Saturday, April 27, 2019

Semakin Banyak Memiliki, Semakin Bersahaja!





Semakin banyak memiliki,
semakin bersahaja!


Benar sekali..!!


Coba rasakan dan lihat sendiri ketika ada orang yang belum memiliki apa-apa, ketika hidupnya terasa masih miskin sekali, ketika masih tidak punya apa-apa untuk makan saja sulit sekali, boro-boro makan di restoran, beli nasi padang yang murah meriah di warung sederhana, sebungkus segede gedebok, nasinya dipadatkan, di campur dengan rebusan daun singkong, disiram dengan kuah rendang yang kental mekrok, ya sudah itu saja menu makan sehari-hari nya, dia sudah merasa cukup bahagia karena bisa makan untuk bertahan hidup dan ada tenaga untuk bekerja hari demi hari. Uang gajian bulan demi bulan hanya lewat saja dan masih untung bila masih cukup menyisihkan sedikit untuk ditabung.

Sekarang orang itu sudah memiliki sedikit uang karena sudah bekerja, nasib membawa dirinya ke tempat yang lebih baik, dia diterima bekerja pada suatu perusahaan yang bonafide pula. Hidup ternyata berputar, kini ada pemasukan uang yang memadai untuk makan enak. Good bye masa lalu, lupakan nasi padang bungkus daun singkong! 

Aha, indahnya hidup ini. Pola makan pun berubah, asupan makanan kini lebih bergizi, pilihan lebih banyak dan mampu mencoba menu makanan dari sana-sini yang dulu belum pernah dan tak mampu di nikmatinya. Sekarang dengan mudahnya membeli kenikmatan makanan dengan mudahnya. 

Apalagi yang berubah? 

Selain pola makan, lingkungan sosial pergaulan juga berubah, tentu saja!! Misalnya kalau dulu berpakaian sangat sederhana dan sedikit banyak merasa kekurangan, agak minder, penampilan juga pas-pas-an saja, beli baju yang murah meriah, tas tentengan juga biasa saja kadang sudah butut dan itu-itu saja yang dipakai. Sekarang karena ada uang mampu membeli, mulai milih-milih barang yang ada kesan bergaya seperti yang dipakai oleh orang mampu beli, ingin lebih lagi bergengsi ke atas, mengenal tas bermerek yang macam-macam dari Gucci, Luis Vittong tong, Hermes kremes!! Selain itu perasaan melambung dia ingin pula orang lain harus tahu kalau sekarang diri nya mampu beli, mampu memilih, mampu membedakan harga, kualitas dan ada gengsi nya dibalik semua itu bila dipandang oleh orang lain yang tidak mampu beli. Gengsi itu memang bisa dibeli seharga uang yang dimiliki orang itu. Gengsi identik dengan show-off, yaitu pamer sekedar mendapat kesan lebih tinggian sedikit dari orang yang tak mampu beli. Bagi orang yang mampu beli tetapi merasa tidak perlu beli demi gengsi, orang itu sesungguhnya lebih memiliki dan berkualitas serta bersahaja! Itu lah sesungguhnya ciri orang yang kaya sekaya kayanya!

Lalu sekarang dia mau pakai kemana tas yang gonta-ganti bermerek branded itu? Mendadak menghadapi situasi kesenangan yang nikmat begini, dia bingung juga, sedangkan diri nya masih belum setara dengan golongan kaum sosialita yang dari sononya sudah beredar lama di lingkungan sosial pergaulan orang-orang mampu beli segala yang branded dari mulai tas, sepatu, baju, asesories, kosmetik dan lain-lainnya itu. Masa memakai tas branded jalan-jalan ke pasar becék?
Ibaratnya, masa memakai baju renang, jalan-jalan di tengah kota keluar masuk toko? Memang suka-suka orang sih tetapi masyarakat sosial akan menilai, karena manusia adalah mahluk sosial yang mempunyai nilai.

Ternyata .. dirinya masih tetap berkecimplung dengan pola pergaulan lama, yaitu masih di lingkungan yang dulu-dulu juga, masih dengan teman-teman sepergaulan nya yang suka makan nasi bungkus padang, iya ... tetap sederhana itulah , bahkan masih ada teman-teman nya yang berkutat merana dengan perjuangan hidup sehari-hari nya demi sebungkus nasi padang yang dibelinya di warung-warungan kumuh itu. 

Jadi ngak cocok ya bila jalan barengan, kasian temannya yang nggak mampu beli, bersanding terus-menerus berfoto ria bersama-sama dengan yang mentereng harum branded semua nya. Ibarat Bemo dengan Mercedes bersanding, satu kelihatan kumel murahan, yang satunya lagi bak berlian kinclong. Merusak image gengsi penyandang barang-barang branded ini mah!

Lambat laun, tema obrolan dan sikap nya juga berubah walau tidak mencolok namun kentara ada kesan yang simultan dia berada di lingkungan nya yang dahulu dikenalnya, seakan kini dia lebih menonjol dan lebih tinggian, dan sedikit bergengsi dibanding dari yang lainnya. Jadi terlihat dan terasa sedikit jomplang, labil dan perubahan yang mendadak ini rasanya menyenangkan namun juga tidak nyaman dirasa maupun dilihatnya oleh siapa saja. 

Di dalam masyarakat sosial itu memang ada kelasnya dan ada kesan tidak tertulis, dimana orang berkelas sosialita itu bukan lah orang yang hanya sekedar mampu beli, namun tidak mampu menembus masuk ke dalam kelas kalangan sosialita atau orang dari generasi mampu berduid sejak dari sononya, bukan itu definisinya! Bila sekedar ikut-ikutan saja, berfantasi sendiri, mungkin tidak bertahan lama dan lambat laun dia akan tercampak sendirian, nggak ke kanan dan juga nggak ke kiri, jadi dia akan kehilangan keseimbangan sosial di dalam lingkungan sosial pergaulannya. Sehingga dalam menjalani kehidupannya, dia akan banyak berpura-pura, membayangkan dirinya hidup seperti kaum sosialita namun sesungguhnya dia tidak mampu menembus kelas sosial tersebut. 

Nah hidup ngoyo seperti itu membuat diri sendiri tidak bahagia, tetapi mungkin mampu membuat bahagia semu sejenak saja, manakala tidak ada orang yang mengagumi atau memujinya, maka sekejap saja akan sirna rasa bahagia itu dan meninggalkan kehampaan yang mendalam, hati yang kosong tanpa pengakuan dari lingkungan sosialnya.

Menurut pandangan, kesan dan pengalaman orang yang telah memiliki segalanya yang mampu dia beli dengan uang, bahwa semakin banyak orang itu memiliki, semakin orang itu bersahaja!! 

Benar adanya!!

Moral of the story: 
Pedoman hidup berkelimpahan adalah sederhana dan bersahaja, apa adanya. 
Pilihan ada ditangan masing-masing! 

Len Klemstein
DA, 26.04.2019

No comments:

Doa Hari Jumat, 3 April 2026

Doa Hari Jumat, 3 April 2026  (Jumat Agung)  Mengenang Salib Agung Kristus Allah Bapa Yang Mahakuasa dan Mahakudus...