Winston Churchill bukan hanya perdana menteri yang hebat, tetapi juga pribadi yang berintegritas tinggi serta menjaga sikap hormat saat berhadapan dengan lawan politiknya. Menjelang akhir masa jabatannya, ia menghadiri sebuah upacara kenegaraan. Beberapa deret di belakangnya, dua pria mulai saling berbisik. "Itu Winston Churchill." "Kata mereka ia sudah mulai uzur." "Harusnya ia sudah turun dan menyerahkan urusan bangsa ini kepada orang yang lebih dinamis dan lebih cakap." Ketika upacara usai, Churchill mendekati kedua pria itu dan berkata, "Bung, kata mereka, ia juga tuli!"
Desas-desus, kabar burung, atau cerita bohong tentang seseorang yang disebarkan dengan maksud menjelekkan atau mencederai reputasinya, termasuk dosa lidah yang dikecam dengan keras oleh Alkitab. Penyebaran kabar ini cenderung diwarnai oleh kebencian dan dendam pribadi. Menurut pemazmur, orang fasiklah yang gemar dengan aktivitas licik itu. Ia "duduk" -- mengacu pada sikap malas, pasif, dan berpuas diri. Akan tetapi, mulutnya aktif -- menyemburkan kejahatan. Dan, korbannya bisa bukan orang asing, melainkan saudara kandungny sendiri. Seperti musuh dalam selimut, ia menikam dalam kegelapan.
Kita mungkin seperti Winston Churchill, yang mesti cerdik berkelit dalam menghadapi omongan yang tidak nyaman. Namun, tidak jarang kita berada pada posisi dua pria pembisik itu. Ketika tergoda untuk menyebarkan cerita buruk tentang orang lain, pertimbangkanlah: Apakah cerita itu benar? Apakah itu berguna? Apakah itu menggugah semangat? Apakah itu perlu? Apakah itu baik? Jika tidak, lebih arif apabila kita menutup mulut.
APABILA ANDA TIDAK MENYEBARKAN FITNAH ORANG LAIN TIDAK AKAN DAPAT MENERUSKANNYA
(Charles Swindoll).
Sumber: Renungan Harian (19-02-2010)
Penulis: Arie Saptaji
No comments:
Post a Comment