Thursday, January 30, 2014

MENERABAS BATAS


             
      
MENERABAS BATAS ?

Orang menamai dunia era saat ini: dunia tanpa batas. Sarana komunikasi sangat maju. Semua tempat saling terhubung. Semua pihak serba terkait. Jarak bukan masalah besar. Di sini ada, di sana juga tersedia. Yang di sini bisa kontak langsung dengan yang nun jauh di sana. Segala bentuk batas pemisah seolah lenyap. Baik batas geografis mau pun batas budaya. Antarbangsa bergaul saling membaur. Banyak terjadi kawin campur.Pokoknya, dinding-dinding pembatas runtuh diterabas.

Taman Eden menggambarkan kehidupan ciptaan Tuhan yang baik dan indah. Salah satu kunci perawat kebaikan dan keindahan itu ialah adanya batas yang jelas. Katakanlah ada seratus pohon di situ, sembilan puluh sembilan di antaranya boleh dimakan buahnya, kecuali satu. Satu yang dilarang itu menandakan batas yang ditetapkan Tuhan. Batas antara mana yang boleh dan mana yang tidak. Batas moral. Dan batas yang satu ini dilarang keras untuk diterabas.

Dunia tak berbatas memang banyak manfaatnya. Kita menikmati kemudahannya. Namun, tak kurang pula bahayanya, yaitu banyak hal melebur dan batas jadi kabur. Termasuk batasan moral. Nilai nilai terjungkirbalik. Baik dan jahat campur aduk membingungkan. Kebenaran tersamar. Maling berdasi. Koruptor rajin beribadah. Pernikahan sesama jenis. Jahat dibilang hebat. Pernikahan suci dimainkan dan dimanipulasi. Padahal, ingat, kehidupan yang Tuhan kehendaki adalah yang menghormati batas. Jangan asal main terabas. --Pipi A Dhali / Renungan Harian

HIDUP DI DUNIA TANPA BATAS
BUKAN BERARTI BATAS-BATAS MORAL PUN BOLEH DITERABAS.



.

Tuesday, January 07, 2014

BUKAN MANTERA


BUKAN MANTRA

Kaisar Menelik II adalah pemimpin besar dalam sejarah Afrika dan dikenal sebagai bapak modernisasi Ethiopia. Namun, konon ia memiliki kebiasaan yang ganjil: setiap kali sakit ia memakan beberapa lembar halaman Alkitab! Menelik sangat percaya lembaran Kitab Suci dapat menyembuhkan penyakitnya. Hingga suatu hari pada Desember 1913, ia sakit parah. Kali ini ia merobek seluruh pasal kitab Raja-Raja dan memakannya. Hasilnya? Ia meninggal!

Kita mungkin tidak bertindak seekstrem Menelik, namun kita sering memiliki kecenderungan yang sama. Banyak orang Kristen memperlakukan firman Tuhan seperti jimat yang dapat mengubah keadaan secara instan dan, parahnya, menurut cara yang mereka inginkan! Saya pernah mendapati orang yang menyimpan salib kecil dengan gulungan kertas berisi ayat Alkitab di dalam dompetnya. "Untuk membawa keberuntungan, " katanya. Bukannya mempelajari firman Tuhan agar hidup  mereka diubahkan, mereka mencuplik firman itu sesuka hati menjadi "mantra" atas hal-hal yang mereka kehendaki.

Firman Tuhan berfungsi menerangi dan memberi pengertian bagi hidup kita. Melalui firman, motivasi hati kita diluruskan, karakter kita dibentuk, dan kita dapat mengenal Tuhan semakin dalam. Hidup kita perlu diselaraskan atas firmanNya, bukan sebaliknya, kita mencuplik firman lalu memaksakannya agar sesuai dengan keinginan kita. Ya,  firman Tuhan bukan "mantra" yang dapat kita gunakan semau-mau kita.   Apakah kita sudah memperlakukan firmanNya dengan sepatutnya?

    FIRMAN TUHAN BERKUASA MENGUBAH HIDUP KITA MENURUT KEHENDAK-NYA,
                      BUKAN MENURUT KEHENDAK KITA.


Sumber: Hendro Saputro /Renungan Harian

.

Doa Hari Jumat, 3 April 2026

Doa Hari Jumat, 3 April 2026  (Jumat Agung)  Mengenang Salib Agung Kristus Allah Bapa Yang Mahakuasa dan Mahakudus...