Comment